Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #12

Ingatan Sang Kepala Keluarga, Toples ke 11, Rak Nomor 304

Sore itu Rindu pulang sekolah, telat, keujanan di jalan. Dia masuk lewat pintu depan. Sepatunya masih basah. Dia duduk di anak tangga teras tanpa buka sepatu dulu.

Bagja lagi jongkok di sudut teras, ngukur-ngukur jarak antara pilar kayu pake meteran gulung, sesekali nyoret angka di kertas kalkir yang udah lecek kena angin. Rencananya, teras ini mau dia bikin ada bangku panjang di bawah jendela, biar sore-sore bisa duduk sambil nyeruput kopi kayak yang dia gambar di buku sketsa.

Dia nengok. "Kok basah? Lupa bawa—" Dia berhenti. Penggaris di tangannya diam sebentar di udara. "Bawa apa, ya. Yang buat ujan."

"Payung," bantu Rindu, ngelap wajah pake lengan baju.

"Iya, itu. Nggak dibawa?"

"Kayaknya ilang, Yah. Besok-besok aku mau pake sepeda ke sekolah dan beli jas ujan."

Bagja taruh meterannya di lantai teras, ngelap tangan ke celana, jalan ke arah anak tangga. Dia berdiri di depan Rindu, natap anaknya yang duduk kayak abis kalah lomba lari.

Ada satu detik, Bagja narik napas buat ngomong sesuatu. Mulutnya udah kebuka dikit, dan aku tau persis kalimat apa yang biasanya keluar dari situ.

Rindu Anak Ayah.

Tiga kata itu udah nyantol di ujung lidahnya. Aku bisa ngerasain bentuknya, kayak air yang udah sampai di mulut keran, tinggal diputer dikit lagi buat keluar.

Tapi yang keluar cuma:

"Yang sabar aja, ya." Dia nepuk pundak Rindu dua kali, terus balik jongkok ke sudut teras, ngambil lagi meterannya.

Lihat selengkapnya