Rindu balik lagi ke pembatas pagar sore itu, bukan buat basa-basi kayak biasanya. Dia bawa pertanyaan yang udah dia pendam sejak kejadian Bagja di toko bangunan, sejak dia sendiri mulai ngerasa was-was tiap kali dadanya kepingin banget waktu berhenti.
Origa udah ada di situ, lagi ngelipat kertas jadi bentuk burung, jari-jarinya cepat, hafal di luar kepala.
"Kamu udah mulai, ya," katanya, nggak nengok. "Make kamarnya."
Rindu duduk di rumput, deket pembatas. "Dari mana kamu tau?"
"Soalnya kamu jalannya beda. Kayak orang abis nemu jalan pintas, terus takut ketauan. Gugu juga bilang gitu. Dia pinter ngendus pikiran orang." Origa taruh kertas burungnya di antara mereka berdua. "Aku awalnya kayak kamu, dulu. Kata bapakku—"
Dia berhenti.
Kertas di tangannya, yang tadi udah setengah bentuk burung, terlipat balik jadi persegi, tanpa dia sadar tangannya sendiri yang ngelipat ulang.
"—ah, lupa," katanya, ketawa kecil, terlalu cepat, terlalu ringan buat kalimat yang baru aja dia mulai. "Kamu tadi nanya apa?"
Rindu diam. Dia nggak nanya apa-apa. Origa yang mulai duluan, soal nama bapaknya, dan sekarang kertas di tangannya udah balik jadi persegi polos, kayak nggak pernah ada niat jadi burung sama sekali.
"Kamu tadi mau cerita soal bapak kamu," kata Rindu, pelan.
"Oh." Origa natap kertas di tangannya, agak lama, kayak baru sadar bentuknya berubah. "Iya. Nanti aja."
Nggak ada "nanti" yang dia janjiin bakal ditepatin. Rindu bisa denger itu dari caranya ngomong, cara yang sama kayak Bagja bilang "nanti kita cari tahu bareng, ya" soal masakan Ibu.
"Origa," kata Rindu, "kamu abis lupa sesuatu barusan. Aku liat kertasnya berubah balik sendiri."
Origa diam. Lama. Terus dia taruh kertas itu, nggak dilipat lagi, dan natap Rindu.
"Kamu udah mulai, ya," ulangnya, tapi kali ini nggak kedengeran kayak nebak-nebak lagi.
*
"Ada semacam…" Origa berhenti, nggak yakin. Dia natap kertas persegi di tangannya, bukan Rindu. "Kamu pasti udah ngerasa. Ada yang kepotong tiap kali kamu pake."
"Kepotong apa?"
"Aku nggak tau istilah yang bener. Mungkin kayak baterai…" Dia ngelipat lagi, cepat, jari-jarinya nggak nunggu otaknya. "Coba aja hitung. Berapa banyak yang udah kamu lupa sejak kamu mulai bekuin waktu?"
Rindu diam. Origa udah tahu bahkan sebelum dia bilang. Dia nggak mau nanya lebih jauh soal mekanismenya. Dia nanya yang lebih penting. "Ibu kamu tau ini, sebelum jadi kayak sekarang?"
Pertanyaan itu bikin Origa berhenti ngelipat.
"Nggak," katanya, akhirnya. "Kalau tau, mungkin dia nggak bakal—" Dia nggak nerusin kalimatnya. Kertas di tangannya udah jadi bentuk yang nggak jelas, nggak burung, nggak persegi, cuma remas-remasan.
"Kenapa kamu nggak bilang ke dia sekarang?"
"Udah kucoba." Origa ngangkat tangannya dengan santai. Kulit di jarinya sekilas berubah tekstur, tipis kayak kertas, sebelum balik lagi.
Rindu agak kaget. Dia ngerjap-ngerjap.
"Aku bilang, 'Ma, coba inget nama Bapak.' Dia nggak bisa,” keluhnya. Origa masih terus bicara. “Aku bilang lagi, lebih keras. Dia malah pake suaranya ke aku, nyuruh aku tenang, kayak aku ini anaknya sendiri yang lagi tantrum."
Rindu masih nggak ngalihin pandangannya dari tangan Origa. “O-origa, itu apa barusan?”