Tiga hari sesudah aku geser cermin itu, aku mutusin sesuatu.
Kalau diam-diam aja enggak cukup, aku harus ngomong langsung. Tentang sesuatu yang genting, yang mungkin bikin Rindu bakal mikir ulang soal kepergiannya dari rumah ini.
Aku naik ke kamar Rindu malam itu, nunggu dia beresin baju yang dilipetnya sendiri walau sebenernya enggak butuh dilipet ulang.
"Rindu… ada yang mesti kamu tau," ujarku.
Dia berhenti melipat. Enggak nengok ke dinding, tapi juga enggak lanjutin kerjaannya.
"Ayah kamu makin sering enggak keliatan," lanjutku, dan aku berusaha lebih tertata buat berkata-kata. "Maksudku, beneran ‘enggak keliatan’. Buram. Kamu tau maksudku, kan? Aku enggak bisa jangkau dia lagi kalau dia makin transparan kayak gitu."
"Kamu yang bikin ayahku kayak gitu, kan?" Suara Rindu datar. Bukan curiga kayak dulu. Dia enggak natap aku. "Kenapa kamu harus ngomong sama aku? Emang aku... emang aku kelihatan kayak orang yang belum cukup capek buat kamu tambahin lagi satu masalah?"
"Aku bisa kasih kamu kekuatan buat jaga dia," kataku, nawarin solusi. "Oke, aku minta maaf soal apa pun yang udah aku lakuin ke kalian, tapi aku juga tau kalau kamu enggak akan biarin salah satu dari keluarga ini ngilang, kan? Ini buat nahan ayah kamu.”
“Aku sama sekali enggak ngerti kamu ngomong apa.”
“Kamu bisa suruh ayah kamu tetep napak di tanah, enggak kemana-mana. Kamu bisa suruh Damba berenti kalau dia mulai ngamuk lagi. Kamu enggak akan pernah lagi harus lari-lari kayak waktu ayunan itu putus, karena kamu enggak akan telat buat lindungin siapa pun. Inget kamar boneka? Kalau kamu tidur di sana, kamu tinggal pake getar suara buat penuhin semua keinginan kamu, dan semua orang di alam semesta ini akan nurut."
Rindu naruh baju yang dia pegang. Pelan. Kayak dia takut kalau naruhnya kasar, tangannya bakal keliatan enggak stabil.
"Kamu nawarin aku buat jadi kayak… Bu Sukama," katanya.
"Aku enggak—" Aku berhenti sendiri, karena kalimat pembelaan yang biasanya udah antre di ujung lidahku, kali ini enggak nemu jalan keluar. "Iya," aku ngaku, akhirnya. "Kurang lebih gitu."
Dia ketawa. Bukan ketawa yang lucu. "Kamu inget enggak, kamu pernah bilang ke aku, kalimat yang sama, 'kamu bisa liat wajah Ibu kapan aja kamu mau'? Terus aku jawab, aku enggak mau kehilangan Damba dengan cara yang sama kayak aku kehilangan Ibu."