Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #13

Kartu Ucapan yang Salah Alamat

Ada anak yang sengaja dorong Damba. Biasanya Damba nangis atau terpaku sambil nunduk kayak patung. Sekarang nggak. Dia cuma menatap benda-benda yang dia rasa pas. Tas anak itu jatuh sendiri. Buku-buku berhamburan.

Anak itu malu, sebelum ngeberesin buku terus lari-lari ke kantin.

Damba senyum kecil. Dia ngepalin tangan dan bilang, “Yes!” sama Toni. Semakin lama, Damba semakin ngerasa lebih kuat dari siapa pun meski badannya kecil.

Aku suka ini. Aku suka ekspresi anak kecil kalau lagi cerita.

*

Damba juga cerita soal tugas-tugas di sekolah.

Waktu itu, kata Damba, sekolah SD Sukarela Teristimewa lagi bikin acara semacam ungkapan apresiasi, buat tugas Bahasa Indonesia. Tugasnya gampang: bikin kartu ucapan buat "orang yang paling disayang." Gurunya bilang boleh buat siapa aja, ibu, ayah, kakak, nenek, siapa pun yang penting di hati.

Damba mikir keras di kelas. Pensil warna udah dipegang. Kertas kosong di hadapannya.

Anak-anak lain di sekitarnya udah mulai nulis "Untuk Ibu tersayang" atau "Untuk Ayah terhebat." Damba masih diam, melototin kertasnya.

Gurunya lewat dan nanya, "Damba mau bikin buat siapa?"

"Kak Rindu," jawab Damba, cepat, tanpa ragu.

"Oh, buat kakak? Kalau buat Ibu, gimana?"

Damba diam.

"Aku... emang punya ibu, ya, Bu Guru?"

Gurunya ketawa kecil, ngira itu candaan anak kecil. "Ih, Damba, semua orang punya ibu, dong."

Lihat selengkapnya