Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #15

Ketemu Keluarga Nyang yang Kelewat Ramah dan Nggak Ngerti Cara Berantem

Aku yang atur pertemuan itu. Aku nggak akan bohong soal ini.

Rindu lagi jemur baju di halaman belakang. Tiga hari sebelumnya, aku udah bangun pagar pembatas antara rumah keluarga Sertamulia sama "rumah" keluarga Nyang. Bukan rumah beneran, cuma bagian lain dari diriku yang aku bentuk kayak rumah terpisah, biar tiap penghuni nggak sadar mereka tinggal di ruang yang sama. Tembok itu kukikis rendah, cukup buat Rindu bisa ngobrol lewat situ.

Bu Sukama lagi nyapu halamannya sendiri. Rapi. Tenang. Senyumnya nggak pernah ilang kayak lipstick yang tahan air.

"Sore," sapanya duluan.

Mereka ngobrol basa-basi. Rindu, yang udah lama nggak ngobrol sama orang dewasa selain ayahnya, seneng ada teman ngobrol baru. Dia ngenalin dirinya. Nama saya Rindu, katanya. Bu Sukama kasih kartu tanda pengenal dari sakunya, kayak orang kantoran.

Sukama Kanke Nyang.

Rindu baca kartu nama itu dengan mata segaris.

"Saya bikin nama baru sehabis pindah rumah," katanya.

"Nama ini yang kepikiran karena Ibu suka makan?"

"Karena saya suka makan."

"Makan apa?"

"Apa saja."

Rindu mendelik, kesal. Jadi, Rindu mutusin buat langsung ke topik yang dia penasaran. "Keluarga Ibu…"

"Kami jarang ribut," jawab Bu Sukama, ketawa kecil, kayak itu pencapaian yang wajar dibanggakan. "Anak-anak saya penurut semua. Suami saya juga tenang orangnya."

Rindu ngangguk-ngangguk. Pengen kagum, tapi belum.

*

Ada satu momen yang bikin dia gak jadi kagum.

Anak Bu Sukama yang tubuhnya lebih pendek dari Damba lari-lari dari dalam rumah. Wajahnya keriput buat anak seusianya, suaranya kayak nenek-nenek. Tangannya megang kemasan pizza kosong.

"MAMA! Aku masih laper! Pengen makan lagi. SEKARANG!" Kakinya udah siap ngentak-entak lantai. Kaki itu palsu, terbuat dari besi.

Bu Sukama nengok pelan. Senyumnya nggak berubah. "Sayang," katanya, dengan getar tertentu di bawah kata-katanya, "sebentar lagi Mama pesenin, ya. Sekarang main dulu."

Detik itu juga, anak itu berhenti. Bukan pelan-pelan kayak amarah yang reda. Berhenti total, seketika, kayak ada tombol dipencet. Wajah merahnya jadi datar, pucat. Air mata yang nyaris jatoh, berhenti di ujung mata, nggak jadi netes.

Lihat selengkapnya