Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #16

Pak Yono Mulai Mencatat Semua Keanehan Ini

Sisa hari itu, Pak Yono muter-muter gudang kayak abis ketemu penampakan tapi takut cerita ke siapa-siapa. Dia ngintipin Bagja dari balik rak semen kayak detektif yang lagi ngincer koruptor.

"Pak Yono ngapain di situ?"

"Enggak, enggak ngapa-ngapain, Pak."

Sore itu, Pak Yono enggak tahan lagi. Ditarik Bagja ke pojok gudang, di antara tumpukan pipa PVC.

"Pak Bagja, saya pernah ketemu anak Bapak, malem-malem.”

“Rindu?” tanya Bagja, tanpa noleh. “Dia emang panikan anaknya. Padahal, saya enggak ke mana-mana. Maaf, ya, Pak. Malah ngerepotin.”

“Yakin Bapak enggak kemana-mana? Kok, anak Bapak sampe enggak bisa lihat?” ulang Pak Yono, sangsi. “Saya enggak gila. Saya kerja delapan tahun di sini." Suaranya turun jadi bisikan. "Dari gerak-gerik Bapak, saya rasa... Bapak pesugihan, ya?"

Bagja ketawa terpingkal-pingkal.

"Saya cuma penasaran. Kata nenek saya, kalau ada yang tiba-tiba tenang banget atau dapet kesaktian padahal baru abis musibah berat, kadang ada yang bantuin dari luar."

"Pak Yono kebanyakan nonton film horor."

"Tapi saya liat kaki Bapak ngelayang. Siang bolong, di gudang paku." Pak Yono ngeluarin buku saku kecil dari saku belakang celananya, buka halaman kosong. "Saya mau catat. Tanggal, jam, sama posisi Bapak waktu itu."

Aku, yang cuma bisa denger ini lewat memori Bagja, ngerasa was-was. Pak Yono beda dari pembeli yang lewat sekali terus lupa. Dia ketemu Bagja delapan jam sehari, dan sekarang punya teori.

Teori yang, sialnya, enggak sepenuhnya salah.

*

Beberapa hari kemudian, sambil angkut barang berdua, suara ketutup bunyi forklift.

"Bapak enggak perlu kelihatan kuat terus di depan saya," kata Pak Yono. "Kalau capek, bilang aja capek."

Kalimat simpel itu nempel di Bagja lebih lama dari yang aku suka.

"Kalau memang ada sesuatu yang terjadi, jangan bersekutu sama jin," lanjut Pak Yono. "Kaki ngelayang itu bisa bahaya, Pak. Bisa viral. Bapak enggak akan tenang lagi kalau udah kayak gitu."

Bagja berhenti sebentar, karung semen masih di pundak. Ada seseorang yang khawatir bukan karena penasaran doang.

"Makasih, Pak Yono."

Malamnya, di kamar mandi, aku denger dia berdiri lama di bawah shower. Suara yang mirip isakan, buru-buru ditahan. Aku enggak tahu apa yang bikin dia hampir nangis. Mungkin naluri dasar buat sadar ada yang hilang, meski enggak tahu persis apa. Aku sebar rasa hangat lewat air shower. Berhasil. Dia keluar, tenang lagi.

Malam itu, aku nyimpen satu catatan buat diriku sendiri.

*

Sehabis pulang kerja, Bagja duduk sendirian di kamarnya.

Dia mikirin kata-kata Pak Yono. Jangan bersekutu sama jin. Kalimat itu, sekonyol apa pun kedengarannya siang tadi, sekarang muter-muter di kepalanya kayak lagu yang enggak mau berhenti.

Lihat selengkapnya