Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #8

Kerikil Itu Melayang Sendiri ke Kaki Si Pengganggu

Aku enggak pernah punya anak sendiri. Untungnya rumah memang enggak diwajibkan ikut kelas parenting. Lagian, formulir adopsi juga enggak pernah nyediain pilihan "rumah tua".

Tapi pagi itu, aku bangga. Aku bangga sama Damba.

Damba Sediakala bangun tanpa dibangunin. Duduk di pinggir kasur, natap seragam barunya yang tergantung rapi di lemari. Seragam yang aku titipkan lewat toko kecil yang "kebetulan" buka dengan harga yang "kebetulan" pas sama uang Bagja. Aku enggak nyiptain dari udara kosong. Aku cuma tau di mana harus naruh sesuatu, dan kapan.

Aku tau Damba bawa satu ketakutan lama: diejek soal gaya rambut, soal sepatu yang lepas solnya, soal kaos kaki yang warnanya kusam sebelah, soal buku pinjaman sejak ayahnya bangkrut. Aku enggak sentuh itu. Biar dia yang menaklukkannya sendiri. Soalnya, itu wilayah yang rumit.

Bahkan aku yang udah hidup lebih dari seratus tahun aja masih bingung kenapa mereka suka mengejek hal-hal yang besok juga lupa.

"Damba," Rindu duduk di sampingnya sehabis nyiapin sarapan, "kamu takut, ya?"

Damba manggut kecil.

Rindu meluk adiknya. "Sekarang beda. Ayah udah kerja. Kamu bakal punya temen baru. Banyak."

*

SD Sukarela Teristimewa. Cat kuning pudar, halaman rindang. Damba masuk gerbang, genggaman di tali tas erat-erat, siap kabur kalau ada yang mulai ngejek.

Enggak ada yang ngejek. Anak-anak malah nyamperin duluan.

"Kamu dari mana?" Anak gempal, namanya Toni.

"Aku... pindahan," jawab Damba, hati-hati.

"Oh, keren! Aku juga pindahan tahun lalu," kata Toni, santai. "Suka main bola? Istirahat nanti main bareng, yuk."

Damba bingung sesaat, lupa cara bereaksi kalau diajak main tanpa syarat. Terus senyum, kaget sendiri secepat apa senyum itu muncul.

*

Tapi enggak semua anak seramah Toni.

Waktu istirahat, di sudut lapangan deket tembok pembatas, tiga anak kelas lima ngumpul, ngeliatin sepatu Damba yang warnanya kelewat mencolok.

"Eh, anak baru. Sepatu kamu lucu banget, ya. Beli di mana, di pasar kaget?"

Dua temannya ketawa. Damba berhenti jalan. Dadanya sesek. Badan yang tadinya tegak, nunduk otomatis. Sikap lama yang udah bertahun-tahun dia latih tanpa sadar.

"Woy, ditanya, kok, diem?" Anak itu maju selangkah, nyenggol tas Damba sampe hampir jatoh.

Damba enggak bilang apa-apa. Dia natap batu-batu di deket sepatunya sendiri. Tangannya, tanpa dia sadar, udah ngumpet ke belakang punggung, kayak nyembunyiin sesuatu yang belum kejadian. Matanya enggak berkedip, makin merah.

Kerikil di deket kaki anak paling depan bergetar dulu. Sekali. Dua kali.

Terus meluncur. Kena tepat di betisnya.

"Aduh!" Dia loncat, celingak-celinguk. "Siapa yang lempar batu?!"

Enggak ada siapa-siapa. Damba masih berdiri di tempatnya, tangan masih di belakang punggung, jantungnya deg-degan lebih keras dari yang dia kira bakal kerasa.

Lihat selengkapnya