Bagja ngeraih tas tabung di kabinet kamarnya waktu dia nyari kotak pensil. Dia bentangin kertas itu. Ada gambar rumah. Judulnya, ditulis dengan huruf sambung yang keliatan dihapus-tulis ulang beberapa kali biar rapi: Rumah Bagja dan Kenanga. Bukan rumah yang mereka tinggali. Tapi rumah impian.
Ada catatan kecil tercetak di sana: ruang baca buat Rindu, halaman luas supaya Damba bisa main, dapur ngadep matahari pagi, pohon mangga, kursi buat Kenanga baca buku.
Jarinya berhenti di satu sudut, di gambar kursi kecil deket jendela. Ada panah kecil di sampingnya, tulisan yang lebih pudar dari yang lain: biar Ken enggak usah pindah-pindah kalau matahari geser.
Bagja tumbuh di keluarga yang sering pindah kontrakan. Jadi, dia tidak pernah punya rumah tetap. Sejak itu, Bagja pengen jadi arsitek dan ia pernah janji sama Kenanga. "Nanti aku bikinin rumah." Bahkan mungkin mereka pernah desain rumah impian bareng-bareng.
Meski dia nggak lulus sarjana, dia bisa jadi mandor proyek. Dia mulai berhasil nyicil rumah di satu tahun pertama. Sisanya, sulit karena ia sendiri terlilit hutang. Karena itulah, rumah yang belum sepenuhnya jadi miliknya itu, disita. Dan, rumah impiannya bersama Kenanga, nggak pernah dibangun.
Setelah Kenanga meninggal… gambar rumah itu, ternyata, masih ada.
Sekarang setiap melihat blueprint-nya, Bagja nggak ngelihat bangunan. Dia ngelihat janji yang gagal dia tepati.
Seperti kalian tahu, ingatan-ingatan Bagja tentang rumah impian akan segera aku ambil kalau aja Bagja nggak kuat melek malam itu dan tidur di kasur miliknya.
Bagja gulung lagi kertas itu, cepat, sebelum matanya sempat baca baris itu dua kali. Tangannya sedikit gemeteran waktu ngiket talinya, sampe dia harus ngulang dua kali buat bikin simpulnya bener.
Dia masukin lagi ke tas tabung. Enggak dikeluarin lagi malam itu.
*
Dan sampai malam ini, pintu menuju ruang misterius itu masih nggak bisa dibuka karena kenopnya macet.
Sewaktu Rindu kepikiran buat ngajak Damba pake kekuatan tatapannya, aku nyerah sampai-sampai pintu itu kebuka pelan sendiri. Aku nggak mau pintu beku itu meledak karena Damba ngerahin seluruh tenaganya buat lempar tabung gas dari dapur.
"Kenapa, Kak Rin?" tanya Damba setengah ngantuk saat dipanggil malam-malam. Siap-siap diminta yang aneh-aneh lagi oleh kakaknya. Sewaktu kakaknya nggak tahu bahaya pake kekuatan, dia sempet nyuruh Damba ngusir kecoak pake tatapan. Dua minggu berikutnya, jatohin cicak yang nempel di lampu.
"Nggak jadi," jawab Rindu. "Kecoaknya udah kabur."
Pintu itu sudah kebuka sendiri. Permukaannya meleleh, kayak es yang kena air panas, terus ngeras lagi jadi bentuk lain begitu sentuhan Rindu lepas darinya.
Aku enggak nyuruh itu terjadi. Aku cuma berhenti nahan.
Di balik lemari tua yang sekarang sudah lebih gampang digeser, ada tangga turun, spiral, lebih dalam dari yang seharusnya muat di bawah sebuah rumah sederhana.
Rindu agak ragu di anak tangga pertama. Tapi dia udah gak mau ragu lagi. Jadi, dia terus jalan aja.
Di bawah, ada ruangan besar, jauh lebih besar dari luas rumah di atasnya.