Damba dan Toni jadi teman dekat lebih cepat dari yang aku duga. Kayak waktu itu di sekolah, saat mereka lagi main kelereng.
"Dam, mana? Katanya mau bagi.”
"Nanti.” Damba melengos. Dia mengocok-ngocok sekumpulan kelereng di telapak tangannya yang mungil. “Bentar. Bentar lagi."
“Bentar lagi. Bentar lagi mulu…”
Damba ngela napas. Mulutnya cemberut. "Ya udah, ini yang merah aja. Jangan yang biru. Yang biru, jagoanku."
Toni malah ngambil kelereng biru tanpa butuh persetujuan. Kelereng itu tiba-tiba melompat sendiri dari tangan Toni. Dia ketawa, takjub. "Waw! Kelereng ajaib!"
Damba ikut ketawa. Dia enggak perlu rebutan lagi. Tinggal gerakin pake tatapan.
*
"Kak, Toni jago banget main kelereng," kata Damba suatu sore di teras saat Rindu nyiram tanaman. "Katanya dia mau ngajarin aku."
Tawa Damba jadi lebih sering keluar tiap kali nama Toni disebut di rumah, dan aku dengar itu lewat dinding kamarnya, lewat cerita-cerita kecil yang dia lempar ke Rindu sambil lepas sepatu di teras.
"Boleh. Ajak aja main ke sini," jawab Rindu, sambil terus menyapu. "Biar Kakak juga kenalan."
Damba langsung semangat. Aku nunggu di lorong, enggak bikin udara jadi dingin walau ada yang bikin enggak nyaman. Aku cuma nunggu di lorong, ngedengerin langkah kaki Damba yang masih semangat abis denger “boleh” dari Rindu.
Aku enggak pernah bikin pagarku macet dan susah dibuka buat tamu Damba. Kalau aku ngelakuin itu, dia bakal nanya kenapa, dan pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada satu anak tujuh tahun yang mau main kelereng.
Jadi aku biarin aja.
*
Toni datang hari Sabtu siang, bawa kantong kresek isi kelereng warna-warni. Wajahnya sumringah kayak orang yang baru dapat izin masuk ke tempat rahasia. Anak-anak memang unik. Benda sekecil itu bisa bikin mereka bahagia berjam-jam. Orang dewasa butuh diskon tiga puluh persen dulu baru mau senyum.
"Rumah kamu jauh juga, ya, Damba," katanya, ngos-ngosan sedikit, waktu akhirnya sampai di depan pagar. "Aku sampai nanya dua kali ke orang di jalan."
"Iya, agak nyempil emang," jawab Damba, bangga. Dia pikir, itu sesuatu yang keren.
Aku bikin rumput di halaman lebih hijau siang itu. Anginnya pas, enggak terlalu kencang. Aku pengen Toni pulang dengan kesan baik.
Mereka main kelereng di halaman sampai sore, teriak-teriak setiap kali kelereng meleset atau kena telak. Aku bikin rumput di halaman lebih hijau hari itu. Rumput memang gampang dibikin senang. Cukup matahari sama air. Manusia? Wah, paketnya jauh lebih mahal.
Rumput di bawah kaki mereka masih adem walau matahari udah condong ke barat, dan suara motor dari jalan besar enggak pernah beneran sampai ke sini.
"Di sini enak banget, ya, Dam. Rumahnya gede. Halamannya luas," kata Toni, sewaktu Rindu dateng mau nawarin es teh. "Adem. Di rumahku kipas tiga aja masih kayak dipeluk setrika. Kalau rumahku begini, aku gak bakal sekolah."
"Tetep sekolah, dong!" timpal Rindu, gak berhasil nyembunyiin kegemasannya. Senyumnya lebih lama sebelum benar-benar sampai ke mata.
Aku juga seneng dibilang gede. Rumah mana yang gak seneng dipuji? Walaupun, kalau dipikir-pikir, gak pernah ada yang muji, "Wah, rumahmu proporsional."
"Iya, rumahku emang enak, adem,” pungkas Damba. “Mungkin… rumahnya suka angin."
"Boleh gak aku pindah sini aja?” tanya Toni, tiba-tiba serius. “Aku bawa kasur sendiri."
Rindu ketawa ngakak. Es teh sampai tumpah.
"Kak, boleh minum?" Toni nunjuk tenggorokannya sendiri.
"Boleh," jawab Rindu.
"Dua gelas?"
"Haus banget?"
"Iya."
Toni ngabisin es teh jatah Damba.