Aku, sendirian lagi di ujung gang. Sore itu, aku ngelihat mobil melaju menjauh, nggak tahu ke mana. Tapi jelas, kali ini, mereka nggak mau lepas satu sama lain.
Lampu jendelaku padam satu per satu.
*
Beberapa minggu sehabis itu, aku dengar kabar mereka lewat udara, lewat obrolan orang-orang yang kadang singgah sebentar tanpa sadar aku dengarkan.
Dinas sosial kecamatan nempatin mereka di sebuah rumah sementara. Dua kamar, sederhana, jauh dari gang mana pun yang nggak terdaftar di peta. Bu Wening, katanya, yang urus sebagian besar berkasnya, bahkan sempat ngebantu biaya awal dari kantong sendiri sebelum bantuan resmi cair, karena katanya, "Nggak enak ninggalin anak-anak ini nunggu terlalu lama."
Aku nggak bisa ngelihat langsung rumah sementara itu. Jangkauanku selalu berhenti di ujung gang ini, sejauh apa pun aku ingin tahu.
Tapi aku bisa ngebayangin:
Damba yang mulai nempelin foto-foto kecil ibunya di dinding kamar barunya, gambar hasil rekonstruksi dari cerita Rindu, wajah yang nggak lagi sempurna tapi cukup nyata buat dipeluk dalam ingatan.
Sesekali Bu Wening masih mampir, enggak lama, cuma buat mastiin mereka baik-baik aja. Suatu sore dia dateng bareng layang-layang buat Damba, dan sebelum pulang, sempet nyubit pipi Rindu, bilang, "Jangan lupa kamu anak yang kuat," terus buru-buru pergi kayak orang yang enggak mau kelihatan mau nangis di depan muridnya sendiri.
Bagja yang, katanya, mulai belajar masak ulang sup kacang merah. Gagal berkali-kali, tapi setiap kali gagal dia ketawa. Dia ketawa karena ngerasa bisa ngejar sesuatu yang layak dikejar sekarang.
*
Aku inget satu momen sebelum keluarga itu pergi.
Rindu masih berdiri di depan cermin itu lama, lebih lama dari yang dia sendiri sadari.
Dia angkat tangannya, nyentuh helai rambut putih di pelipisnya, memutar-mutarnya di jari kayak lagi mastiin itu beneran nempel di kepalanya, bukan cuma bayangan cahaya.
"Aku bakal keliatan kayak gini terus?" bisiknya. Bukan ke aku. Lebih ke dirinya sendiri, ke cermin yang nggak bakal jawab, ke satu-satunya saksi yang nggak bisa bohong tapi juga nggak bisa nghibur.
Aku nggak jawab. Aku nggak lagi punya hak buat ngasih jawaban ke dia soal apa pun.
Dia natap garis-garis di sudut matanya lebih lama. Bukan nangis. Lebih ke... nimbang. Kayak orang yang baru dapet tagihan dan lagi ngitung ulang, mikirin apa dia sanggup bayar, meski tagihan itu udah dibayar duluan, seminggu lalu, tanpa dia sempet nawar.
"Kalau aku ketemu temen SMA lima tahun lagi," gumamnya, "mereka bakal mikir aku ibunya sendiri, kali, ya."
Dia ketawa kecil. Ketawa yang nggak lucu, tapi juga nggak sepenuhnya sedih. Ketawa orang yang udah kadung nemuin sesuatu yang lucu di tengah sesuatu yang harusnya bikin dia hancur, karena kalau nggak ketawa, dia nggak tau lagi harus ngapain sama wajah itu.
"Aku nggak nyesel," katanya, lebih pelan, lebih ke dirinya sendiri lagi.