Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #18

Aturan yang Origa Pelajari dengan Cara yang Salah

Rindu balik lagi ke pembatas pagar sore itu, bukan buat basa-basi kayak biasanya. Dia bawa pertanyaan yang udah dia pendam sejak kejadian Bagja di toko bangunan, sejak dia sendiri mulai ngerasa was-was tiap kali dadanya kepingin banget waktu berhenti.

Origa udah ada di situ, lagi ngelipat kertas jadi bentuk burung, jari-jarinya cepat, hafal di luar kepala.

“Origa, aku mau nanya sesuatu.”

"Kamu udah mulai, ya," katanya, nggak nengok. "Make kamarnya."

Rindu duduk di rumput, deket pembatas. "Dari mana kamu tau?"

"Soalnya kamu jalannya beda. Kayak orang abis nemu jalan pintas, terus takut ketauan." Origa taruh kertas burungnya di antara mereka berdua, enggak natap Rindu. "Aku juga gitu, dulu. Kata bapakku—"

Dia berhenti.

Kertas di tangannya, yang tadi udah setengah bentuk burung, terlipat balik jadi persegi, tanpa dia sadar tangannya sendiri yang ngelipat ulang.

"—ah, lupa," katanya, ketawa kecil, terlalu cepat, terlalu ringan buat kalimat yang baru aja dia mulai. "Kamu tadi nanya apa?"

Rindu tergagap. Dia jadi nggak enak mau ngomong. Sekarang kertas di tangan Origa udah balik jadi persegi polos, kayak enggak pernah ada niat jadi burung sama sekali.

"Kamu tadi mau cerita soal bapak kamu," kata Rindu, pelan.

"Oh." Origa natap kertas di tangannya, agak lama, kayak baru sadar bentuknya berubah. "Nanti aja."

Nggak ada "nanti" yang dia janjiin bakal ditepatin. Rindu bisa denger itu dari caranya ngomong.

"Origa," kata Rindu, "kamu abis lupa sesuatu barusan. Aku liat kertasnya berubah balik sendiri."

Origa mematung. Lama. Terus dia taruh kertas itu, nggak dilipat lagi, dan natap Rindu.

"Aku enggak mau kasih dia alasan buat marah ke aku lagi," katanya.

“Dia? Dia siapa?”

“Rumah ini.” Mulut Origa tertahan sebentar. “Dia enggak akan sakitin aku secara langsung. Dia enggak pernah gitu. Tapi ada cara lain dia nunjukin enggak seneng, dan aku udah ngerasain itu."

Aku nggak ngelak kalau aku memang pernah nunjukin nggak seneng sama Origa. Sampai dia jadi sependiem ini. 

"Jadi kamu enggak akan bilang apa-apa?" Rindu nyoba mastiin lagi, hati-hati.

Origa natap kertas di tangannya lama, terus natap Rindu.

"Aku bakal bilang satu hal doang, dan abis itu jangan tanya lagi hari ini." Dia narik napas. "Kekuatan yang kamu punya sekarang enggak gratis. Titik. Aku enggak akan jelasin gimana caranya, gimana itungannya, apa pun. Kamu bakal nemuin sendiri, pelan-pelan, sama kayak aku dulu nemuin sendiri. Cuma bedanya, aku udah kelewat telat buat berhenti."

Dia berdiri, kertas persegi yang gagal jadi burung masih di tangannya.

"Origa," panggil Rindu, sebelum dia sempet pergi. "Kenapa kamu masih mau ngomong sama aku sama sekali, kalau segitu takutnya?"

Origa berhenti, punggungnya masih ngadep pembatas.

"Karena kamu nanya," katanya, pelan. "Enggak ada yang pernah nyamperin aku buat nanya kayak gitu, sejak lama banget. Bahkan pas aku masih seneng-senengnya tinggal di sini."

*

"Ibu kamu tau ini, sebelum jadi kayak sekarang?"

Pertanyaan itu bikin Origa berhenti di tempat.

"Nggak," katanya, lalu melanjutkan. "Kalau tau, mungkin dia nggak bakal—" Dia nggak nerusin kalimatnya. Kertas di tangannya udah jadi bentuk yang nggak jelas, nggak burung, nggak persegi, cuma remas-remasan.

"Kenapa kamu nggak bilang ke dia sekarang?"

"Udah kucoba." Origa ngangkat tangannya. Kulit di jarinya sekilas berubah tekstur, tipis kayak kertas, sebelum balik lagi.

Lihat selengkapnya