Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #30

Koper Setengah Isi dan Tikus-Tikus di Pojok Gudang

Suatu sore, sebelum semuanya makin runyam, Origa nyamperin Rindu di pembatas pagar, tergesa, beda dari biasanya yang santai.

"Aku denger Ibu mulai lebih sering ngomong ke Gugu pake suara itu," katanya, pelan, matanya nggak bisa diem. "Aku takut, giliran aku berikutnya. Kamu udah nemu apa-apa? Cara buat... aku juga?"

Rindu, waktu itu, lagi capek abis kerja. Kepalanya penuh sama Damba yang mulai aneh sama tatapannya, sama Bagja yang makin ringan jalannya. Dia jawab, buru-buru, nggak sepenuhnya salah tapi juga nggak sepenuhnya jujur:

"Aku belum sempet mikirin itu, Origa. Banyak yang aku urus.”

Origa diem. Dia manggut, kayak emang udah nebak jawaban itu bakal keluar cepat atau lambat.

"Oke," katanya, singkat, dan pergi cepat-cepat sebelum dipanggil ibunya.

Rindu nggak mikirin itu lagi malam itu. Dia nggak sadar dia baru aja jawab persis kayak semua orang dewasa yang pernah bikin dia kecewa. Janji nanti, dengan nada yang bikin "nanti" itu kedengeran kayak nggak akan pernah datang.

*

Aku masih mikirin Bu Sukmiati waktu Rindu turun ke ruang bawah tanah malam itu: gimana kekuatan yang tadinya senjata bisa berubah jadi mainan. Aku pikir udah selesai, udah lega Rindu nolak tawaranku.

Ternyata belum. Rindu belum selesai juga.

Malam itu, diam-diam, dia keluarin koper lama yang teronggok di sudut gudang. Mulai packing. Baju, buku catatan kecilnya, foto keluarga yang dipotret ulang tanpa Ibu—satu-satunya yang selamat dari rampasanku.

Kayaknya, dia udah nahan diri buat nggak ngebekuin jarum jam satu detik atau satu menit malam itu. Kalau dia mau, dia bisa bikin proses packing ini kelar dalam sekejap, tanpa harus dengar isi kepalanya sendiri yang berisik. Tapi dia nggak pake kekuatannya. Sejak kejadian sama Damba, dia udah janji ke diri sendiri: cara manusia. Bukan cara jalan pintas.

Damba kebangun, lihat kakaknya packing.

"Kakak mau ke mana?"

"Kita pindah, Damba. Kita harus keluar dari sini."

"Kenapa? Kan, di sini enak."

"Karena rumah ini nggak baik buat kita," Rindu nyari kata yang bisa dimengerti bocah sekecil itu. "Dia ngambil hal-hal penting dari kita, pelan-pelan. Kekuatan kamu, kekuatan Ayah, itu bukan hadiah. Itu harga."

Damba nggak ngerti. Tangannya ngepel, jari-jarinya gemetar. Ada yang ngumpul di dadanya, kayak dulu di lapangan sekolah.

Suara ribut-ribut itu bangunin Bagja. Dia liat koper setengah penuh, wajahnya berubah kaku. Kaku yang nggak biasa dari dia yang selalu lembut.

"Rindu, kamu ngapain?"

"Kita harus pergi, Yah. Rumah ini nyuri ingatan kita! Ayah lupa resep sup kacang merah bukan karena tua. Itu diambil."

"Kamu capek, Rindu. Istirahat aja dulu."

Lihat selengkapnya