Wajah sembap dengan bekas luka itu. Aku tahu datangnya dari mana. Tanaman rambat yang menjalar sampai ke aku selalu jadi pembisik pertama yang membocorkan rahasia orang.
Kemarin, dia masih tinggal di komplek perumahan subsidi yang kehalang tembok dekat jalan tol, nggak jauh dari sini. Rumah itu nekat dibeli dengan sistem kredit. Belum lunas.
*
Kalau hidup ini toko, mungkin keluarga Rindu sudah lama masuk daftar: Barang Diskon 90%, Cuci Gudang, Buruan Dibeli Sebelum Kehabisan.
Tapi ternyata, buat hidup, itu masih belum cukup murah. Pagi hari ini, ada potongan harga baru lagi seolah hidup cuma pedagang jahat yang suka ngasih kesialan.
Tiga ketukan di pintu. Tegas, berjarak sama, kayak terlatih. Rindu buka pintu dengan rambut sekusut mi instan yang lupa ditiriskan.
Tiga bapak-bapak seragam biru muda berdiri di teras. Yang paling depan pegang map plastik tebal. Rindu udah hafal: map setebal itu isinya nggak pernah kabar baik.
"Dengan rumah Bapak Bagja Sertamulia?"
"Iya." Sayangnya iya, mungkin begitu batinnya.
“Mbak sendiri?”
“Saya Rindu Andaiwaktu, anaknya.”
"Kami dari kantor lelang. Ini surat penyitaan resmi. Tenggat waktunya habis. Rumah ini disegel hari ini."
Soal tenggat waktu yang habis ini, terlalu sering ditujukan buat dia dan keluarganya, seolah mereka kalah cepat dari tagihan meski udah kerja keras.
Rindu terima kertas itu, nggak benar-benar dibaca. Buat apa. Dia udah bisa nebak isinya dari jauh.
"Kak? Ada apa?"
Damba nongol dari kamar, masih pakai seragam sekolah kemarin. Rindu buru-buru narik adiknya masuk, sebelum mata separuh merem itu sempat baca nama ayah mereka, tercetak rapi berdampingan sama angka yang nolnya berjejer banyak.
"Sikat gigi dulu," katanya, ngedorong Damba ke kamar mandi.
*
Ayah baru keluar kamar setelah segel resmi terpasang. Telat, seperti biasa. Dia baca surat itu pelan-pelan.
"Maaf," katanya. Nggak jelas ditujukan buat siapa.