Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #22

6 Keluarga yang Nggak Pernah Sampai Sejauh Rindu

Origa nyamperin Rindu di pembatas pagar lagi, malam itu, waktu Rindu abis nolak tawaran wajah Kenanga. Kali ini dia enggak buru-buru.

"Aku denger kamu nolak," kata Origa.

Rindu nggak nanya dari mana anak itu tau. Dia cuma ngangguk.

Origa duduk di rumput, lama enggak ngomong apa-apa. Terus, akhirnya, kayak abis mutusin sesuatu yang udah lama dia tahan:

"Bagus kalau kamu bisa nolak."

"Bagus?"

"Rumah ini punya… semacam… baterai. Dia bisa lemah dan kelaparan. Dia ngisi ulang energi lewat… makan, atau barter sesuatu. Aku enggak tau siapa yang pertama kali nyebut itu, mungkin salah satu dari lima keluarga sebelum keluargaku. Tapi intinya gini: tiap kekuatan yang lahir dari luka, kalau terus dipake, ngikis pemiliknya sampe abis. Bukan cuma ingatan. Tapi… diri kamu sendiri. Rambut kamu, umur kamu, siapa kamu."

Napas Rindu ketahan, mencerna semua itu.

"Kenapa baru sekarang kamu bilang?"

"Karena sekarang kamu udah buktiin kamu enggak bakal nyerah kayak yang lain," jawab Origa. "Aku enggak mau kasih tau orang yang bakal nyerah abis itu. Rasanya kayak buang-buang omongan doang."

*

Malam sesudah Rindu nolak tawaran wajah Kenanga, aku nggak langsung mikirin dia lagi. Aku mikirin Sukmiati.

Bukan Bu Sukama. Sukmiati, sebelum nama itu jadi nama lain, sebelum kartu-kartu tanda pengenal itu dia bagi-bagiin kayak identitas yang harus terus diingatkan.

Sepuluh tahun lalu, dia duduk persis di posisi yang sama kayak Rindu malam itu. Sendirian, di lantai ruang tengah. Suaminya udah lebih dulu menyerah ke ketenangan yang aku kasih, anak-anaknya masih terlalu kecil buat diajak diskusi.

Dia udah coba melawan sendirian selama beberapa bulan. Tikus-tikus di pojok kamarnya jadi satu-satunya temen ngobrol, karena dia yang nyuruh mereka gerak, biar ruangan itu keliatan rame, biar dia nggak ngerasa sendirian banget.

Suaminya yang dulu, yang meninggal waktu Origa masih kecil, sering bilang, setengah bercanda setengah capek, kalau ribut Sukmiati enggak ada abisnya. Dia enggak pernah nganggep itu kekurangan. Dia cuma ingin didengarkan.

Lihat selengkapnya