Rindu nunggu sampai Bagja dan Damba bener-bener tidur sebelum dia duduk sendirian di teras belakang, ponsel di tangan, kontak Bu Wening masih tersimpan dari kunjungan waktu itu.
Dia enggak langsung nelepon. Dia mikir dulu, lama, susun kalimat di kepalanya kayak orang yang tau sekali salah ngomong bisa bikin dia keliatan gila.
Aku tau apa yang dia rencanain sebelum dia sendiri yakin sepenuhnya. Aku denger dari cara napasnya berubah. Napasnya kayak orang yang lagi ngumpulin keberanian.
Aku enggak suka arah ini. Jadi aku coba yang biasa aku coba: aku sebar udara yang lebih berat ke teras itu, cukup buat bikin siapa pun ngantuk lebih cepat dari yang seharusnya.
Rindu ngucek mata sekali. Terus dia geleng kepala, kayak nolak sesuatu yang dia sendiri enggak tau apa, dan lanjut mikir.
Aku coba lagi, lebih kuat. Enggak ada bedanya. Kejadian yang sama kayak waktu buku catatannya nolak buat berhenti aku ganggu, sesuatu di Rindu emang enggak segampang itu ditahan.
Besoknya, waktu bel pulang sekolah bunyi, Rindu enggak nunggu di gerbang buat jemput Damba. Dia jalan lurus ke ruang guru, nyariin Bu Wening.
"Bu Wening," panggilnya, dari pintu ruang guru.
Bu Wening nengok, kaget sebentar ngeliat murid yang bukan muridnya sendiri berdiri di situ, terus ekspresinya berubah, campuran antara penasaran dan sesuatu yang lebih hati-hati.
"Rindu? Ada apa?"
"Saya butuh bantuan yang mungkin kedengeran aneh, Bu," kata Rindu, cepat, sebelum keberaniannya keburu abis. "Bukan cuma buat curhat."
Bu Wening ngajak dia duduk di bangku kosong deket jendela. Anak-anak sekolah belum sepenuhnya bubar. Guru-guru juga masih di kelas.
Rindu cerita. Nggak semuanya lancar. Ada bagian-bagian yang dia berhenti di tengah kalimat, coba nyari kata yang lebih masuk akal, terus nyerah dan lanjut apa adanya, meski kedengeran aneh.
Dia cerita soal rumah yang mereka tinggalin. Dia cerita soal ruang bawah tanah, soal toples-toples berisi kabut. Dan, dengan suara paling pelan, dia cerita soal kekuatannya sendiri. Soal waktu yang bisa dia hentikan, soal Damba yang bisa gerakin barang cuma pake tatapan, soal ayahnya yang kakinya sempet ngambang di toko bangunan.