Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #13

Satu Mimpi Terakhir Tentang Ibu

Aku enggak pernah kenal Kenanga Tiadalupa secara langsung. Dia meninggal sebelum keluarga ini ketemu aku—setidaknya, begitu yang aku percaya. Tapi aku nyimpen banyak fragmen tentang dia, dari ingatan yang aku ambil dari anak-anak dan suaminya. Malam itu, entah kenapa, aku memutuskan buat ngasih satu fragmen itu balik ke Rindu, lewat mimpi.

Aku bisa aja kasih yang pendek. Pudar. Cukup buat ketenangan semenit dua menit, terus ilang, kayak yang biasa aku kasih ke penghuni lain.

Tapi aku susun ini detail banget, kayak orang milih baju paling bagus buat dipakein ke boneka. Sore hari. Cahaya oranye dari jendela kecil di atas wastafel. Celemek bunga matahari yang catnya pudar. Gunting di rak bumbu. Aroma minyak kayu putih yang enggak pernah jadi milikku.

Aneh, kalau dipikir ulang. Fragmen dari orang lain biasanya datang berantakan, kayak sobekan yang harus aku susun sendiri jadi satu gambar. Yang ini enggak gitu. Utuh, kayak aku enggak perlu nyusun apa-apa. Tinggal buka laci, dan semuanya udah rapi di situ, nunggu diambil.

Aku enggak mikirin itu lama-lama. Aku cuma seneng, akhirnya bisa ngasih Rindu sesuatu yang beneran hangat, bukan sesuatu yang cuma aku tiru dari kehangatan orang lain.

Dalam mimpi itu, Rindu balik ke dapur rumah lama mereka, sekitar jam lima.

Kenanga berdiri di depan kompor. Punggungnya menghadap Rindu, rambutnya diikat asal-asalan pakai karet gelang.

"Rindu, tolong ambilin garam."

Dalam mimpi itu, Rindu dalam versi dia yang lebih muda, mungkin lima belas tahun, jalan ke rak bumbu, ambil toples garam, kasih ke ibunya.

"Ibu masak apa?"

"Sup kacang merah. Ayah kamu lagi pengen."

"Ayah selalu pengen itu."

Kenanga ketawa, suara yang khas, agak melengking di ujung, yang bikin siapa pun yang denger ikut senyum walaupun enggak tahu apa yang lucu.

"Karena Ayah kamu itu, walau enggak pernah bilang langsung, demen banget diperhatiin. Masak apa aja, asal Ibu yang masak, dia bakal makan sampai habis."

"Ih, gombal."

"Bukan gombal. Fakta." Kenanga nyicip kuahnya, kerutin dahi. "Kurang asin, kayaknya."

"Kok, Ibu sengaja bikin kurang pas terus, sih?"

Kenanga nengok, senyum jahil. "Biar Ayah kamu selalu nyariin kekurangannya. Kalau masakan Ibu sempurna dari awal, nanti dia berhenti penasaran."

Lihat selengkapnya