Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #28

6 Keluarga yang Nggak Pernah Sampai Sejauh Rindu

Malam sesudah Rindu nolak tawaran wajah Kenanga, aku nggak langsung mikirin dia lagi. Aku mikirin Sukmiati.

Bukan Bu Sukama. Sukmiati, sebelum nama itu jadi nama lain, sebelum kartu-kartu tanda pengenal itu dia bagi-bagiin kayak identitas yang harus terus diingatkan.

*

Sepuluh tahun lalu, dia duduk persis di posisi yang sama kayak Rindu malam itu. Sendirian, di lantai ruang tengah, suaminya udah lebih dulu menyerah ke ketenangan yang aku kasih, anak-anaknya masih terlalu kecil buat diajak diskusi.

Dia udah coba melawan sendirian selama beberapa bulan. Tikus-tikus di pojok kamarnya jadi satu-satunya temen ngobrol, karena dia yang nyuruh mereka gerak, biar ruangan itu keliatan rame, biar dia nggak ngerasa sendirian banget.

Dia dulu dikenal di kampungnya sebagai perempuan yang nggak pernah bisa diem kalau ada yang salah. Bukan cerewet. Jujur, sampai kadang nyusahin diri sendiri. Dia yang protes ke ketua RT soal jatah bantuan yang nggak rata. Dia yang, waktu anak tetangganya dipukulin bapaknya sendiri, dateng ke rumah itu tengah malam, gedor pintu, teriak sampai tetangga lain keluar semua.

Suaminya, yang meninggal waktu Origa masih kecil, sering bilang ke dia, setengah bercanda setengah capek, "Kamu ini kalau ribut kayak nggak ada abisnya, ya."

Dia nggak pernah nganggep itu kekurangan. Ribut, buat dia, artinya masih peduli.

Terus suaminya meninggal, kecelakaan kerja, dan Sukmiati sendirian sama tiga anak, di kota yang nggak dia kenal siapa-siapanya. Dia coba pertahanin cara lamanya, protes kalau ada yang salah, ribut kalau ada yang nggak adil. Tapi ributnya sekarang nggak ada yang dengerin. Nggak ada suami yang nenangin sambil bilang dia bener. Cuma tiga anak kecil yang, kalau dia lagi capek dan mereka rewel bareng-bareng, bikin dia ngerasa kayak lagi tenggelam sendirian, dan nggak ada satu pun suara di sekitarnya yang bisa dia ajak ribut bareng, cuma suara yang minta lebih.

Dia nikah lagi sama tetangganya sendiri yang kebetulan sering potong rumput di halaman. Dia nggak butuh sosok pelindung buat anak-anaknya. Tapi dia berharap, ada sosok asing yang masih bisa dia pinta apa pun sesuka hati. Laki-laki itu ternyata cukup pintar buat menggantikan pekerjaan suaminya di kantor. 

Beda dengan anak-anaknya, Pak Ujang, laki-laki itu, tidur di kamar busa, yang dulunya adalah garasi. Makin lama, dia bisa nyerap semua suara yang terlalu tinggi. Dia punya kemampuan buat bikin dunia sekitarnya jadi hening, bebas dari polusi suara. Tapi, dia sendiri hampir gak punya suara jadinya, kayak sakit tenggorokan. Mungkin karena udah keseringan nyerap.

Cahaya bulan yang bawa Sukmiati dan anak-anaknya ke gangku. Mereka abis ditegor tetangga karena anak-anaknya berisik jam sepuluh malam. Sukmiati nunggu suaminya balik dari kantor, natap tiga anaknya yang masih nangis gara-gara berantem rebutan selimut, dan baru malam itu, dia ngerasa capek buat ribut. Bukan capek badan. Capek jadi orang yang harus terus jadi kuat sendirian, tanpa ada yang nenangin balik.

Lihat selengkapnya