Aku turun ke tingkat suara yang paling pelan, yang paling jarang aku pakai, karena biasanya aku enggak butuh serendah ini buat penghuni yang udah cukup lelah. Aku sengaja bikin suaraku lebih kedengeran sama manusia kali ini.
Enam keluarga sebelumnya enggak pernah butuh suara serendah ini. Cukup satu-dua kalimat manis, mereka udah nurut, udah nyerah, udah bilang iya sebelum aku sempet nawarin lebih jauh. Buat Rindu, aku harus mikirin nada, mikirin kata, milah-milah kalimat kayak lagi negosiasi sama orang yang enggak bakal percaya apa pun sebelum aku buktiin dulu.
"Rindu."
Dia noleh, nengok ke arahku. Matanya masih basah. Aku menampakkan diri dalam bentuk kabut spiral yang terbuat dari debu-debu.
Aku enggak bermaksud bikin dia kaget.
"Namaku Rumemo, ngomong-ngomong. Belum pernah aku kasih tau, ya? Kita sempet 'ngobrol' pertama kali kamu ke sini, dan sekali lagi di ruang bawah tanah, tapi aku enggak pernah sempet kenalan resmi sama kamu. Kedengerannya aneh, kan, rumah kenalan sama penghuninya sendiri? Tapi ya udahlah, itu bukan poinnya sekarang, aku cuma—"
"Jadi, kamu... selama ini... yang ngasih aku kekuatan?" Rindu motong, cepet, enggak sabar nunggu aku nyelesain kalimat yang menurutnya enggak penting.
"Iya," jawabku, tapi aku segera meralat, karena aku enggak suka kalau jawabanku kedengeran terlalu simpel. "Tapi enggak juga. Enggak sepenuhnya. Maksudku, aku enggak munculin semuanya dari kosong, aku bukan tukang sulap, aku juga bukan—hm, gimana ya jelasinnya—kamu tau pohon beringin di depan gang? Itu enggak nyiptain daunnya dari kosong juga, kan, dia cuma nyerap apa yang udah ada di tanah dan matahari, terus… oke, itu analogi yang buruk, lupain. Intinya, tetep butuh keputusan kamu sendiri, apa kamu mau kasih luka kamu ke aku. Kalau iya, kamu dapet kekuatan itu. Kalau enggak, ya enggak. Sesimpel itu, tapi juga enggak sesimpel itu, karena…"
"Ah, ya... gara-gara luka..." Rindu motong lagi, pelan, enggak nunggu aku nyelesain kalimat.
Aku ngebawa Rindu buat lihat Damba main di halaman bareng beberapa anak, termasuk Gugu.
"Lihat," bilangku, pelan. "Enggak ada lagi yang berani nyakitin dia." Aku diam bentar, sengaja, biar kesannya dramatis. "...meskipun sekarang dia lebih jarang ketawa sungguhan. Ketawa yang beneran, maksudku, bukan yang dipasang buat nutupin sesuatu. Kamu tau bedanya, kan? Pasti tau. Kamu juga sering gitu. Oh, itu ngingetin aku, dulu ada penghuni, keluarga ketiga kalau enggak salah, yang ketawanya kayak kaset rusak, sama persis tiap kali, aku sampe bisa nebak kapan dia bakal ketawa cuma dari cara dia narik napas—maaf, aku ngelantur. Balik ke Damba."
"Karena mereka takut," kata Rindu, cuma itu, natap Damba dari jauh, suaranya datar, kayak enggak niat nanggepin cerita soal keluarga ketiga.
"Itu lebih baik daripada dia yang terus takut." Aku lanjutin dengan yakin, semangat malah, karena aku pikir ini argumen paling kuat yang aku punya. "Dulu tiap pulang sekolah dia selalu takut. Aku inget, jalannya beda, kepalanya nunduk, tangannya ngepel kenceng, sama kayak—ah, ini juga ngingetin aku sama anak dari keluarga Cassandra, dia juga suka nunduk kalau lewat gang, tapi itu ceritanya beda lagi, intinya—bukannya kamu juga pengen Damba enggak takut lagi? Kamu sendiri yang bilang gitu, waktu kalian baru dateng ke sini."
"Rumemo." Rindu narik napas, tajam, kesel. "Cepetan aja. Kamu mau ngomong apa?"
Aku berhenti sebentar. Enggak biasanya ada yang minta aku mempercepat sesuatu.
"Oke. Baik. Kamu bilang kamu pengen ngelindungin dia, dan aku yang malah berhasil. Terus kenapa kamu marah?"
Rindu mendelik. Nggak mau mandang aku. Dia natap Damba yang ketawa di halaman.
"Dia enggak takut sama anak-anak di sekolah. Enggak takut ditinggal. Enggak takut kehilangan. Aku ngambil rasa sakit dia. Dan kamu pengen rasa sakit itu dikembaliin? Kenapa? Coba jelasin ke aku, aku beneran pengen ngerti logikanya, soalnya kalau dipikir-pikir enam keluarga sebelumnya juga—"
"Rumemo." Suaranya makin ketus.
"Oke, oke."
Rindu terpaku. Mulutnya kebuka, tapi enggak ada suara yang keluar.
"Aku udah ngajarin adik kamu buat berhenti takut," lanjutku, karena aku enggak tahan sama kesunyian yang dia bikin.
Rindu ngeliat Damba yang ketawa bareng anak-anak tetangga. Butuh waktu lama sebelum dia akhirnya bilang, lemah, pelan, cuma satu kalimat, "Suatu hari nanti dia akan lupa kenapa dia dulu takut."
Buat itu, aku enggak langsung jawab.
*
"Kamu enggak bakal bisa nyembunyiin ruangan itu lagi dariku," kata Rindu, tenang. Enggak ada nada marah, enggak ada nada nanya. Cuma pernyataan.
"Enggak," aku ngaku. "Begitu kamu cukup keras kepala nyari, aku enggak punya cara buat nahan pintunya ketutup terus. Aku udah coba, sebenarnya, berkali-kali, kamu enggak sadar aja. Aku pernah nyoba bikin kamu ngantuk pas kamu nulis-nulis di buku catatan malem-malem, kamu inget enggak, aku bahkan sampe narik semua kantuk yang ada di rumah ini taruh ke kamar kamu doang, itu enggak sopan sebenernya buat kamar-kamar lain yang jadi enggak kebagian, tapi ya udahlah, ternyata enggak mempan juga. Aku juga—"
"Rumah." Rindu motong, matanya merem sebentar, kayak lagi nahan diri. "Maksudku, Rumemo. Aku enggak nanya soal itu."
Rindu terduduk.
"Sekarang aku tahu kamu capek," ujarku. "Aku tahu kamu satu-satunya yang masih inget semuanya. Beban itu berat, kan? Ngeliat ayahmu ketawa tanpa alasan yang jujur. Ngeliat adikmu tumbuh tanpa tahu siapa ibunya. Semua beban itu, kamu tanggung sendirian. Aku liat itu tiap malem, dari cara kamu napas sebelum tidur, dari cara kamu muterin sekrup jam tangan kamu, oh, itu juga aku penasaran sebenernya, kenapa kamu selalu bikin jamnya telat sepuluh menit, aku sempet mikir itu ada hubungannya sama—"
"Terus?" suara Rindu parau, motong lagi, kali ini lebih tajam. "Kamu mau ngurangin sakitnya dengan ngasih kekuatan apa lagi? Aku harus kasih kenangan tentang apa lagi?"
"Aku enggak mau ambil apa-apa lagi dari kamu," ungkapku. "Aku mau kasih sesuatu yang lebih besar dari kekuatan apa pun."
Tenggorokan Rindu tercekat. Curiga, tapi juga, aku bisa dengar, ada secercah harapan yang enggak bisa dia tahan.
"Kasih apa?" Dua kata. Enggak lebih.
"Aku bisa kembaliin wajah ibumu. Bukan wajah yang dulu aku ambil, itu enggak mungkin, sekali diambil ya udah, tapi aku bikin ulang, dari serpihan yang masih aku punya, dari semua yang aku kumpulin selama ini, aroma sup kacang merah, nada nyanyiannya, cara dia manggil nama kamu—oh, dan gunting, dia sering kehilangan gunting, kamu inget enggak momen itu, waktu dia selalu nanya 'Rindu, gunting Ibu di mana', itu detail kecil tapi aku suka banget nyimpen yang begituan, soalnya—"