Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #3

Kamar-Kamar dengan Kekuatan Ajaib

"Kamarnya sebelah sini," ajakku, buka pintu kedua dari lorong utama, paling deket tangga.

Dindingnya putih, ngilap, kayak dilapisin es tipis yang nggak pernah bener-bener leleh. Kasurnya sekeras kristal. Selimutnya terbuat dari lilin, kenceng dan licin. Kamar itu persis ruang tunggu rumah sakit yang belum pernah dipake. Hawanya menusuk.

"Dingin banget," gumam Rindu, meluk diri sendiri.

"Nanti juga biasa, kok," jawabku.

Kayaknya, Rindu udah berdamai kalau memang rumah ini berhantu, angker, atau bisa diajak bicara. Dia udah gak keringetan tiap ngobrol sama aku.

Aku enggak nunggu dia jawab. Aku udah keburu nyalain lampu tidur di sudut kamar, padahal belum diminta, kayak orang yang kelewat semangat beresin kamar tamu yang udah lama enggak kedatangan siapa-siapa.

Rindu duduk di pinggir kasur dengan satu tangan masih nempel ke dinding. Dan sesaat, dia diem. Bukan diem kayak orang yang lagi ngantuk. Diem kayak orang yang lagi nunggu sesuatu keulang lagi, buat mastiin dia enggak salah.

"Kayaknya dindingnya... berdenyut, deh. Sebentar." Dia nempelin telinganya ke tembok. Keningnya berkerut.

Aku nahan napas. Aku sendiri enggak yakin dia bakal denger apa. Kamar ini emang enggak sepenuhnya diem, meski enggak ada satu makhluk hidup pun yang tinggal di situ selama bertahun-tahun. Ada sesuatu di baliknya yang masih jalan pelan-pelan, kayak jantung yang lupa berhenti.

"Kayaknya cuma capek," gumam Rindu. Dia narik tangannya, milih enggak nanya lebih jauh. Dia terlalu lelah buat curiga malam ini. Dan aku, jujur aja, lega.

Kamar ini bukan kubangun malam ini. Udah lama ada. Pernah dihuni seseorang yang juga capek dikejar hidup sampai berharap 'waktu' berhenti sebentar. Sejak dia pergi, kamarnya nggak pernah berubah. Cuma nunggu orang berikutnya.

Rindu belum tahu, malam itu, apa yang bakal keluar dari kamar ini. Dan kayak semua pemberian yang kelihatan terlalu baik, selalu ada sesuatu yang pelan-pelan ikut hilang.

*

Damba digendong Bagja dalam keadaan udah setengah tidur. Aku ajak mereka ke ujung lorong. Di kamar itu, ada jaring-jaring lebar digantung dari empat sudut ruangan. Lentur, dan bergoyang pelan ketiup angin.

"Aku… boleh tidur di… ayunan?" Damba kelewat ngantuk buat beneran heran.

"Biar tidurnya enak," jawabku sambil nutup jendela.

Lihat selengkapnya