Rumahku?

SIONE
Chapter #23

Cup-cup

Hari ini adalah keajaiban untukku.

Aku bisa tidur lagi tepat setelah sarapan dan minum obat demam tadi. Aku yang selama ini selalu susah untuk tidur, terlelap begitu nyenyak sekali. Insomnia tiap malam itu tidak tahu ke mana hari ini. Obat tidur yang kuminum setiap hari bahkan tidak berefek seperti kali ini.

Apa karena kamar ini?

Karena kamar Ayah Ibu?

Kuakui, wangi Ibu masih memenuhi ruangan ini. Entah karena Ayah yang masih piawai dan setia menjaga barang-barang mendiang Ibu atau mungkin juga ini cuma halusinasiku.

Aku tidak tahu.

Ayah tidak ada di sini, aku tidak tahu ke mana. Tepat setelah aku terbangun, rumah sudah kosong. Aku mengerjap beberapa kali sambil meneliti sekali lagi isi kamar.

Aku bangun dari kasur, berniat mau mengambil air minum di dapur.

Kepalaku kembali berdenyut, nyeri, pening, dan berputar. Meski tertatih, kupaksakan diri beranjak.

Samar-samar, dari arah dapur, terdengar bunyi prang-preng-prong piring bersahutan, disusul suara tak-tak-tak pisau yang beradu cepat dengan talenan. Bunyi ini bukan suara yang biasa Ayah lakukan. Spontan, dua alisku tertaut.

"Ini gak mungkin, kan," kataku tak percaya.

Langkah kakiku masih terhuyung, kupaksakan sekali lagi untuk melangkah cepat, aku ingin segera sampai ke dapur.

Mataku berair. Aku ingat dengan sangat jelas satu-satunya orang yang bisa membuat suara seperti itu siapa. Itu Ibu.

Setibanya di dapur, aku membatu melihat sosok yang sangat kurindu itu benar-benar ada dan menoleh ke arahku.

"Gale?" ucapnya.

Lihat selengkapnya