Nasi di piringku sudah tandas. Ritual makan malam hari ini kuakhiri dengan menenggak segelas air putih. Perutku memang mulai terisi, tetapi aku sama sekali tidak bisa merasakan rasanya. Tubuhku telanjur lemas tidak bertenaga, bahkan untuk sekadar bangkit pun rasanya enggan.
Aku kembali melamun.
Aku mulai ragu pada diriku sendiri.
Tentang rencana yang ada di otakku, tentang ketakutanku, tentang waktu, semuanya bertabrakan seolah saling berebut perhatian.
Kupaksakan tubuhku bangun, mencuci alat bekas makanku, meletakkan sisa makanan ke kulkas, mengisi ulang teko minum di meja makan, dan mematikan lampu utama. Hingga di sinilah aku, di depan kamarku, terdiam cukup lama menatap ketakutanku sendiri.
"Kalau nunggu sempurna, kapan kita bisa mulainya?" kata Ibu menggema di kupingku sekali lagi seolah-olah aku terlempar kembali ke masa kecilku dulu.
"Ah ...." Tanpa sadar aku tersenyum, lalu mengangguk sendiri.
Aku sekarang jadi mengerti, ternyata perkataan itu tidak hanya berlaku untuk bumbu masak Ibu, tapi juga untuk apapun wujud hidupku.
Aku mengambil napas dalam dan menghembuskannya -meyakinkan diriku sendiri untuk mencoba berjuang sekali lagi.
Aku bergegas ke kamarku, membuka lemari paling bawah yang tidak pernah kubuka beberapa tahun terakhir ini, mengambil sebuah matras yang teronggok di sana.
Jika sebelumnya aku menunggunya membuka pintu, maka kali ini ... biar aku yang membuka pintu kamar Ayah.