Hari ini kantor benar-benar berhasil membuatku sangat sibuk. Sampai-sampai aku belum sempat makan siang, dan sekarang sudah jam setengah tujuh malam.
Aku bertahan dengan air putih dingin seharian, kini rasanya perutku sedang melakukan protes keras.
Kruk kruyuk ....
"Kak, mending makan dulu deh."
Aku terkekeh.
"Lu denger?" tanyaku pada Fio.
"Siapa yang gak denger kalau sekenceng itu, Kak?" jawab Fio heboh.
"Tolong handle bentar ya, kalau misal ada telepon."
"Siap, sana makan dulu dah. Vampir lu," canda Fio. "Semangat bener disuruh-suruh buat kerja."
"Makasih, gue makan bentar."
Aku melangkah cepat menuju pantry kantor. Tanganku membuka lemari dapur, dan mengambil satu cup mi instan.
Aku tidak berharap banyak dari makanan apa yang bisa kumakan. Aku tidak terobsesi seberapa enak makanan yang masuk ke perutku. Aku juga tidak peduli seberapa sehat dan tidaknya makanan itu, toh fungsinya sama, hanya untuk mengisi perut.
Aku membuka tutupnya perlahan, seperti kebiasaan, aku hanya ingin tutupnya terbuka sempurna tanpa robek sedikit pun. Setelah itu aku menuang bumbunya, menyiramnya dengan air panas dispenser sesuai batas garis. Kemudian kututup pelan dan atas cup-nya kutimpa dengan garpu plastiknya.
Kunyalakan timer tepat 3 menit seperti instruksi bungkusnya.
Aku mengambil duduk di salah satu kursi pantry. Kubaca sekali lagi komposisi mi instan ini, sedikit kuhafal beberapa itemnya, saking lumayan seringnya aku makan mi ini di sini.