Tanganku gemetar, napasku memburu, ini memang bukan pertama kalinya, tapi aku masih tidak kuasa.
Bahkan menghadapi diriku sendiri rasanya sulit sekali.
"Maafin Ayahmu ini, Le." Suara Ayah terdengar berat sebelum ia melanjutkan langkahnya pelan masuk ke kamar, dan meninggalkanku dalam keheningan yang sesak.
Ingatan kejadian itu terlintas terus di otakku seperti kaset yang glitch.
Aku menelan ludahku cepat, kupikir kali ini kecemasan gila ini tidak akan berlangsung lama tapi yang ada pandanganku mulai mengabur.
Aku mengucek mataku sekali lagi.
Meja, monitor, kursi, buku, botol.
Tidak berefek.
Aku mengambil duduk, meskipun belum sepenuhnya tenang.
Aku mencengkeram pergelangan tangan kiriku, sakit. Kupegang erat ujung kain bajuku, lembut. Kugenggam botol minumku di meja, hangat. Kusentuh ujung permukaan meja kerjaku, keras.
Apa lagi?
Kutajamkan indera pendengarku, jam dinding itu masih berdetik, suara AC itu masih berdengung, tapi kenapa aku masih mendengar suara gelas pecah tiga tahun lalu?