Ternyata butuh tiga hari untukku benar-benar sembuh dari demam, dan selama itu juga aku tidak cek handphone sama sekali. Ayah benar-benar tidak membiarkanku melakukan apa pun, dia memastikan aku benar istirahat.
Aku membuka mataku perlahan. Rasanya tubuhku sudah sedikit lebih segar. Infus di tanganku sudah tidak ada, aku bahkan tidak sadar kapan itu dicopot. Kemarin aku seperti dibius dosis tinggi yang artinya aku istirahat sangat lebih dari cukup dari 3 tahun terakhir ini.
Mataku masih berkedip pelan, menatap langit-langit, sembari mengingat kembali semuanya, sebisaku. Hal-hal yang terjadi sebelumnya terasa tidak nyata. Bahkan tubuh jangkungku yang masih terbaring di kasur Ayah juga terasa tidak nyata.
"Ayo kita mulai jalani semuanya bareng-bareng, gimana?" kata Ayah langsung mendekap tubuhku.
Tanpa sadar kedua sudut bibirku terangkat mengingat kalimat Ayah.
Kalau Ayah saja berani berubah, aku harus lebih berani, kan.
Pelan-pelan aku mendudukkan diri, meskipun tubuhku masih sedikit gemetar tapi kupaksa bangkit dan keluar kamar.
Hari ini aku harus berangkat bekerja.
Aku yakin, banyak kerjaan di kantor yang menungguku.
"Gimana hari ini?" tanya Ayah yang masuk kamar sambil membawa semangkuk bubur.
"Udah sembuh. Aku udah baikan," jawabku.