Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #1

63.971 Hari Aku Berdiri

Orang-orang sering mengira rumah, ya, cuma rumah. Bata, kayu, atap. Berdiri, kehujanan, selesai.

Sayangnya, anggapan itu nggak berlaku buatku.

Aku Rumah Ingatan. Nama itu kepanjangan sih, jadi beberapa orang manggil aku Rumemo. Aku nggak keberatan. Usiaku 175 tahun lebih tiga bulan, sudah dihuni enam keluarga. Alamatku, hm, kayaknya tukang pos bakal sulit menemukannya kalaupun aku kasih alamat ke kalian.

Aku sudah berdiri di ujung gang ini lebih lama daripada tetangga di kanan kiriku. Aku enggak akan bilang aku rumah tua yang serem. Yang aku maksud lebih sederhana dari itu: aku cuma nunggu penghuni baru.

Tiap malam yang enggak ada siapa-siapa lewat gang ini, aku tetep nyalain lampu jendela depan jam sembilan. Emang, sih, nggak ada yang liat. Aku juga enggak tau lagi ini nyala buat siapa. Tapi kalau lampu itu aku matiin duluan, rasanya kayak ngaku kalau aku kesepian, dan aku belum pernah sanggup ngaku itu keras-keras.

Kadang aku iri sama toko kelontong yang bukanya dua puluh empat jam. Dia enggak perlu nunggu-nunggu penuh harap kayak aku. Orang-orang emang butuh dia, jadi orang dateng sendiri, kapan aja, enggak peduli dia lagi pengen ada tamu atau enggak. Aku beda. Aku cuma bisa nyalain lampu, buka pintu dikit, terus percaya, cepat atau lambat, ada yang butuh masuk. Kalau enggak ada yang lewat malam ini, ya udah, aku nyalain lagi besok. Enggak ada pilihan lain buat rumah yang enggak bisa jalan ke mana-mana.

Yang datang ke sini biasanya udah kehabisan tenaga buat nyari alasan. Mereka berhenti nanya kenapa hidup jadi begini. Mereka cuma pengen tahu gimana, sih, rasa sakit bisa berhenti.

Lihat selengkapnya