Origa nyamperin Rindu di pembatas pagar lagi, malam itu, waktu Rindu abis nolak tawaran wajah Kenanga. Kali ini dia enggak buru-buru.
"Aku denger kamu nolak," kata Origa.
Rindu enggak nanya dari mana anak itu tau. Dia cuma ngangguk.
Origa duduk di rumput, ngeluarin kertas dari saku, mulai melipat. Bukan burung. Bukan bentuk apa pun yang jelas. Cuma lipatan demi lipatan, kayak tangannya butuh kerjaan biar mulutnya berani ngomong.
"Bagus kalau kamu bisa nolak. Aku enggak tau kenapa aku ngerasa itu penting buat aku bilang, tapi emang penting, jadi aku bilang aja," katanya, kalimatnya keluar cepat, hampir enggak ada jeda, kayak dia takut kalau berhenti sebentar dia bakal ganti pikiran buat enggak jadi cerita.
"Bagus?"
"Iya, bagus, karena—" Origa berhenti melipat, natap kertasnya sendiri sebentar, terus lanjut melipat lagi, lebih cepat. "Rumah ini punya semacam baterai. Aku enggak tau siapa yang pertama kali nyebutnya begitu, mungkin salah satu dari lima keluarga sebelum keluargaku, aku sendiri denger ini pas masih kecil banget, jadi aku enggak inget detailnya, tapi intinya, dia bisa lemah dan kelaparan, dia ngisi ulang energi lewat makan, atau barter sesuatu, dan…”
"...tiap kekuatan yang lahir dari luka, kalau terus dipake, ngikis pemiliknya sampe abis." Origa natap kertas gagalnya sendiri. "Kertas ini juga gitu, sebenernya. Kelamaan dilipat-lipat, seratnya rusak, gampang sobek." Dia sadar diri, geleng kepala. "Bukan itu, maksudku bukan itu. Pokoknya, bukan cuma ingatan. Diri kamu sendiri."
Napas Rindu ketahan, mencerna semua itu. "Origa—"
"Aku enggak tau kenapa aku baru sekarang bilang," Origa motong duluan, kertas di tangannya udah jadi gumpalan enggak berbentuk, dilipat-lipat ulang tanpa arah. "Mungkin karena sekarang kamu udah buktiin kamu enggak bakal nyerah kayak yang lain, atau mungkin karena aku sendiri enggak yakin ini bakal berguna, atau—" Dia berhenti sendiri, kayak kehabisan napas dari kalimatnya sendiri.
Dia ngelempar kertas itu ke rumput. Enggak dipungut lagi.
"Rasanya kayak buang-buang omongan doang kalau aku kasih tau orang yang bakal nyerah abis itu," katanya, akhirnya, lebih pelan, lebih pendek dari semua kalimat sebelumnya. "Jadi aku tunggu. Sampai aku yakin kamu enggak bakal kayak gitu."
*
Malam sesudah Rindu nolak tawaran wajah Kenanga, aku enggak langsung mikirin dia lagi. Aku mikirin Sukmiati.
Bukan Bu Sukama. Sukmiati, sebelum nama itu jadi nama lain, sebelum kartu-kartu tanda pengenal itu dia bagi-bagiin kayak identitas yang harus terus diingatkan.
Sepuluh tahun lalu, dia duduk di lantai ruang tengah, sendirian. Suaminya udah lebih dulu menyerah ke ketenangan yang aku kasih, anak-anaknya masih terlalu kecil buat diajak diskusi.
Dia udah coba melawan sendirian selama beberapa bulan. Tikus-tikus di pojok kamarnya jadi satu-satunya temen ngobrol, karena dia yang nyuruh mereka gerak, biar ruangan itu keliatan rame.
Suaminya yang dulu, yang meninggal waktu Origa masih kecil, sering bilang, setengah bercanda setengah capek, kalau ribut Sukmiati enggak ada abisnya. Dia enggak pernah nganggep itu kekurangan. Dia cuma ingin didengarkan.