Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #27

Ingatan yang Nggak Mungkin Aku Hapus Gitu Aja

Sepulang sekolah, Damba nyariin Rindu di teras, duduk di sampingnya, dan mulai cerita, hati-hati, kayak orang yang udah belajar dari pengalaman sebelumnya buat nyiapin kalimat sebaik mungkin.

"Kak, kemarin aku pake kekuatan pas di sekolah. Tapi bukan buat nyakitin. Toni digangguin, terus aku—"

"Damba." Rindu naruh gelas tehnya, lebih keras dari yang perlu. "Udah aku bilang berapa kali, kamu enggak boleh pake kekuatan itu."

"Tapi aku nolongin Toni, Kak, aku enggak—"

"Enggak peduli alasannya." Rindu berdiri, ngambil gelasnya lagi, siap masuk ke dalam. "Kamu enggak tau bahayanya kayak apa."

"Kakak enggak pernah denger dulu aku ngomong apa!" Damba akhirnya keluar juga suaranya, lebih keras dari yang dia sendiri duga. "Aku mau cerita kalau aku nolongin orang, Kak, bukan mau dimarahin!"

Rindu berhenti di ambang pintu. Buat sesaat, dia keliatan mau bilang sesuatu—mungkin permintaan maaf, mungkin penjelasan—tapi nggak berhasil. "Nanti kita omongin lagi," dan dia masuk ke dalam.

Damba duduk sendirian di teras, ngerasa kalimatnya yang tadi ngambang di udara enggak dijemput siapa-siapa.

Dia enggak nanya lagi. Dan malam itu juga, kekecewaan itu numpuk nggak karuan. Sampai akhirnya, di lapangan sekolah, tiga anak kelas lima balik dateng ke Toni, dan sesuatu di dalam diri Damba udah enggak lagi punya ruang buat nahan diri.

"Aku cuma mau bikin mereka kapok."

Damba berhasil bikin tiga anak kelas lima itu pulang dengan kaki pincang dan celana kotor. Kejadian itu sampai juga ke telinga kakaknya. Rindu cuma bisa ngomong, "Balas dendam enggak akan bikin kamu makin kuat."

“Aku nggak balas dendam.” Damba nunduk. "Kakak enggak tahu rasanya..."

Saat Damba mulai sedih, gelas geter, lampu ngedip, dan kursi geser dikit.

"Damba, mulai sekarang jangan dipake lagi."

Damba bingung. "Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

"Tapi aku enggak nyakitin siapa-siapa."

"Tetap aja jangan."

"Kakak aja boleh pake!" Damba mulai kesal. "Aku ngerasain, kok. Barusan. Waktu Kakak kayak abis lari."

Rindu diem sebentar. Itu tepat mengenai ulu hati. "Aku juga lagi berusaha berhenti."

"Kalau Kakak boleh, kenapa aku enggak?" Nada suara Damba mulai tinggi.

"Karena aku tahu bahayanya!" Rindu ikut meninggi.

Damba spontan ngepalin tangan. Meja di antara mereka bergeser sendiri. Kaki meja berdecit di lantai.

Kedua tangan Damba, yang lagi ngepel di sisi badan, ngangkat sendiri. Bukan dia yang gerakin. Tangannya kelempar sebentar. Jari-jarinya kaku kayak ditarik senar enggak keliatan, sebelum jatoh lemas lagi ke sisi badannya.

Damba natap tangannya sendiri, kayak baru ketemu orang asing.

"Itu... aku—bukan aku," desisnya. Matanya takut. Bukan takut Rindu marah. Takut sama tangannya sendiri.

*

Beberapa hari sebelum kejadian itu, Toni nanya ke Damba, waktu mereka lagi duduk di anak tangga teras, "Kamu kenapa akhir-akhir ini enggak cerita apa-apa lagi ke aku?"

"Cerita apa?" Damba pura-pura enggak ngerti.

"Ya, biasanya kamu cerita macem-macem.”

Damba natap ujung sepatunya. "Soalnya kalau aku cerita, nanti Kak Rindu tau, terus dia ngelarang."

"Ngelarang kenapa?"

"Enggak tau. Dia cuma bilang ‘jangan’."

Toni ngangkat bahu, enggak nanya lagi.

*

Beberapa hari sesudahnya, Rindu masuk kamar Damba mau ngajak dia mandi sore. Dia nemuin Damba lagi duduk di lantai, pura-pura lagi nelpon pake gagang telepon mainan bekas yang udah lama enggak nyala lampunya.

"Lagi teleponan sama siapa?" tanya Rindu, senyum.

Lihat selengkapnya