Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #19

Telepon yang Nggak Seharusnya Aku Denger

Rindu nunggu tiga hari sebelum akhirnya berani nelepon nomor itu.

Tiga hari itu dia habisin buat nyusun bukti, bukan cuma keberanian. Dia nulis ulang semua yang Origa bilang soal "baterai", soal kekuatan yang nyicil diri sendiri, di halaman baru buku catatannya.

Dia gambar peta kasar gang dari ingatannya sendiri. Tiap kali dia coba, garis-garisnya kayak nggak mau nyambung dengan benar, seolah tangannya sendiri menolak nunjukkin jalan pulang.

Malam ketiga, waktu Bagja udah tidur dan Damba udah lama merem, Rindu duduk di teras belakang, tempat paling jauh dari kamar-kamar lain. Bulan malam itu setengah, cahayanya jatuh miring di atas buku catatannya.

Dia tekan telepon. Nadanya nyambung setelah dua kali dering.

"Halo?"

"Halo, Bu, ini... ini Rindu. Kakaknya Damba. Maaf ganggu malam-malam, Bu."

"Oh, Rindu! Ada apa?"

Rindu diem sebentar, narik napas panjang.

"Bu, saya butuh bantuan yang mungkin kedengeran aneh," katanya. "Bukan cuma buat curhat. Saya butuh Ibu bantu saya nyari."

"Nyari apa, Rindu?"

"Rumah saya," jawab Rindu.

Bu Wening diem sesaat.

Lihat selengkapnya