Aku nggak pernah punya anak sendiri. Tapi pagi itu, aku bangga.
Damba Sediakala bangun tanpa dibangunin. Duduk di pinggir kasur, natap seragam barunya yang tergantung rapi di lemari. Seragam yang aku titipkan lewat toko kecil yang "kebetulan" buka dengan harga yang "kebetulan" pas sama uang Bagja. Begitu cara kerjaku. Aku nggak nyiptain dari udara kosong. Aku cuma tahu di mana harus naruh sesuatu, dan kapan.
Aku tahu Damba bawa satu ketakutan lama: diejek soal gaya rambut, soal buku pinjaman sejak ayahnya bangkrut. Aku nggak sentuh itu. Biar dia yang menaklukkannya sendiri.
"Damba," Rindu duduk di sampingnya sehabis nyiapin sarapan, "kamu takut, ya?"
Damba manggut kecil.
Rindu meluk adiknya. "Sekarang beda. Ayah udah kerja. Kamu bakal punya temen baru. Banyak."
*
SD Sukarela Teristimewa. Cat kuning pudar, halaman rindang. Damba masuk gerbang, genggaman di tali tas erat-erat, siap kabur kalau ada yang mulai ngejek.
Nggak ada yang ngejek. Anak-anak malah nyamperin duluan.
"Kamu dari mana?" Anak gempal, namanya Toni.
"Aku... pindahan," jawab Damba, hati-hati.
"Oh, keren! Aku juga pindahan tahun lalu," kata Toni, santai. "Suka main bola? Istirahat nanti main bareng, yuk."
Damba bingung sesaat, kayak lupa cara bereaksi kalau diajak main tanpa syarat. Terus senyum, kaget sendiri secepat apa senyum itu muncul.
*
Tapi nggak semua anak seramah Toni.
Waktu istirahat, di sudut lapangan deket tembok pembatas, tiga anak kelas lima ngumpul, ngeliatin sepatu Damba yang warnanya kelewat mencolok.
"Eh, anak baru. Sepatu kamu lucu banget, ya. Beli di mana, di pasar kaget?"
Dua temannya ketawa. Damba berhenti jalan. Dadanya sesek. Badan yang tadinya tegak, nunduk otomatis. Sikap lama yang udah bertahun-tahun dia latih tanpa sadar.
"Woy, ditanya, kok, diem?" Anak itu maju selangkah, nyenggol tas Damba sampe hampir jatoh.
Damba nggak bilang apa-apa. Dia natap batu-batu di deket sepatunya sendiri. Matanya nggak berkedip, makin merah.
Dan tiba-tiba—
Kerikil di deket kaki anak paling depan meluncur sendiri. Kena tepat di betisnya.
"Aduh!" Dia loncat, celingak-celinguk. "Siapa yang lempar batu?!"