Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #27

Tawaran Paling Jujur yang Pernah Aku Ucapkan

Aku turun ke tingkat suara yang paling pelan, yang paling jarang aku pakai, karena biasanya aku nggak butuh serendah ini buat penghuni yang udah cukup lelah. Aku sengaja bikin suaraku lebih kedengeran sama manusia kali ini.

"Rindu."

Dia noleh, nengok ke arahku. Matanya masih basah. Aku menampakkan diri dalam bentuk kabut spiral yang terbuat dari debu-debu.

Aku gak bermaksud bikin dia kaget.

"Namaku Rumemo, ngomong-ngomong. Belum pernah aku kasih tau, ya? Kita sempet 'ngobrol' pertama kali kamu ke sini, dan sekali lagi di ruang bawah tanah, tapi aku nggak pernah sempet kenalan resmi sama kamu."

“Jadi, kamu… selama ini… yang ngasih aku kekuatan?”

“Iya,” jawabku, tapi aku segera meralat. “Tapi nggak juga. Nggak sepenuhnya. Tetep butuh keputusan kamu sendiri, apa kamu mau kasih luka kamu ke aku. Kalau iya, kamu dapet kekuatan itu.”

“Ah, ya… gara-gara luka…”

Aku ngebawa Rindu buat lihat Damba main di halaman bareng beberapa anak, termasuk Gugu.

Aku bilang pelan, "Lihat. Nggak ada lagi yang berani nyakitin dia.” Tapi, aku diam bentar. Sedikit nambahin. "...meskipun sekarang dia lebih jarang ketawa sungguhan."

"Karena mereka takut."

"Itu lebih baik daripada dia yang terus takut." Kata-kata itu aku lanjutin dengan yakin, "Dulu tiap pulang sekolah dia selalu takut. Sekarang? Dia pulang tanpa beban. Bukannya kamu juga pengen Damba nggak takut lagi?"

Rindu mulai goyah.

Dia tahu, yang kubilang ini memang benar.

"Kamu bilang kamu pengen ngelindungin dia… dan aku yang malah berhasil,” terangku. "Terus kenapa kamu marah?"

Aku nunjuk ke arah Damba. "Dia nggak takut sama anak-anak di sekolah. Nggak takut ditinggal. Nggak takut kehilangan. Aku ngambil rasa sakit dia. Dan kamu pengen rasa sakit itu dikembaliin?"

Rindu diam.

"Aku udah ngajarin adik kamu buat berhenti takut."

Rindu melihat Damba yang ketawa bareng anak-anak tetangga. Lalu dia bilang dengan lemah, "Suatu hari nanti dia akan lupa kenapa dia dulu takut."

Buat itu, aku nggak langsung jawab.

*

“Sekarang aku tahu kamu capek," ujarku. Kayaknya, ini waktu yang tepat buat nawarin sesuatu yang spesial. "Aku tahu kamu satu-satunya yang masih inget semuanya. Beban itu berat, kan? Ngeliat ayahmu ketawa tanpa alasan yang jujur. Ngeliat adikmu tumbuh tanpa tahu siapa ibunya. Semua beban itu, kamu tanggung sendirian."

"Terus?" suara Rindu parau. "Kamu mau ngurangin sakitnya dengan ngasih kekuatan apa lagi? Aku harus kasih kenangan tentang apa lagi?"

"Aku nggak mau ambil apa-apa lagi dari kamu," kataku, dan ini, sejujurnya, bagian yang paling jujur dari semua yang pernah aku ucapin ke penghuni mana pun. "Aku mau kasih sesuatu yang lebih besar dari kekuatan apa pun."

Rindu diam. Curiga, tapi juga, aku bisa dengar, ada secercah harapan yang nggak bisa dia tahan.

"Kasih apa?"

Lihat selengkapnya