Aku sudah selesai mencuci piring dan merapikan dapur bekas Ayah masak.
Ayah tengah duduk di ruang tengah menonton TV dengan kaca mata plusnya itu sewaktu aku keluar area dapur. Dia melepas pandangannya dari TV dan menatapku.
"Kamu jadi pergi? Nanti kamu pulang jam berapa?" tanyanya pelan, "boleh gak Ayah titip sesuatu?"
Niatnya aku mau diam di rumah, tapi kuurungkan.
"Titip apa?"
"Benang jahit krem," kata Ayah setengah berbisik.
"Benang jahit krem?"
"Iya, boleh gak?"
"Oke," jawabku mengiyakan, entahlah buat apa, toh hanya benang.
Aku kembali masuk kamarku, mengambil tas berisi dompet dan HP. Lalu berangkat menuju toko serba ada langganan tempat Ibu dulu.
Suara deru mesin motor yang kukendarai seolah meredam gemuruh di kepalaku. Sambil menarik gas membelah jalanan sore yang mulai jingga, pikiranku justru tertinggal di ruang tengah rumah. Pada sosok Ayah yang duduk sendiri menatap layar TV.