Minggu keenam, di malam Rabu, keluarga itu lagi anteng makan. Bagja tanpa sadar ngambil tisu. Dengan pulpen yang dia ambil dari saku bajunya, dia mulai ngarsir denah rumah. Jendela, tangga, ventilasi, sampe ukuran ruang, rapi kayak gambar teknik.
Rindu ngelihatin ayahnya dengan heran. "Ayah gambar rumah lagi."
Bagja baru sadar. Cepat-cepat ngeremas tisu itu. "Ayah pikir, dulu Ayah mau—ah, Ayah mikir apa, sih? Jam berapa sekarang?”
Rindu natap pergelangan tangannya. Jam Rindu selalu terlambat tiga menit. Dia tahu. Dia sengaja ngebiarin begitu. Angka di situ menunjuk sembilan kurang tiga belas. Dan, dia bilang, “Harusnya, sembilan kurang sepuluh.”
Bagja ikut natap jam itu. “Masih kamu pakai? Bukannya udah rusak?”
Rindu nutupin pake lengan baju. “Masih bagus.” Dia juga baru sadar dia udah lupa kapan terakhir kali beli baterai jam itu. Tapi jam itu selalu berjalan.
“Padahal, udah nggak mode. Kamu sendiri yang bilang.”
“Emang.” Rindu garuk-garuk pelipisnya sendiri. “Tapi, kata Ayah, yang penting berfungsi."
*
Minggu ketujuh, Rindu mulai terbiasa sama kamarnya. Dia udah enggak protes lagi soal dinginnya dinding, udah enggak meluk diri sendiri tiap masuk kamar. Malah, kadang aku lihat dia sengaja nempelin telapak tangannya ke dinding es itu sebelum tidur, kayak orang nempelin tangan ke kaca jendela pas hujan, cuma buat ngeraba sesuatu yang nyata.
Aku enggak pernah bilang ke dia soal apa yang sebenernya kamar itu bisa lakuin. Aku cuma nunggu. Kekuatan kayak gitu biasanya nemuin jalannya sendiri, keluar bukan lewat kesadaran, tapi lewat momen-momen kecil pas seseorang butuh banget sesuatu berhenti.
Momen itu dateng lebih cepet dari yang aku duga.
*
Sore itu, Bagja pulang kerja lebih awal, bawa kabar yang, buat dia, kelihatannya penting banget: dia dapet bonus kecil dari tokonya, cukup buat beliin Rindu sepatu baru, karena sepatu sekolahnya udah mulai sobek di ujung.
"Rindu," panggilnya, dari ruang tamu, nyodorin kantong plastik. "Buat kamu."
Rindu buka kantong itu, lihat sepatu baru di dalamnya.
Sepatu itu, modelnya, warnanya, mirip banget sama sepatu yang dulu Kenanga beliin buat dia, tahun terakhir sebelum ibunya sakit.
"Makasih, Yah," kata Rindu. Senyumnya kaku, dipasang cepet-cepet sebelum ekspresi lain sempet keluar.
Bagja, yang enggak sadar apa-apa, lanjut cerita soal harinya, soal Pak Yono, soal target penjualan bulan ini, ngoceh dengan semangat yang sebulan lalu enggak mungkin keluar dari mulutnya.
Rindu duduk, dengerin, manggut-manggut di waktu yang tepat, ngitung berapa kali ayahnya nyebut kata "sepatu" dalam ceritanya. Tiga kali. Tiap kali kedengeran, ada bagian dari Rindu yang pengen banget teriak, “Ini sepatu yang mirip pemberian Ibu, Yah, apa Ayah enggak inget?”
Tapi dia enggak bilang apa-apa. Dia enggak pernah bilang apa-apa soal hal-hal kayak gini lagi. Tiap kali dia coba, dia cuma nemuin dinding di telinga Bagja.
Rindu ngerasa kayak lagi tenggelam pelan-pelan, tanpa ada yang notis dia lagi kehabisan napas. Dan di detik itu, tanpa dia sadar, sesuatu di dalam dirinya nyari jalan keluar yang paling deket.
*
Waktu terhenti. Beneran henti. Rindu sampe berkali-kali periksa angka di jam tangannya.
Di tengah kalimat "...kata kepala gudang, kerja Ayah lumayan…" Bagja membeku. Mulutnya masih setengah kebuka, tangannya masih di posisi yang sama kayak lagi ngegerakin sesuatu buat nunjukin ekspresi semangat.
Debu di udara berhenti melayang. Detak jam dinding di ruang tamu berhenti di angka yang sama, jarum detiknya enggak bergerak sama sekali.
Rindu duduk sendirian di tengah keheningan yang lebih sunyi dari apa pun yang pernah dia denger, natap ayahnya yang beku kayak patung. Beberapa detik, dia cuma bingung, enggak ngerti apa yang barusan kejadian.
Terus dia sadar.
Dia bisa napas.
Beneran napas, panjang, dalam, tanpa harus mikirin harus jawab apa, harus bereaksi gimana, harus nutupin apa. Ruang yang, di dunia normal, enggak pernah ada, karena waktu selalu maju, selalu nuntut reaksi, selalu enggak ngasih jeda.
"Apa..." bisiknya, ke ruangan yang beku itu. "Apa yang barusan..."
Dia enggak nyari jawaban lama-lama. Cuma duduk di situ, nikmatin keheningan yang aneh itu, sampai beberapa detik kemudian, tanpa dia lakuin apa-apa, waktu jalan lagi.