Malam itu, di meja makan, ributnya kecil. Sekecil-kecilnya ribut yang pernah ada di rumah ini.
Damba enggak mau makan sayur. Bagja maksa dengan nada dipaksain santai, "Abisin dulu, baru boleh maen." Damba ngambek, nyodorin piring menjauh. Bagja mulai ngomel pelan, capek abis kerja, enggak punya tenaga buat drama picisan soal buncis.
"Ayah enggak ngerti," gerutu Damba, suaranya naik satu oktaf, tanda-tanda mau nangis. Kecil. Sepele. Ribut semacam ini kalau di keluarga lain bakal kelar dalam lima menit, terus lupa.
Tapi Rindu, duduk di antara mereka, ngerasa dadanya kejepit sesuatu. Bukan karena riuhnya. Ini enggak seberapa dibanding yang biasa dia hadapin. Yang bikin sesak adalah keinginan yang muncul duluan, lebih cepat dan lebih jelas.
Berhenti aja dulu. Sebentar aja.
Kali ini beda. Biasanya keinginan itu dateng pas dia udah kepepet, udah enggak sanggup, refleks kayak tangan yang narik diri dari api. Kali ini dia ngerasain keinginan itu sebelum keributannya beneran gede.
Dia bisa milih diem aja. Biarin mereka berantem tiga menit, reda sendiri, terus makan lagi bareng-bareng, sama kayak minggu lalu waktu berantem soal remote tivi.
Tapi tangannya udah gerak duluan. Bukan tangan beneran. Sesuatu di dadanya, yang dia udah hafal rasanya, yang kali ini dia tarik keluar sengaja, bukan lagi kejadian sendiri.
Waktu berhenti.
Damba beku di tengah "Ayah enggak—", mulutnya masih monyong nahan tangis. Bagja beku dengan tangan masih ngangkat sendok. Matanya masih tajam, belum sempat berubah jadi nyesel.
Uap dari sayur sup di piring Damba berhenti ngepul, diem di udara kayak asap rokok yang lupa cara naik. Setetes air mata di pipi Damba nggantung di situ, enggak jatoh-jatoh, kayak lem yang belum kering.
Rindu duduk di situ, sendirian, di antara dua orang yang membeku dengan wajah masih penuh emosi yang belum sempat selesai.
Dia natapin mereka lama. Dia ngitung berapa detik dia udah diem di situ. Sepuluh. Dua puluh. Angka-angka itu enggak ngasih dia ketenangan biasa. Kali ini malah kerasa kayak bom waktu.
Yang kepikiran bukan lega. Bukan napas panjang yang biasa dia tunggu-tunggu.
Kalau dia biarin waktu berhenti tiap kali ada ribut sekecil ini, berapa lama sampai dia dan keluarganya juga lupa cara ribut? Berapa lama sampai Damba berhenti berani bilang "Ayah enggak ngerti", dan mulai bilang "iya, deh, terserah" kayak skrip yang dihafal terlalu lama?
Rindu ngerasa dingin, di ruang makan yang beku itu.
Dia natap Damba dulu. Air mata anak itu nyangkut di pipi, enggak jatuh-jatuh, dan sesaat Rindu mikir, kalau dia mau, dia bisa nyeka itu sebelum waktu jalan lagi. Enggak akan ada yang tau Damba nangis hari ini.
Dia natap ayahnya. Sendoknya masih ngambang. Mulutnya masih kebuka buat kalimat yang enggak akan selesai. Rindu bisa aja nyusun ulang kalimat itu. Dia bisa ganti jadi sesuatu yang lebih lembut, dan Bagja enggak akan pernah tau kalau dirinya mau ngomong sekasar itu.
Beberapa detik, dia ngebayangin semuanya kayak lagi milih menu. Ganti ekspresi ini. Hapus kalimat itu. Susun ulang biar lebih rapi.
Yang bikin dia takut bukan karena dia bisa. Yang bikin dia takut, itu terasa kayak pilihan yang masuk akal.
Tangannya nyenggol sesuatu, tepat saat dia lepasin waktu buat kembali jalan normal.
PRANG.
Gelas kaca di rak piring pecah, jatuh ke lantai. Retakannya nyebar dari satu titik, cepat, kayak es yang dipaksa mencair terlalu tiba-tiba.
"—ngerti," Damba nerusin kalimatnya, air mata jatuh satu tetes. Bagja nurunin sendoknya, tapi matanya sekarang melotot.
Bagja berdiri cepat. "Eh, kok—ulah siapa ini?"
Damba, yang tadinya masih sesenggukan, malah berhenti nangis saking kagetnya. "Aku enggak nyentuh, Yah!"
"Udah, ayok, beresin." Buru-buru Rindu nambahin. Suaranya kedengeran terlalu cepat.
Bagja natap gelas itu, terus natap Rindu, agak lama. Enggak nuduh. Cuma... bertanya-tanya.
Rindu ngambil sapu. "Aku aja, deh, yang beresin."
Bagja segera bantu mungutin pecahannya. "Enggak usah makan sayur juga enggak apa-apa, Damba. Besok aja."
Rindu duduk di situ. Jantungnya masih deg-degan. Ada rasa nyeri kecil di pelipisnya, kayak abis nahan sesuatu berat dengan otot yang enggak biasa dipake buat itu.
Dia baru sadar sesuatu yang lebih nakutin dari sekadar waktu berhenti sendiri tanpa dia mau.
Dia udah bisa ngendaliin kekuatannya.
Beberapa hari sesudah kejadian gelas pecah, Damba pulang sekolah dengan wajah kusut. Dia nyari Rindu di dapur.
"Kak, tadi ada yang ngatain aku lagi. Anak kelas lima yang dulu."
Rindu berhenti nyuci sebentar, tapi enggak nengok penuh. "Ngatain apa?"
"Nggak penting, sih, tapi—" Damba narik napas, siap-siap cerita gimana dia hampir kelepasan pakai kekuatannya lagi, gimana dia nahan diri mati-matian sampai tangannya gemeteran. Ini cerita yang, buat dia, penting. Ini bukti dia berhasil nahan diri.
"Kamu enggak pake kekuatan itu, kan?" potong Rindu, cepat, sebelum Damba sempat nyelesain kalimatnya.
"Enggak, Kak, makanya aku mau cerita—"
"Bagus. Jangan pernah pake, ya. Apapun alasannya." Rindu balik ke piringnya. "Kamu udah makan belum?"