Di sekeliling kami, denting sendok beradu dengan piring, tawa renyah dari meja sebelah terdengar bersahut-sahutan, dan aroma ikan bakar yang gurih memenuhi ruangan. Semua orang tampak bahagia, sangat berbanding terbalik dengan duniaku yang runtuh seketika.
Aku membeku.
Wajah panik Ayah waktu itu memukul kewarasanku. Di tengah riuh restoran, duniaku mendadak senyap. Kalimat Ayah terdengar sangat jelas dan berulang memenuhi telingaku.
"Le," panggil Ayah lagi, menarik paksa kesadaranku.
Aku menatap mata Ayah yang mulai berkaca-kaca. Ada ketakutan yang teramat tulus di sana. Beliau tidak sedang bercanda. Beliau benar-benar lupa kalau Ibu sudah tidak ada tiga tahun lalu.
"Ayah ...," suaraku tercekat di tenggorokan, nyaris tenggelam oleh suara musik restoran.
"Le, ayo disusul. Ibumu itu paling nggak bisa di tempat ramai, nanti dia bingung nyari jalan balik ke meja kita," desak Ayah lagi. Tangannya yang mulai keriput kini mencengkeram lengan jaketku erat-erat, gemetar karena panik yang luar biasa.
Detik itu, ponsel di saku celanaku kembali bergetar kencang. Panggilan dari kantor. Namun, suara getaran itu mendadak terdengar sangat jauh dan tidak berarti sama sekali.
Aku kalut.