Rumahku?

SIONE
Chapter #17

Pecah

"Ayahku ...," tanyaku sekali lagi. Kali ini suaraku tercekat di tenggorokan yang mendadak kering. " ... di mana, Pak?"

Pak Usman segera bangkit dengan raut panik dari duduknya.

"Le, sadar, Le. Ayahmu ada di kamarnya," jawab Pak Usman buru-buru.

Kata-kata itu melucuti seluruh pertahananku. Lututku mendadak tak bertulang, dan sebelum sempat menyadarinya, aku sudah terduduk pasrah di lantai tanpa sisa tenaga.

"Le, gak ada apa-apa. Kamu napas, Le," pinta Pak Usman sambil mengusap punggungku. "Yang sadar, Le."

"Ayah ..., bener gak kenapa-napa, kan, Pak?" tanyaku, memeras habis sisa tenaga yang masih ada.

Pak Usman menghela napas dalam, kulihat dia ragu beberapa saat. "Iya, Ayahmu gak kenapa-napa. Kamu ... ayo bangun dulu."

Pak Usman membantu memapahku duduk di sofa. Dia mengambilkanku segelas air hangat. "Minum dulu, pelan-pelan."

Kalimat itu terdengar seperti tenang sebelum badai di telingaku, membuatku makin tak mampu untuk meneguk air setetes pun.

"Kasih tahu ke saya semuanya, Pak. Jangan ada yang ditutupi," pintaku mencoba tetap tegar.

Aku tahu ada yang salah di sini, dan itu tentang Ayah.

"Kamu yang kuat-"

"-saya kuat," potongku cepat.

Lihat selengkapnya