Orang-orang pikir rumah itu benda mati. Diam. Cuma numpang berdiri. Nggak punya pendapat soal siapa yang keluar-masuk lewat pintunya.
Mereka jelas belum kenalan sama aku.
Namaku Rumah Ingatan. Panggil aja Rumemo. Usiaku 175 tahun lebih tiga bulan, sudah ditawarkan ke enam keluarga. Alamatku, hm, kayaknya tukang pos bakal sulit menemukannya kalaupun aku kasih alamat ke kalian.
Aku sudah berdiri di ujung gang ini lebih lama daripada tetangga di kanan kiriku. Jangan bilang aku rumah tua, meskipun emang iya. Itu jenis kalimat yang biasanya dipakai hantu-hantu di sinetron buat kesan serem. Maksudku sederhana: aku sudah lama sekali menunggu penghuni.
Aku nggak nyari orang. Itu penting dicatat sejak awal, soalnya nanti bakal ada yang bilang aku "memangsa" atau "mengincar”. Jujur saja, itu agak menyakiti perasaan. Aku cuma menunggu. Persis kayak toko kelontong yang bukanya dua puluh empat jam, nggak teriak-teriak. Cuma nyalain lampu, buka pintu dikit, dan percaya bahwa cepat atau lambat, ada yang butuh masuk.
Yang datang ke sini selalu orang yang capek. Bukan capek abis lari pagi. Capek yang bikin orang berhenti nanya "kenapa" dan mulai nanya "gimana caranya biar berhenti sakit."
Malam ini, ada yang jalan sendirian, menyusuri gang yang katanya udah dia hafal. Padahal dia belum pernah nemuin aku. Aku nggak nampakin diri ke sembarang orang. Cuma ke yang capeknya pas takarannya. Terlalu sedikit, mereka lewat aja nggak nyadar ada cahaya di ujung gang. Terlalu banyak, kadang mereka udah nggak sanggup jalan sampai sini.