Minggu pertama, aku masih hati-hati.
Enggak langsung kasih semuanya sekaligus ke keluarga ini. Orang-orang yang baru lepas dari masa susah itu merepotkan kalau dikasih kebahagiaan mendadak.
Meski begitu, aku beberapa kali ketauan udah nyiapin banyak hal. Aku sempet nyalain dua lampu tambahan di ruang tengah. Padahal satu juga cukup. Lampu sebelah kiri malah protes karena enggak kebagian nyala. Lampu memang gampang iri. Untung mereka enggak bisa pindah rumah.
Air panasnya selalu siap duluan. Aku sengaja. Orang bilang mandi air hangat bikin rileks. Aku enggak tahu benar atau enggak. Aku rumah, bukan dokter. Tapi selama ini belum ada yang komplain.
Kulkas selalu penuh, padahal enggak ada yang belanja. Kamar selalu dingin dan berangin. Aku tau, kok, berapa lama Rindu kegerahan di rumah lamanya karena enggak bisa bayar listrik.
Damba yang paling gampang. Anak kecil emang gitu. Enggak butuh alasan buat percaya sesuatu. Dia cuma butuh bukti kecil, terus hatinya udah kebuka lebar-lebar. Hari kedua, aku bikin dia nemuin sepeda tua di gudang belakang, masih bagus, cuma perlu dipompa anginnya dikit.
Dia teriak dari halaman, "Hore! Sepeda!" terus manggil kakaknya. “Kaaak! Sepeda!”
"Aduh. Jangan teriak-teriak," decak Rindu. “Biasa aja.”
“Ya udah, biasa aja.” Tapi Damba tetap lari muterin halaman tiga kali.
Rindu pengen nutup kuping waktu adiknya berteriak sekali lagi sebelum jatuh terjungkal ke rumput. “Sepeda, Kak! Sepedanya nggak bisa direm!”
Aku suka dengerin suara itu. Suara anak kecil yang punya cara sederhana buat bahagia.
Biasanya, kalau ada penghuni ketawa, aku bakal langsung ngukur. Berapa detik kebahagiaan mereka, berapa berat yang nyangkut di balik kebahagiaan itu, berapa lama sebelum kebahagiaan itu ditukar sama sesuatu yang bisa aku simpen. Itu cara aku kerja aja, kayak tukang parkir yang otomatis liat plat nomor sebelum liat orangnya.
Tapi teriakan Damba itu, entah kenapa, aku dengerin sampai abis dulu, baru aku sadar aku enggak ngitung apa-apa. Enggak ada yang aku catet. Enggak ada yang aku taksir harganya. Aku cuma dengerin, kayak orang yang kebetulan lewat depan rumah tetangga terus ikut senyum denger anak kecil ketawa.
Aku lupa aku ini rumah yang lagi kerja.
Dan sesudah itu, aku jadi punya kebiasaan baru yang enggak pernah aku rencanain: tiap sore, aku diem-diem nungguin suara ban sepeda itu digenjot di halaman, sebelum aku pindah ke kesibukan yang lain. Kalau Damba lagi enggak main, halamanku kerasa lebih lengang, padahal enggak ada yang beda secara fisik. Cuma kurang satu suara.
*
Bagja butuh waktu lebih lama.
Orang dewasa lebih ribet. Makin lama hidup, makin banyak alasan buat curiga sama hal baik. Tapi aku sabar. Aku selalu sabar. Hari keempat, aku bikin dia nemuin selembar iklan lowongan kerja terselip di antara koran bekas yang entah dari mana asalnya, cocok banget sama pengalamannya dulu sebelum usahanya bangkrut.
Dia mikir itu kebetulan. Padahal, enggak ada yang namanya kebetulan di rumah ini. Kebetulan itu cuma nama lain buat kerja lemburku. Orang-orang memang suka nyebut segala sesuatu yang kukerjain itu kebetulan. Biar enggak usah berterima kasih sama rumah.
Minggu kedua, dia dapet kerjaan itu. Kerjaannya kecil, cuma jadi admin gudang di toko bangunan tiga blok dari sini. Tapi buat orang yang udah setahun ini cuma dikenal sebagai "yang usahanya bangkrut", pekerjaan sekecil apa pun rasanya kayak diangkat lagi jadi manusia.
Malam itu dia pulang bawa gorengan buat anak-anaknya. Hal sepele. Rindu yang buka pintu, sempat berhenti sebentar di ambang, ngitung langkah ayahnya dari pagar ke teras tanpa sadar. Tujuh langkah. Biasanya delapan.