Terlalu lama berinteraksi dengan keluarga Nyang rupanya cukup bikin stres. Jadi, Rindu pulang dengan lelah. Kebetulan, ayahnya sudah membuat satu teko teh hangat. Rindu meminumnya segelas.
Rindu nanya suatu hari saat ayahnya sibuk gambar sketsa rumah. "Ayah pernah bikin rumah?"
Bagja lama diam, "Belum pernah."
"Bukannya Ayah dulu sekolah arsitek?"
Bagja ketawa. Pahit. "Nggak lanjut. Nggak jadi. Ayah, kan, cuma mandor proyek." Dia nyopot foto keluarga dari figura di ruang tengah. Ada Kenanga yang masih di antara mereka. "Punya proyek udah. Bangun rumahnya belum."
Dia diam. Lalu pelan, bilang lagi. "Yang sempet Ayah bangun cuma mimpi. Mimpi punya rumah sendiri.”
“Kita udah pernah punya rumah.”
“Dari dulu, Ayah pengen bilang ke anak-anak Ayah, ‘Ini rumah kita!’ Sekalinya punya, malah disita. Maaf, ya. Untungnya, sekarang kita punya rumah ini, meski udah tua.”
Aku tersinggung dibilang tua.
“Udah Ayah renov bagian depannya sejak kita tinggal."
Foto keluarga terselip di ujung sofa, selama berhari-hari. Nggak ada yang nyadar.
*
Ada satu orang di luar rumah ini yang mulai jadi ancaman kecil buat aku. Bu Wening, wali kelas Damba di SD Sukarela Teristimewa.
Guru-guru itu, kalau kalian perhatiin, punya semacam radar aneh. Mereka nggak selalu pinter soal pelajaran, tapi mereka hafal banget pola anak-anak. Bu Wening udah ngajar dua puluh tahun, dan dia bilang ke rekan gurunya suatu siang, sambil makan siang di kantin sekolah, "Ada yang aneh sama Damba akhir-akhir ini."
Aku nggak bisa "hadir" di kantin sekolah sejauh itu. Jangkauanku ada batasnya. Tapi Damba yang cerita ke Rindu, malam itu, sambil makan.
"Bu Wening tadi nanya-nanya aku, Kak."
"Nanya apa?"
"Nanya kenapa aku nggak pernah cerita soal Ibu. Tapi aku nggak tau Bu Wening ngomongin siapa."
Rindu berhenti mengunyah. "Kamu bilang apa ke Bu Wening?"
"Aku bilang aku nggak punya cerita apa-apa. Terus Bu Wening kelihatan sedih."
Rindu nggak jawab. Dia cuma ngelus rambut Damba, dan aku bisa lihat dia lagi mikir keras.
Aku juga mikir keras. Karena ini bukan cuma soal Damba yang lupa. Ini soal seseorang di luar keluarga ini yang mulai nyimpen catatan, membandingkan Damba yang dulu sama Damba yang sekarang.