Suatu sore, sebelum semuanya makin runyam, Origa nyamperin Rindu di pembatas pagar, tergesa, beda dari biasanya yang santai. Kertas di tangannya udah lecek, dilipat-lipat berkali-kali tanpa jadi bentuk apa pun.
"Aku denger Ibu mulai lebih sering ngomong ke Gugu pake suara itu, dan aku enggak tau ini bakal jadi kayak apa nanti, tapi—" Origa berhenti, natap kertasnya sendiri. "Aku takut, giliran aku berikutnya. Kamu udah nemu apa-apa? Cara buat... aku juga?"
Rindu, waktu itu, lagi capek abis kerja. Kepalanya penuh sama Damba yang mulai aneh sama tatapannya, sama Bagja yang makin ringan jalannya.
"Belum sempet," katanya, singkat. "Banyak yang aku urus."
Lidah Origa sesaat kelu. Dia manggut, kayak emang udah nebak jawaban itu bakal keluar cepat atau lambat.
"Oke," katanya, dan pergi cepat-cepat sebelum dipanggil ibunya.
Rindu enggak mikirin itu lagi malam itu. Dia enggak sadar dia baru aja jawab persis kayak semua orang dewasa yang pernah bikin dia kecewa.
*
Aku masih mikirin Bu Sukmiati waktu Rindu turun ke ruang bawah tanah malam itu: gimana kekuatan yang tadinya senjata bisa berubah jadi mainan. Aku pikir udah selesai, udah lega Rindu nolak tawaranku.
Ternyata belum. Rindu belum selesai juga.
Malam itu, diam-diam, dia keluarin koper lama yang teronggok di sudut gudang. Mulai packing. Baju, buku catatan kecilnya, foto keluarga yang dipotret ulang tanpa Ibu, satu-satunya yang selamat dari rampasanku.
Kayaknya, dia udah nahan diri buat enggak ngebekuin jarum jam satu detik atau satu menit malam itu. Kalau dia mau, dia bisa bikin proses packing ini kelar dalam sekejap. Tapi dia enggak pake kekuatannya. Sejak kejadian sama Damba, dia udah janji ke diri sendiri: cara manusia. Bukan cara jalan pintas.
Damba kebangun, lihat kakaknya packing.
"Kakak mau ke mana?"
"Kita pindah, Damba."
"Kenapa?" Damba masih setengah ngantuk. "Kan, di sini enak."
"Rumah ini enggak baik buat kita." Rindu jongkok di depannya. "Kekuatan kamu itu bukan—" Dia berhenti sendiri, enggak tau gimana jelasinnya ke anak sepuluh tahun. "Pokoknya kita harus pergi."
Damba enggak ngerti. Tangannya ngepel, jari-jarinya gemetar.
Suara ribut-ribut itu bangunin Bagja. Dia liat koper setengah penuh, wajahnya berubah kaku.
"Rindu, kamu ngapain?"
"Kita harus pergi, Yah. Rumah ini nyuri ingatan kita!" Kata-kata Rindu keluar cepat, satu napas. "Ayah lupa resep sup kacang merah bukan karena tua. Itu diambil."
"Kamu capek, Rindu. Istirahat aja dulu."