Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #28

Rem Motor yang Blong Persis di Tanjakan

Pak Yono enggak berhenti di rasa penasaran doang.

Malam itu, sepulang kerja, dia lewatin gang-gang di sekitar toko bangunan, satu per satu, nyocokin sama catatan kasar yang dia bikin dari cerita Bagja: gang tanpa nama, deket warung yang jual sayur, enggak jauh dari tembok pemisah jalan tol.

Dia nemuin Warung Mpok Ratna. Dia berhenti di situ, beli rokok yang enggak dia hisap, cuma alasan buat ngobrol.

"Mpok, kenal keluarga Pak Bagja? Yang tinggal di gang deket sini. Mantan mandor proyek, dua anak."

Mpok Ratna mikir. "Pak Bagja... oh, ya. Bapaknya Neng Rindu. Jarang, sih, dia beli rokok sini. Tapi pernah." Dia natap Pak Yono lebih lama. "Bapak kenal?"

"Kenal. Kerja bareng. Di toko material."

“Oh!” Mpok Ratna naikin suaranya, kayak nggak mau kalah. "Saya juga kenal banget sama anaknya. Langganan laundry.”

“Jauh, nggak, rumahnya?”

“Itu dia. Saya nggak tau. Bapak nggak duduk dulu aja? Mau beli kopi?” tanya Mpok Ratna, tiba-tiba ngincer pelanggan baru. “Kenapa pada nanyain rumah Pak Bagja, sih. Lebih nyaman di rumah saya. Hehehe.”

“Emang siapa lagi yang nanyain, Mpok?”

“Guru SD. Sempet nyasar juga dia nyari-nyari rumah.”

Buat Pak Yono, yang catatannya udah penuh sama detail-detail yang saling enggak nyambung, jawaban itu justru bikin dia makin yakin dia lagi deket sama sesuatu.

Dia keluarin buku saku dari sakunya, buka halaman baru.

Mpok Ratna: guru SD kesasar.

“Siapa namanya, Mpok?”

Mpok Ratna ngedikin bahu.

Pak Yono natap tulisan itu sebentar, terus nambahin, tintanya nekan lebih dalam: cari nama guru SD.

*

Lihat selengkapnya