Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #18

Rindu Nekat Buktikan Kekuatannya ke Guru Sekolah

Bu Wening pernah satu kali datang ke rumah, beberapa minggu sebelumnya. Tamu dari luar itu variabel yang susah aku kontrol.

Dia duduk di ruang tamu, mendongak sedikit kayak nyium sesuatu yang enggak biasa. Matanya berhenti sebentar di figura tanpa foto.

"Ini... kok gak ada fotonya, tapi masih dipajang?"

Bagja diem sesaat. Dan di detik itu juga, dia gemeteran. Kakinya, yang tadinya duduk santai di sofa, pelan-pelan ngangkat dari lantai. Cukup buat sepatu rumahnya ngambang tipis di atas karpet.

Aku panik. Astaga jangan sekarang! Aku buru-buru narik perhatian Bu Wening ke arah lain, bikin bunyi kucing lewat di halaman belakang. Satu detik itu cukup buat Bagja refleks nurunin lagi kakinya.

"Nanti kami pajang," jawab Bagja. "Perlu foto ulang."

Rindu, yang lagi di dapur, buru-buru keluar, ikut duduk. "Ibu kami sudah meninggal, Bu. Empat tahun lalu."

Bu Wening meriksa sekeliling ruangan sekali lagi. Matanya berhenti di lorong yang mengarah ke lemari tua. "Rumah ini... unik, ya," katanya, pelan.

Damba, yang dari tadi diem di pojok, mainin gelas air minumnya sendiri di atas meja. "Damba," Rindu manggil. "Jangan maenin gelasnya."

Damba nengok, kaget. Gelasnya berhenti muter sendiri, tapi terlambat setengah detik. Cukup buat gelas itu geser beberapa senti tanpa ada yang nyentuh, sebelum akhirnya diem lagi.

Bu Wening ngelirik gelas itu. Kerutan tipis muncul di dahinya, tapi dia enggak bilang apa-apa.

Sebelum pulang, dia kasih nomor telepon. "Kalau kamu, atau Damba, butuh cerita, hubungi saya aja, ya."

Rindu duduk di kamarnya malam itu. Dia buka ponselnya. Bu Wening, Wali Kelas Damba. Jarinya berhenti sebentar di atas tombol hapus.

Dia segera neken tombol simpan.

*

Rindu nunggu sampai Bagja dan Damba bener-bener tidur sebelum dia duduk sendirian di teras belakang, ponsel di tangan, kontak Bu Wening masih tersimpan dari kunjungan waktu itu.

Dia enggak langsung nelepon. Dia mikir dulu, lama, susun kalimat di kepalanya kayak orang yang tau sekali salah ngomong bisa bikin dia keliatan gila. Jarinya ngetuk layar ponsel, satu, dua, tiga kali, enggak nekan apa-apa, cuma butuh gerakan buat ngisi jeda sebelum berani mutusin.

Aku tau apa yang dia rencanain sebelum dia sendiri yakin sepenuhnya. Aku denger dari cara napasnya berubah. Napasnya kayak orang yang lagi ngumpulin keberanian.

Aku enggak suka arah ini. Jadi aku coba yang biasa aku coba: aku sebar udara yang lebih berat ke teras itu, cukup buat bikin siapa pun ngantuk lebih cepat dari yang seharusnya.

Rindu ngucek mata sekali. Terus dia geleng kepala, kayak nolak sesuatu yang dia sendiri enggak tau apa, dan lanjut mikir.

Aku coba lagi, lebih kuat. Enggak ada bedanya. Kejadian yang sama kayak waktu buku catatannya nolak buat berhenti aku ganggu, sesuatu di Rindu emang enggak segampang itu ditahan.

*

Besoknya, waktu bel pulang sekolah bunyi, Rindu enggak nunggu di gerbang buat jemput Damba. Dia jalan lurus ke ruang guru, nyariin Bu Wening.

Lihat selengkapnya