Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #19

Telepon dari Seseorang yang Sudah Empat Tahun Meninggal

Rindu nyoba satu hal terakhir sebelum benar-benar putus asa: dia coba pegang erat-erat hubungan dia sama Damba, berharap kalau enggak bisa nyelamatin ingatan soal Kenanga, paling enggak dia bisa nyelamatin ikatan mereka berdua.

Tapi bahkan itu, pelan-pelan, mulai aku ambil juga.

Bukan sekaligus. Aku enggak pernah kerja sekaligus. Kalau aku kerja sekaligus, itu ceroboh, dan aku udah bertahun-tahun belajar caranya enggak ceroboh.

Rindu dan Damba dulu punya panggilan khusus. Kak Dudu dan Adek Dadam. Itu berawal dari keseringan nyanyi Dudu Dadam, lagu yang mereka ubah liriknya asal-asalan. Singkatan konyol yang mereka bikin sendiri waktu Damba masih balita, saking deketnya mereka berdua.

Suatu sore, Damba pulang sekolah, manggil dari depan pintu:

"Kak Ririn."

Rindu, yang lagi masak di dapur, berhenti sebentar, tangannya masih megang sendok, uap dari wajan naik tanpa dia hiraukan. Kedengeran sepele. Tapi buat dia, itu kayak denger nama sendiri diucapin salah. Kecil tapi nyeri.

"Kamu... panggil aku apa tadi?"

"Kak Ririn?" Damba bingung. "Emang biasanya manggil apa?"

Rindu enggak jawab. Dia cuma lempar senyum yang dipaksain, lanjut masak. Tangannya ngaduk lebih cepat.

*

Malam itu, sehabis Damba mandi, Rindu duduk di depannya di kamar. Buku catatan kecil terbuka di pangkuannya. Halamannya udah penuh coretan, dicoret, ditulis ulang.

"Damba, coba deh, kita main game," katanya, nyoba nyari cara paling enggak mencurigakan buat ngetes sesuatu. "Aku sebut kata, kamu jawab apa yang keinget pertama kali. Kayak kuis."

"Oke!" Damba semangat, duduk bersila di depan kakaknya.

"Warna favorit."

"Biru!"

"Makanan favorit."

"Ayam goreng!"

Rindu jeda sebentar, narik napas. Dia ngitung dalam kepalanya, satu, dua, tiga, kayak nyiapin diri sebelum lompat ke air dingin. "Ibu."

Damba diem. Matanya kosong sesaat, kayak lagi nyari sesuatu di rak yang gelap.

"Enggak ada, Kak." Damba diem sebentar. "Ya udah, biasa aja... enggak usah dipaksa."

Lihat selengkapnya