Rumahku?

SIONE
Chapter #6

Waktu

Lututku mendadak lemas. Aku oleng dan terhuyung mundur beberapa langkah, membuat Ayah menatapku dengan kerutan kaget di dahinya.

"Eh, Ayah tadi udah minta tolong kamu buat beliin apa belum, ya?" kata Ayah sambil menggaruk rambutnya, "udah ya?"

"Tadi Ayah udah ngomong pas aku selesai cuci piring." Aku menelan ludahku dengan susah, tenggorokanku mendadak kering. "Ayah inget, kan?"

Tatapan matanya kosong, kosong yang sama seperti waktu Ibu pergi dulu. Tatapan seorang pria yang mulai tersesat di dalam kepalanya sendiri.

Aku maju selangkah, mencengkeram kedua bahu Ayah dengan gemetar. "Ayah inget, kan, Yah? Iya, kan?"

"Ayah-"

"-tadi Ayah minta tolong pas di depan TV," potongku cepat sebelum Ayah menyelesaikan kalimatnya. Aku tertawa kaku, sebuah tawa yang kupaksakan agar hatiku tidak mendadak runtuh. "Ah, Ayah harus banyak makan ikan, nih."

Ayah sempat tertegun selama beberapa detik, lalu mencoba tersenyum tapi dapat kulihat matanya gelisah.

"Inget ... inget kok. Oh iya ya, aduh bener-bener," jawabnya, terkekeh pelan seolah menertawakan kelalaiannya sendiri.

"Ah, Ayah ada-ada aja," kataku sambil mengambil benang jahit krem yang sempat jatuh dari genggamanku tadi. "Oiya, ini benang yang Ayah pesen tadi. Udah aku beliin."

Ayah menerimanya dengan tangan gemetar. "Makasih, ya."

Lihat selengkapnya