Rumahku?

SIONE
Chapter #26

Telepon

Sekarang aku sudah tiba di parkiran kantor. Berkat ingatan obrolanku dengan Ayah baru-baru ini suasana hatiku sedang bagus banget, jadinya sakitku yang belum sepenuhnya hilang itu tidak terlalu terasa. Langkahku juga terasa sangat ringan membuatku sedikit bersenandung kecil di sepanjang perjalanan.

"Pagi, Pak Sapto," sapaku pada security yang berjaga dekat pintu pagi itu.

"Pagi, Mas," jawabnya. "Wah lagi happy, nih."

"Hehe iya, Pak," sahutku sambil memberikan senyuman.

 Aku mendorong pintu kaca tebal itu, membiarkannya terbuka dengan hembusan angin yang tertahan oleh hidrolik pintu. Lalu masuk ke ruanganku yang entah kenapa hari itu rasanya beda, tidak seramai biasanya.

"Gale!" sergap Pak Rojak. "Ke sini sebentar!"

Aku menurut, masih merasa aman-aman saja, bahkan tidak merasa tersudut sama sekali dengan intonasi Pak Rojak yang sedikit meninggi itu. Padahal aku sadar betul, ini bukanlah tanda yang bagus.

"Tiga hari! Tiga hari loh kamu absen tanpa keterangan. Handphonemu gak bisa dihubungi," kata Pak Rojak sedikit keras, juga kesal. "Kalau gak masuk itu info! Emang kamu kira kantor ini punya nenek moyangmu? Seenaknya aja, kamu tahu gak seberapa chaos kita handle kerjaan kamu itu!"

Aku membatu sedikit bingung.

Bukan karena kantor yang chaos seperti ucapan Pak Rojak, bukan pula tentang rekanku yang handle kerjaanku.

Lihat selengkapnya