Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #5

Rumah yang Ramai Lagi di Hari ke 63.978 - 63.999

Minggu pertama, aku masih hati-hati.

Nggak langsung kasih semuanya sekaligus ke keluarga ini. Orang-orang yang baru lepas dari masa susah itu merepotkan kalau dikasih kebahagiaan mendadak. 

Meski begitu, aku beberapa kali ketauan udah nyiapin banyak hal. Aku sempet nyalain dua lampu tambahan di ruang tengah, padahal cuma butuh satu. Aku sempet ngangetin air lebih dari suhu yang biasa dipake orang mandi. Bukan salah itung. Aku cuma... kebawa semangat.

Jadi aku mulai dari yang kecil-kecil dulu. Air panas yang selalu ada tiap Bagja mau mandi pagi, padahal dia nggak pernah nyalain apa-apa. Kulkas yang selalu penuh, padahal nggak ada yang belanja. Kamar yang dinginnya pas. Kan, aku udah hitung berapa lama Rindu kegerahan di rumah lamanya karena nggak bisa bayar listrik.

Damba yang paling gampang. Anak kecil emang gitu. Nggak butuh alasan buat percaya sesuatu. Dia cuma butuh bukti kecil, terus hatinya udah kebuka lebar-lebar. Hari kedua, aku bikin dia nemuin sepeda tua di gudang belakang, masih bagus, cuma perlu dipompa anginnya dikit. Dia teriak dari halaman, "Hore! Sepeda!” terus manggil kakaknya.

Aku suka dengerin suara itu. Suara anak kecil yang punya cara sederhana buat bahagia.

Biasanya, kalau ada penghuni ketawa, aku bakal langsung ngitung. Berapa detik kebahagiaan mereka, berapa berat yang nyangkut di balik kebahagiaan itu, berapa lama sebelum kebahagiaan itu ditukar sama sesuatu yang bisa aku simpen. Itu bukan niat buruk. Itu cuma cara aku kerja, kayak tukang parkir yang otomatis liat plat nomor sebelum liat orangnya.

Tapi teriakan Damba itu, entah kenapa, aku dengerin sampai abis dulu, baru aku sadar, aku nggak ngitung apa-apa. Enggak ada yang aku catet. Enggak ada yang aku taksir harganya. Aku cuma... dengerin, kayak orang yang kebetulan lewat depan rumah tetangga terus ikut senyum denger anak kecil ketawa.

Aku lupa aku ini rumah yang lagi kerja.

Dan sesudah itu, aku jadi punya kebiasaan baru yang enggak pernah aku rencanain: tiap sore, aku diem-diem nungguin suara ban sepeda itu digenjot di halaman, sebelum aku pindah ke kesibukan yang lain. Kalau Damba lagi enggak main, halamanku kerasa lebih lengang, padahal enggak ada yang beda secara fisik. Cuma kurang satu suara.

*

Bagja butuh waktu lebih lama.

Orang dewasa lebih ribet. Makin lama hidup, makin banyak alasan buat curiga sama hal baik. Tapi aku sabar. Aku selalu sabar. Hari keempat, aku bikin dia nemuin selembar iklan lowongan kerja terselip di antara koran bekas yang entah dari mana asalnya, cocok banget sama pengalamannya dulu sebelum usahanya bangkrut.

Dia mikir itu kebetulan.

Nggak ada yang namanya kebetulan di rumah ini. Cuma aku yang lagi kerja.

Lihat selengkapnya