Rumahku?

SIONE
Chapter #18

Gelas

Aku mengusap kasar bekas air mata di pipiku.

Tidak ada waktu menyesal, sekarang yang paling penting adalah Ayah.

"Kata dokternya gimana, Pak?" Aku menatap Pak Usman sungguh-sungguh. "Ada jadwal kontrol ulang ke rumah sakit kapan?"

"Pergelangan tangan kanan Ayahmu bengkak, jadi dipasang bidai." Pak Usman mengambil sebuah amplop dari tas yang tergeletak di sofa. "Oh ya, ini hasil rontgen dan berkas pemeriksaan medis Ayahmu. Kata dokter satu minggu lagi harus kontrol."

Aku menerima dokumen itu. Benda sekecil itu sangat ringan, tapi nyatanya hatiku terasa begitu berat.

"Tadi Ayahmu sempat cerita, tangannya bisa bengkak itu karena dipakai nahan badan pas jatuh," kata Pak Usman sambil menghela napas. "Untung saya samperin ke dalam. Padahal kita tadinya mau mancing, saya tungguin di teras kok lama banget gak keluar-keluar. Pas saya cek ke dalam, eh, beliau udah jatuh."

"Biaya penanganan di rumah sakit tadi gimana, Pak? Sempat pakai uang Pak Usman?"

"Oh enggak, tadi pakai debit Ayahmu sendiri."

"Pak Usman, terima kasih banyak udah bantu Ayah hari ini. Saya enggak tahu harus ngomong apa selain terima kasih banyak."

Pak Usman menggeleng sambil memegang bahuku. "Jangan begitu, Gale. Sudah sewajarnya kita bertetangga saling bantu. Aku sama Ayahmu udah CS banget ini."

Setelah berbincang cukup lama dengan Pak Usman, aku mengantarnya sampai ke depan. Beliau pulang karena sudah larut malam. Aku segera mengunci pintu utama, kusandarkan tubuhku ke pintu, kutatap sekeliling isi rumah, hening.

Pikiranku kembali liar, dadaku kembali sesak, bagaimana jika ...?

Lihat selengkapnya