Tiga hari sebelumnya, aku bangun pagar pembatas rendah antara rumah keluarga Sertamulia sama "rumah" keluarga Nyang. Bukan rumah beneran, cuma bagian lain dari diriku yang aku bentuk terpisah, biar tiap penghuni enggak sadar mereka tinggal di ruang yang sama.
Bu Sukama lagi nyapu halamannya sendiri. Rapi. Tenang. Senyumnya enggak pernah ilang, kayak lipstik yang tahan air.
"Sore," sapanya duluan, terus ngasih kartu tanda pengenal dari sakunya. Sukama Kanke Nyang. "Saya bikin nama baru sehabis pindah rumah."
Anak Bu Sukama yang tubuhnya lebih pendek dari Damba lari-lari, wajahnya keriput buat anak seusianya. "MAMA! Aku masih laper! SEKARANG!"
Bu Sukama nengok pelan. Senyumnya enggak berubah. "Sayang," katanya, dengan getar tertentu di bawah kata-katanya, "sebentar lagi Mama pesenin, ya."
Detik itu juga, anak itu berhenti. Bukan pelan-pelan kayak amarah yang reda. Berhenti total, seketika, kayak ada tombol dipencet. "...Oke, Ma."
Rindu, anak sulung yang udah pengalaman ngurusin adik, tau anak kecil yang tantrum berhenti sedatar itu bukan reda. Ini kayak lampu yang dimatiin.
Dia jongkok, coba kenalan. "Anak manis. Siapa namanya?"
Anak itu nunggu izin, natap ibunya dulu, baru jawab, datar, "Aku enggak punya nama."
"Kalau gitu," kata Rindu, hati-hati, "aku kasih nama, boleh?"
Anak itu ngangguk.
"Ikaga," katanya, entah dari mana kepikiran nama itu.
Bu Sukama langsung senyum lebar, kayak dikasih hadiah.
Beberapa hari setelahnya, dua kakaknya kena giliran yang sama. Origa, buat yang paling tua, yang terlalu sibuk lipat-lipat kertas origami jadi burung. Gugu, buat anak tengah, yang suka ngepit bola.
Rindu merhatiin, kakak beradik itu jarang berantem. Semuanya anteng dan tampak tenang di hadapan ibu mereka yang sering ketawa bentar terus murung, ketawa lagi, terus murung lagi.
Aku sendiri enggak nyangka nama-nama sembarangan bakal jadi identitas yang lebih nempel ke mereka. Nama asli anak-anak itu udah lama ilang dari kepala ibunya.
*
Beberapa hari kemudian, Rindu balik ke pembatas, iseng nanya, "Ibu dulu kerjanya apa?"
"Apa saja," jawab Bu Sukama, terus nada suaranya berubah jengkel waktu Rindu motong ceritanya. "Ibu dulu suka ribut sama orang. Ibu pernah gedor rumah orang tengah malam, gara-gara denger anak Ibu dipukulin—" Dia ketawa, keras, kasar di ujungnya.
Lalu berhenti. Di tengah. Kayak lampu dicabut colokannya.
"Ibu lupa lagi," katanya, senyum sopan, lanjut nyapu.
Malam itu, aku nyatet: Bu Sukama bukan cuma cangkang tenang. Ada sesuatu di dalamnya yang sesekali masih coba ngetuk.
Rindu jalan pulang, mikir sendiri: "Kalau aku terus-terusan capek kayak sekarang, kira-kira aku bakal jadi ibu-ibu yang senyumnya serapi itu juga, enggak?"
"Enggak," gumamnya, meyakinkan diri. "Eh, tapi... mereka enggak berantem bukan karena mereka saling ngerti. Tapi karena mereka udah enggak peduli.”
*