Damba duduk di kamarnya, meluk lutut, denger suara Bagja dari ruang tengah lagi ketawa sendiri natap gambar denah yang dia coret-coret di halaman belakang buku sekolah Damba yang tergeletak di depan tivi. Enggak ada yang negur dia. Enggak ada yang bilang, "Jangan gitu, Ayah! Itu punya Damba."
Damba mikirin itu lama. Kenapa kalau Ayah yang aneh, itu dianggap sesuatu yang perlu dijaga? Tapi kalau dia yang aneh, itu dianggap sesuatu yang perlu dihentiin?
Dia enggak punya jawaban yang bagus buat itu. Yang dia punya cuma perasaan kecil, yang dia sendiri enggak yakin benar atau enggak, tapi tetap nempel: mungkin Kak Rindu emang cuma bisa ngelarang anak kecil.
*
Bagja ngeraih tas tabung di kabinet kamarnya waktu dia nyari kotak pensil. Dia bentangin kertas itu di lantai, nahan ujungnya pake lutut biar enggak nutup lagi. Ada gambar rumah. Judulnya ditulis pake huruf sambung yang keliatan dihapus-tulis ulang beberapa kali biar rapi: Rumah Bagja dan Kenanga. Bukan rumah yang mereka tinggali sekarang. Rumah yang enggak pernah ada.
Catatan-catatan kecil nyebar di pinggir gambar: ruang baca buat Rindu, halaman luas buat Damba lari-larian, dapur ngadep matahari pagi, satu pohon mangga digambar asal-asalan kayak ditambahin belakangan.
Jarinya berhenti di satu sudut, di gambar kursi kecil deket jendela. Ada panah kecil di sampingnya, tulisan yang lebih pudar dari yang lain, kayak ditulis pas tangannya udah capek: biar Ken enggak usah pindah-pindah kalau matahari geser.
Di balik lembar itu, terselip kertas lain—lebih kaku, lebih baru, dilipat kecil biar muat di gulungan yang sama. Bagja enggak buka lipatannya. Dia cuma nahan kertas itu di antara dua jari, lama, sebelum ngedorongnya balik ke dalam tabung.
Setelah Kenanga meninggal, gambar rumah itu ternyata masih ada.
Sekarang tiap ngeliat blueprint itu, Bagja enggak ngeliat bangunan. Dia ngeliat janji yang enggak sempet dia tepatin.
Ingatan-ingatan Bagja tentang rumah impian ini bakal segera aku ambil kalau aja dia enggak kuat melek malam itu dan tidur di kasur miliknya.
Bagja gulung lagi kertas itu, cepat, sebelum matanya sempat baca baris itu dua kali. Tangannya sedikit gemeteran waktu ngiket talinya, sampe dia harus ngulang dua kali buat bikin simpulnya bener.
Dia masukin lagi ke tas tabung. Enggak dikeluarin lagi malam itu.
*
Dan sampai malam ini, pintu menuju ruang misterius itu masih enggak bisa dibuka karena kenopnya macet.
Sewaktu Rindu kepikiran buat ngajak Damba pake kekuatan tatapannya, aku nyerah sampai-sampai pintu itu kebuka pelan sendiri. Aku enggak mau pintu beku itu meledak karena Damba ngerahin seluruh tenaganya buat lempar tabung gas dari dapur.
"Kenapa, Kak?" tanya Damba setengah ngantuk saat dipanggil malam-malam. Siap-siap diminta yang aneh-aneh lagi oleh kakaknya. Sewaktu kakaknya enggak tahu bahaya pake kekuatan, dia sempet nyuruh Damba ngusir kecoak pake tatapan. Dua minggu berikutnya, jatohin cicak yang nempel di lampu.
"Enggak jadi," jawab Rindu. "Kecoaknya udah kabur."
Pintu itu sudah kebuka sendiri. Permukaannya meleleh, kayak es yang kena air panas, terus ngeras lagi jadi bentuk lain begitu sentuhan Rindu lepas darinya.
Aku enggak nyuruh itu terjadi. Aku cuma berhenti nahan.
Di balik lemari tua yang sekarang sudah lebih gampang digeser, ada tangga turun, spiral, lebih dalam dari yang seharusnya muat di bawah sebuah rumah sederhana.
Rindu agak ragu di anak tangga pertama, ngitung anak tangga yang keliatan dari atas. Tujuh. Delapan, kalau termasuk yang gelap di ujung. Tapi dia udah enggak mau ragu lagi. Dia terus jalan aja.