Kalau boleh jujur, ini bagian yang paling aku hindari.
Selalu ada satu orang di tiap keluarga yang matanya lebih tajam dari yang lain. Yang nggak gampang percaya sama kebahagiaan yang datang tanpa tanda tangan kontrak.
Di keluarga ini, itu Rindu.
Minggu kelima, aku mulai perhatiin dia suka berhenti di tengah aktivitas. Lagi nyapu, tiba-tiba diem. Lagi masak, tangannya berhenti di udara, kayak lagi nyari sesuatu yang tadi mau diambil tapi lupa apa.
Suatu sore, dia lagi bantuin Damba ngerjain PR di meja makan. Soal gampang, tentang keluarga. "Ceritain kebiasaan keluargamu," gitu instruksinya.
Damba nulis: Ayah suka renovasi rumah. Terus mandek. Pensilnya diketuk-ketukin ke meja.
"Kak, kalau Ibu, kebiasaannya apa?"
Aku denger jeda itu. Jeda yang lebih panjang dari yang seharusnya.
"Ibu... suka masak," jawab Rindu. Pelan.
"Masak apa?"
Jeda lagi. Kali ini lebih lama. Pensil Damba berhenti diketuk-ketuk ke meja, nunggu.