Suara ayam tetangga mulai terdengar di kupingku. Kulihat sekilas jam di dinding, masih jam lima pagi. Aku beranjak bangkit dari sofa, kurasakan tubuhku jadi punya sensasi ringan melayang, efek tidak tidur semalaman.
Aku menghela napas dalam, sebelum akhirnya langkah kakiku itu membawa tubuhku ke dapur. Meski tidak luwes di area dapur, aku mau memasak nasi pagi ini. Aku ingin memulai hari dengan benar.
Sembari menunggu nasinya matang. Tiba-tiba aku rindu menu sarapan sat-set andalan Ibu dulu ketika ia bangun kesiangan. Kulihat bahan-bahan di dapur cukup lengkap untuk menu itu.
Aku mengambil 4 butir telur, kupecahkan semua dan menaruhnya di mangkuk untuk dikocok. Tidak lupa kutambahkan garam sesuai instruksi takaran Ibu dulu, rumusnya satu butir telur seujung sendok, misal keasinan, yah ... itu sudah bisa terbayang kalau yang memasak aku.
Tanpa sadar aku terkekeh, tiba-tiba teringat nasi goreng udang Ayah kemarin.
Aku masuk ke tahap selanjutnya, memotong bawang merah, bawang putih -kalau kata Ibu dulu, semakin banyak semakin enak. Setidaknya itu kupercaya sampai sekarang. Selanjutnya aku memotong cabai sedikit, aku ingin ada rasa pedas juga.
Setelah semua bahan siap, peralatan tempurnya kusiapkan dengan telaten, sebuah wajan anti lengket entahlah apa sebutannya dan sebuah sutil?
Ya, pokoknya itu.
Wajan sudah on the spot, sutil juga sudah di tangan kananku, dengan tangan kiri aku menuang minyak ke dalam wajan. Lalu kuhidupkan api di kompor.
Cetrak!
Wushhhh, apinya mengobar. Memberiku sensasi menjadi seorang chef profesional sekali pagi ini.
Setelah minyak di wajan cukup panas, kumasukkan bahan yang sudah kusiapkan tadi, mulai dari potongan bawang merah, bawang putih, dan cabai. Saat ketiga bahan itu mulai layu kumasukkan adonan telur yang sudah kukocok tadi, lalu kuorak-arik sampai tingkat kematangan yang kumau. Sentuhan terakhir, tuang kecap manis sedikit, diorak-arik lagi, dan selesai.