Toko bangunan ramai siang itu.
Musim kemarau bikin orang-orang mendadak merasa semua hal di rumah mereka harus diperbaiki. Atap bocor, pompa air ngadat, saluran mampet. Semen dan paku laku lebih cepat daripada gorengan di warung depan.
Bagja sibuk di gudang, ngangkat karung semen ke rak paling atas. Keringatnya sudah sampai punggung, kaus dalamnya nempel, tapi dia kelihatan lebih ringan sejak punya pekerjaan lagi.
Sampai Pak Anto manggil dari depan. "Tolong bantu di kasir sebentar. Kasir kita nggak masuk. Sakit."
Bagja nunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
Pak Anto udah balik badan.
Bagja ngela napas. Dia sebenarnya paling suka bagian gudang. Karung semen enggak pernah komplain. Paku juga enggak pernah minta penjelasan.
Kasir berbeda.
Kasir punya manusia.
Dan manusia punya pertanyaan.
*
Belum sepuluh menit di depan, seorang pembeli mulai protes soal harga cat.
"Minggu lalu saya beli segini, Pak."
Bagja lihat nota. "Mungkin dari distributor udah naik, Pak."
"Naik segitu?"
Bagja berusaha senyum. "Iya."
"Kenapa naik?"
Sebelum berani menggeleng, dia sempatkan nyari jawaban di kepalanya. Karena distributor? Tapi dia tahu jawaban itu nggak akan memuaskan. "Karena ada penyesuaian harga dari distributor, Pak."
"Distributor siapa?"
Bagja nyebut satu nama.
"Kenapa distributornya naikkin harga?"
Bagja berusaha senyum lagi. Pertanyaan bagus. Sayangnya dia bukan distributor. "Saya kurang tahu, Pak."
"Ya, tapi Bapak yang jual."
Bagja garuk-garuk kepala. “I-iya.”
"Berarti Bapak tahu."
Bagja narik napas pelan. Dulu, dalam situasi seperti ini, Kenanga biasanya nyenggol lengannya dari samping dan berbisik, “Jangan ladenin semua orang.”
Bagja hampir noleh ke samping. Enggak ada siapa-siapa. Pembeli itu masih ngomel. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Bagja. Tangannya nyari sisi meja kasir, mastiin ada sesuatu yang bisa dipegang.
Dan tepat saat dadanya mulai terasa terlalu sempit—
kakinya terangkat.
Cuma beberapa senti.
Nggak ada suara.
Nggak ada cahaya.
Nggak ada apa-apa.
Cuma sepatu safety Bagja yang tiba-tiba nggak nyentuh lantai.
Pak Yono, yang kebetulan lewat membawa dus paku, berhenti. Matanya turun ke lantai. Naik ke kaki Bagja. Turun lagi. Naik lagi. Kayak orang yang baru nemuin kalau angka di kalkulatornya salah.
Brak. Dus di tangannya jatuh.
Paku berhamburan. "Pak B-Bagja."
Bagja masih ngadepin pembeli. "Iya, Pak, saya paham Bapak keberatan. Tapi saya juga cuma—"
"Pak Bagja."
"—menjual sesuai harga yang dikasih dari—"
"PAK BAGJA."
Bagja menoleh.
Pak Yono nunjuk ke bawah. "Bapak..."
Bagja ikut nunduk.