Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #4

Aroma Yang Pamit dari Hidungnya Malam Itu

Malam pertama itu, sehabis semua orang tidur, Bagja kebangun sebentar. Bibirnya bergerak pelan. "Ken..."

Hening sesaat.

Tangannya bergerak ke sisi ranjang, seolah ada seseorang yang biasanya tidur di sana. Tangannya berhenti di udara. Turun lagi. Napasnya juga turun. Matanya kebuka setengah, sebelum ngantuk narik dia balik.

Dalam setengah sadar itu, hidungnya nyari sesuatu. Refleks lama, dari bertahun-tahun tidur di rumah yang selalu ada sisa masakan Jumat sore. Sisa-sisanya nempel di udara kamar, di rambut, di baju yang belum sempat dicuci.

Enggak ada apa-apa. Cuma bau kasur baru, bau kayu yang belum lama dicat.

Dia enggak protes soal itu. Enggak sadar juga dia lagi nyari sesuatu. Tapi badannya, sesaat, kerasa nyampe di tempat yang salah. Bibirnya terbuka sedikit. Nggak ada suara. Lalu dia tidur lagi.

*

Aroma Sayur Lodeh, Milik Keluarga Sertamulia, Diambil Malam ke-1.

Sebelum pergi, dia mampir dulu sebentar di hidung Bagja. Sekali. Antusias, kayak orang yang pamit baik-baik sebelum beneran cabut. Bumbu dapur memang selalu pamitan, jauh lebih sopan daripada sebagian manusia. Dulu, tudung saji mereka paling sering ngeluh karena harus berbagi tempat dengannya.

Aroma itu udah tinggal di hidungnya bertahun-tahun. Tiap Jumat sore, uap santan selalu lebih dulu sampai ke kusen dapur sebelum suara Kenanga muncul. Kaos Bagja selalu kena cipratan santan tiap kebagian tugas ngaduk.

Lihat selengkapnya