Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #23

Pak Yono yang Hampir Pingsan Itu Malah Penasaran

Sisa hari itu, Pak Yono muter-muter gudang kayak abis ketemu penampakan tapi takut cerita ke siapa-siapa. Dia ngintipin Bagja dari balik rak semen kayak detektif yang lagi ngincer koruptor.

"Pak Yono ngapain di situ?"

"Nggak, nggak ngapa-ngapain, Pak."

Sore itu, Pak Yono nggak tahan lagi. Ditarik Bagja ke pojok gudang, di antara tumpukan pipa PVC.

"Pak Bagja, saya nggak gila. Saya kerja delapan tahun di sini, mata saya tajem." Suaranya turun jadi bisikan. "Dari gerak-gerik Bapak, saya rasa... Bapak pesugihan, ya?"

Bagja ketawa terpingkal-pingkal.

"Saya cuma penasaran. Kata nenek saya, kalau ada yang tiba-tiba tenang banget atau dapet kesaktian padahal baru abis musibah berat, kadang ada yang bantuin dari luar."

"Pak Yono kebanyakan nonton film horor."

"Tapi saya liat kaki Bapak ngelayang. Siang bolong, di gudang paku."

Aku, yang cuma bisa denger ini lewat memori Bagja, ngerasa was-was. Pak Yono beda dari pembeli yang lewat sekali terus lupa. Dia ketemu Bagja delapan jam sehari, dan sekarang punya teori.

Teori yang, sialnya, nggak sepenuhnya salah.

*

Beberapa hari kemudian, sambil angkut barang berdua, suara ketutup bunyi forklift.

"Bapak nggak perlu kelihatan kuat terus di depan saya," kata Pak Yono. "Kalau capek, bilang aja capek."

Kalimat simpel itu nempel di Bagja lebih lama dari yang aku suka.

Lihat selengkapnya