"Aku cuma mau bikin mereka kapok."
Damba cerita soal anak-anak yang sering ngebully dia. Rindu jawab, "Balas dendam nggak bikin kamu sembuh."
Damba nunduk. "Kakak nggak tahu rasanya…" Dia mungkin keinget semua ejekan yang dateng ke dia selama bertahun-tahun.
Saat Damba mulai sedih, gelas geter, lampu ngedip, dan kursi geser dikit.
"Damba, mulai sekarang jangan dipake lagi."
Damba bingung. "Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
"Tapi aku nggak nyakitin siapa-siapa."
"Tetap aja jangan."
Damba mulai kesal. "Kakak aja boleh pake! Aku ngerasain, kok. Barusan. Waktu Kakak kayak abis baru napas."
Rindu terdiam. Itu tepat mengenai ulu hati. "Aku juga lagi berusaha berhenti."
Damba ngerasa diperlakukan nggak adil. "Kalau Kakak boleh, kenapa aku nggak?"
Nada suara Damba mulai tinggi.
Rindu ikut meninggi. "Karena aku tahu bahayanya!"
Damba spontan ngepalin tangan. Meja di antara mereka bergeser sendiri. Kaki meja berdecit di lantai. Rindu kaget. Damba juga.
PRAANG!
Gelas di meja pecah. Mereka berdua langsung diam. Damba bahkan nggak sadar ia baru ngelakuin itu.
"Itu... aku nggak sengaja," desis Damba. Tapi matanya takut, bukan takut Rindu marah. Takut sama tangannya sendiri.
Dia lari ke kamar Rindu. Bukan kamarnya sendiri. Entah kenapa, kalau lagi kesel atau takut, kaki Damba lebih sering nganter dia ke situ, ke kasur kakaknya yang seprainya masih kerasa dingin kayak es tipis.
*
Beberapa hari sebelum gelas itu pecah, Toni nanya ke Damba, waktu mereka lagi duduk di anak tangga teras, "Kamu kenapa akhir-akhir ini nggak cerita apa-apa lagi ke aku?"
"Cerita apa?" Damba pura-pura nggak ngerti.
"Ya, biasanya kamu cerita macem-macem. Soal kelereng ajaib. Soal barang-barang yang nempel sendiri ke tangan. Sekarang kamu diem aja."
Damba diem sebentar, natap ujung sepatunya. "Soalnya kalau aku cerita, nanti Kak Rindu tau, terus dia ngelarang."
"Ngelarang kenapa?"
"Nggak tau. Dia selalu punya alasan." Damba narik napas, kesel yang nggak sepenuhnya dia ngerti sendiri dari mana asalnya.
Toni ngangkat bahu, nggak ngerti sepenuhnya, tapi dia nggak nanya lagi.
*
Beberapa hari sesudahnya, Rindu masuk kamar Damba mau ngajak dia mandi sore. Dia nemuin Damba lagi duduk di lantai, ngobrol sendiri, pura-pura lagi nelpon pake gagang telepon mainan bekas yang udah lama nggak nyala lampunya.
"Lagi teleponan sama siapa?" tanya Rindu, senyum, mencoba akrab.
Damba buru-buru taruh telepon mainan itu, kayak ketauan nyimpen sesuatu. "Bukan siapa-siapa."
Rindu micingin mata.
"Aku cuma lagi main," kata Damba, cepat, dan dia nggak natap Rindu waktu ngomong itu.
Rindu keluar kamar, manggil Damba buat siap-siap mandi.