Rumahku?

SIONE
Chapter #22

Kardus

Rasanya seperti mimpi.

Aku terbaring di kasur Ayah dan Ibu, sama seperti waktu aku masih kecil dulu. Mungkin bedanya adalah jika dulu aku hanya sepanjang guling, sekarang panjang tubuhku hampir mengisi penuh ukuran kasur.

Entah ini bagian dari halusinasiku atau bukan, aku melihat satu tangan Ayah yang tidak bibidai gemetar saat memeras handuk hangat itu dan meletakkannya di dahiku.

"Tidur lagi aja," kata Ayah lalu berdiri hendak pergi.

"Mau ke mana?" tanyaku cepat. Tidak tahu, kalimat tanya itu lolos begitu saja.

Ayah berhenti melangkah. Punggungnya yang bungkuk itu tampak menegang sejenak sebelum ia menoleh pelan.

"Mau beli bubur di depan," jawabnya singkat, suaranya terdengar serak menahan sesuatu. "Kamu istirahat aja. Badanmu panas."

Aku ingin melarangnya -mengatakan bahwa aku tidak butuh apa-apa dan dia tidak perlu repot- tetapi tenggorokanku terlalu kering dan sekujur tubuhku terlalu lemas untuk mendebatnya.

Ayah pun sudah keluar kamar meninggalkan aku sendirian.

Kulihat seisi kamar Ayah dan Ibu ini dengan teliti, persis, masih sama seperti dulu. Tiga tahun kepergian Ibu tidak mengubah apa pun kecuali keberadaan Ibu sendiri.

Ah, tunggu!

Kulihat ada satu kotak kardus yang dulu tidak ada, kini tergeletak di dekat lemari baju Ayah.

Rasa penasaran milikku lebih besar dari rasa ngilu di tubuhku. Aku bangkit, meskipun sedikit ada rasa melayang tidak menapak bumi, aku memaksa diri mendekati kotak itu.

Kotak kardus apa?

Lihat selengkapnya