Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #22

Kamar Rahasia di Ruang Bawah Tanah yang Nggak Pernah Aku Tunjukin ke Siapa Pun Sebelum Ini

Bagja ngeraih tas tabung di kabinet kamarnya waktu dia nyari kotak pensil. Dia bentangin kertas itu. Ada gambar rumah. Judulnya: Rumah Bagja dan Kenanga. Bukan rumah yang mereka tinggali, tapi rumah impian.

Ada catatan kecil tercetak di sana: ruang baca buat Rindu, halaman luas supaya Damba bisa main, dapur ngadep matahari pagi, pohon mangga, kursi buat Kenanga baca buku.

Bagja tumbuh di keluarga yang sering pindah kontrakan. Jadi, dia tidak pernah punya rumah tetap. Sejak itu, Bagja pengen jadi arsitek dan ia pernah janji sama Kenanga. "Nanti aku bikinin rumah." Bahkan mungkin mereka pernah desain rumah impian bareng-bareng. 

Meski dia nggak lulus sarjana, dia bisa jadi mandor proyek. Dia mulai berhasil nyicil rumah di satu tahun pertama. Sisanya, sulit karena ia sendiri terlilit hutang. Karena itulah, rumah yang belum sepenuhnya jadi miliknya itu, disita. Dan, rumah impiannya bersama Kenanga, nggak pernah dibangun. 

Setelah Kenanga meninggal… gambar rumah itu, ternyata, masih ada.

Sekarang setiap melihat blueprint-nya, Bagja nggak ngelihat bangunan.

Dia ngelihat janji yang gagal dia tepati.

Terlalu menyakitkan buat dia kenang.

Seperti kalian tahu, ingatan-ingatan Bagja tentang rumah impian akan segera aku ambil kalau aja Bagja nggak kuat melek malam itu dan tidur di kasur miliknya.

*

Dan sampai malam ini, pintu menuju ruang misterius itu masih nggak bisa dibuka karena kenopnya macet.

Sewaktu Rindu kepikiran buat ngajak Damba pake kekuatan tatapannya, aku nyerah sampai-sampai pintu itu kebuka pelan sendiri. Aku nggak mau pintu beku itu meledak karena Damba ngerahin seluruh tenaganya buat lempar tabung gas dari dapur.

“Kenapa, Kak Rin?” tanya Damba setengah ngantuk saat dipanggil malam-malam. Siap-siap diminta yang aneh-aneh lagi oleh kakaknya. Sewaktu kakaknya nggak tahu bahaya pake kekuatan, dia sempet nyuruh Damba ngusir kecoak pake tatapan. Dua minggu berikutnya, jatohin cicak yang nempel di lampu.

“Nggak jadi,” jawab Rindu. “Kecoaknya udah kabur.”

Pintu itu sudah kebuka sendiri. Permukaannya meleleh.

Sebenarnya, ada semacam hukum tua yang mengikatku, yang bahkan aku sendiri nggak sepenuhnya paham dari mana asalnya: pintu ke ruang penyimpanan bawah tanah cuma bisa disembunyikan selama pemiliknya belum benar-benar siap mencarinya.

Begitu keinginan seseorang untuk tahu sudah cukup keras kepala, cukup jujur, hukum itu sendiri yang melonggarkan kuncinya. Bukan aku yang membuka. Aku cuma berhenti menahan.

Di balik lemari tua yang sekarang sudah lebih gampang digeser, ada tangga turun, spiral, lebih dalam dari yang seharusnya muat di bawah sebuah rumah sederhana. Satu di antara banyak tanda bahwa aku bukan sekadar kayu dan bata, tapi sesuatu yang lebih purba.

Rindu agak ragu di anak tangga pertama. Tapi dia udah gak mau ragu lagi. Jadi, dia terus jalan aja belakangan ini.

Lihat selengkapnya