Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #8

Toni dan Rahasia Kecil

Damba dan Toni jadi teman dekat lebih cepat dari yang aku duga. Kayak waktu itu di sekolah, saat mereka lagi main kelereng.

"Dam, bagi kelereng dong."

Damba nolak. Toni ngambil kelereng itu tanpa butuh persetujuan. Kelereng itu tiba-tiba melompat sendiri dari tangan Toni.

Toni ketawa, takjub. "Waw! Kelereng ajaib!"

Damba ikut ketawa. Dia mungkin nggak perlu rebutan lagi. Tinggal gerakin pake tatapan.

"Kak, Toni jago banget main kelereng," kata Damba suatu sore. "Katanya dia mau ngajarin aku."

Tawa Damba jadi lebih sering keluar tiap kali nama Toni disebut di rumah, dan aku dengar itu lewat dinding kamarnya, lewat cerita-cerita kecil yang dia lempar ke Rindu sambil lepas sepatu di teras.

"Ajak aja main ke sini," jawab Rindu, sambil terus menyapu. "Biar Kakak juga kenalan."

Damba langsung semangat. Aku diam sebentar di lorong, nggak bikin apa-apa, nggak juga bikin udara jadi dingin kayak biasanya aku lakuin kalau ada yang bikin nggak nyaman. Cuma diam, kayak orang yang dengar bel pintu tapi belum mutusin mau buka atau nggak.

Aku nggak pernah bikin pagarku macet susah dibuka. Nggak pernah bikin jalan ke sini tiba-tiba mentok tembok. Kalau aku ngelakuin itu, Damba bakal nanya kenapa, dan pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada satu anak sembilan tahun yang mau main kelereng.

Jadi aku biarin pagar itu kebuka gampang, kayak biasa.

*

Toni datang hari Sabtu siang, bawa kantong kresek isi kelereng warna-warni, wajahnya sumringah kayak orang yang baru dapat izin masuk ke tempat rahasia.

"Rumah kamu jauh juga, ya, Damba," katanya, ngos-ngosan sedikit, waktu akhirnya sampai di depan pagar. "Aku sampai nanya dua kali ke orang di jalan."

"Iya, agak nyempil emang," jawab Damba, bangga, kayak itu sesuatu yang keren.

Aku bikin rumput di halaman lebih hijau siang itu, angin dibikin pas, nggak terlalu kencang, nggak terlalu diam. Aku pengen Toni pulang dengan kesan baik.

Mereka main kelereng di halaman sampai sore, teriak-teriak setiap kali kelereng meleset atau kena telak. Rindu sesekali keluar bawa air minum, ngobrol sebentar sama Toni, yang ternyata anak yang sopan, pandai basa-basi, bilang terima kasih tiap kali dikasih sesuatu.

"Rumah kamu enak banget, ya," kata Toni, waktu Rindu nawarin es teh. "Adem. Nggak berisik kayak komplek rumahku."

"Makasih," jawab Rindu sambil senyum, senyum yang dikitnya lebih lama dari biasanya sebelum benar-benar sampai ke mata.

Bagja pulang kerja sore itu, ikut nyapa Toni sebentar, terus masuk lagi. Buat beberapa jam, halamanku ramai kayak halaman rumah mana pun: anak-anak main, orang tua sibuk masing-masing, matahari turun pelan-pelan di balik atap.

*

Lihat selengkapnya