Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #10

Rasa Manis Asin Kaldu Tulang Ayam dan Rambut yang Memutih di Usia Tujuh Belas

Malam kesembilan, Bagja pulang bawa tulang ayam sisa dari Pak Anto, dikasih gratis. Dia inget, samar, dulu Kenanga suka rebus tulang ayam lama-lama buat kaldu.

Tangannya mondar-mandir antara gula pasir sama gula merah, kayak orang nebak jawaban ujian tanpa yakin sama sekali.

"Dulu yang mana, ya..." Dia ambil gula merah. Nyicip. "Ah, yang penting manis." Dia nyerah, nuang ke mangkuk. Enggak inget dia pernah protes soal rasa yang "kurang pas" ke istrinya sendiri, dan ketawa waktu dikasih tau itu sengaja.

*

Rasa Manis Asin Kaldu Tulang Ayam dan Sedikit Gula Merah, Milik Keluarga Sertamulia, Diambil Malam ke-9.

Aku ambil rasa itu pelan-pelan, tiap kali Bagja masak ulang dan hasilnya makin jauh dari yang asli. Sampai suatu hari dia lupa dia pernah bisa masak itu sama sekali.

Rindu yang paling terakhir ikut larut. Suatu sore, mulutnya setengah kebuka mau jawab, seolah ada suara teriak halus, "Rindu... gunting di mana?" Enggak ada siapa-siapa. Dia bener-bener enggak inget siapa yang biasa ngucapin kalimat itu.

Malam itu, diam-diam, dia keluarin buku catatan kecil dari bawah kasur. Ibu suka masak sup kacang merah. Ibu sengaja bikin rasanya kurang pas, biar Ayah terus nyariin kekurangannya. Ibu suka nyanyi pas nyuci piring, suaranya sumbang tapi Ayah selalu bilang itu suara paling merdu yang pernah dia denger.

Ibu...

Pensilnya berhenti. "Ibu wajahnya gimana, ya?" Dia enggak nulis pertanyaan itu. Cuma ngetuk pensil dua kali ke meja, terus nutup buku itu, naruh balik di bawah kasur.

Aku coba bikin dia ngantuk. Gagal. Aku tarik semua kantuk yang bisa aku kumpulin dari seluruh rumah, taruh ke satu kamar itu. Dia nguap sekali. Terus nulis lagi.

Cuma Rindu satu-satunya penghuni yang milih enggak ngerasain aku sama sekali malam itu, dengan cara paling keras kepala yang pernah aku liat.

*

Sore itu Rindu pulang sekolah, keujanan. Sepatunya masih basah waktu dia duduk di anak tangga teras. Bagja lagi jongkok ngukur-ngukur pilar kayu, rencana bikin bangku panjang yang udah tiga kali dia gambar ulang di buku sketsa.

"Kok basah? Lupa bawa—" Bagja berhenti. "Bawa apa, ya. Yang buat ujan."

"Payung," bantu Rindu.

"Nggak dibawa?"

"Kayaknya ilang, Yah."

"Nggak usah dicari. Ayah punya payung baru buat kamu." Dia baru inget dia punya payung cadangan hadiah distributor, masih tersimpan di toko.

"Nggak usah, Yah." Rindu ngucek rambut pake handuk. Sebenarnya mau bilang, karena Ayah sekarang juga sering lupa aku butuh apa. Tapi kalimat itu terlalu panjang buat diucapkan. "Ribet," katanya. “Lain kali, aku mau pake jas ujan bekas Ibu aja.”

"Kok nggak usah-nggak usah mulu, sih? Mana Ayah tega liat anaknya jalan kaki keujanan." Bagja mendesak, aneh, enggak biasanya dia ngotot.

“Besok, aku mau naik sepeda ke sekolah,” tukas Rindu. “Tapi nanti aku cek dulu. Harus dipompa, kayaknya. Keseringan dipake.”

"Ya udah. Pompa sepedanya di mana? Hari ini Ayah pompa. Kamu jangan bilang nggak usah lagi."

Rindu enggak bisa nolak. Aku buru-buru kempesin ban sepeda itu diam-diam, biar Bagja ngerasain ada peran ayah buat anak yang paling enggak suka direpotin.

Bagja berdiri di depannya. Mulutnya udah kebuka dikit, dan aku tau persis kalimat apa yang biasanya keluar dari situ.

Rindu Anak Ayah.

Yang keluar cuma: "Yang sabar, ya." Dua tepukan di pundak. "Semoga nanti kita punya mobil."

Rindu nunggu kalimat berikutnya. Enggak ada.

Ruang bawah tanahku makin penuh setiap hari. Dua toples berdampingan di rak yang sama: satu rasa, satu panggilan sayang. Dan aku mulai berhenti bertanya, apa lagi yang bakal ilang berikutnya.

*

Lihat selengkapnya