Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #2

Sebelum Menghuni Aku

Wajah sembap dengan bekas luka itu. Bahkan sebelum dia sampai di depanku, aku udah tahu dari mana asalnya. Tanaman rambat yang menjalar sampai ke halaman ini nggak pernah pandai nyimpan rahasia. Apa pun yang mereka dengar, cepat atau lambat bakal sampai ke aku.

Kemarin, dia masih tinggal di komplek perumahan subsidi yang kehalang tembok dekat jalan tol, nggak jauh dari sini. Rumah itu dibeli dengan cicilan yang belum sempat lunas.

*

Kalau hidup ini toko, keluarga Rindu mungkin udah lama dipindah ke rak obral.

Tapi ternyata, buat hidup, itu masih belum cukup murah. Pagi hari ini, ada potongan harga baru lagi seolah hidup cuma pedagang jahat yang suka ngasih kesialan.

Tiga ketukan di pintu. Tegas, berjarak sama, kayak terlatih. Rindu buka pintu dengan rambut sekusut mi instan yang lupa ditiriskan.

Tiga bapak-bapak seragam biru muda berdiri di teras. Yang paling depan pegang map plastik tebal. Rindu udah hafal: map setebal itu isinya nggak pernah kabar baik.

"Dengan rumah Bapak Bagja Sertamulia?"

"Iya." Sayangnya iya, mungkin begitu batinnya.

"Mbak sendiri?"

"Saya Rindu Andaiwaktu, anaknya."

"Kami dari kantor lelang. Ini surat penyitaan resmi. Tenggat waktunya habis. Rumah ini disegel hari ini."

Belakangan, hidup memang hobi bilang waktu mereka habis. Padahal mereka belum sempat benar-benar ngejar apa-apa.

Rindu terima kertas itu, nggak benar-benar dibaca. Buat apa. Dia udah bisa nebak isinya dari jauh.

"Kak? Ada apa?"

Damba nongol dari kamar, masih pakai seragam sekolah kemarin. Rindu buru-buru narik adiknya masuk, sebelum mata separuh merem itu sempat baca nama ayah mereka, tercetak rapi berdampingan sama angka yang nolnya berjejer banyak.

"Sikat gigi dulu," katanya, ngedorong Damba ke kamar mandi.

*

Bagja baru keluar kamar setelah segelnya terpasang. Selalu begitu. Datang setelah semuanya telanjur terjadi. Dia baca surat itu pelan-pelan.

"Maaf," katanya. Nggak jelas ditujukan buat siapa.

Rindu nggak nunggu penjelasan yang toh nggak bakal datang. Buka lemari, tumpuk piring ke kardus bekas yang dia temukan di dapur.

Lihat selengkapnya