Sebelum malam itu, sebelum koper dikeluarkan lagi dari sudut gudang, ada satu hal yang Rindu coba dulu. Hal yang, kalau berhasil, mungkin bikin aku, rumah ini, ditelan bumi sampai nggak ada jejaknya.
Dia coba telepon.
Sore itu, sepulang kerja dari laundry keliling, Rindu duduk di teras belakang, buka kertas lipat yang selama ini dia simpan hati-hati di bawah bantal. Nomor dinas sosial kecamatan, tulisan tangan Bu Wening, agak buram di lipatan karena udah terlalu sering dibuka-tutup.
Nada sambung.
Satu kali. Dua kali.
Terus putus.
Rindu mengernyit, coba lagi. Nada sambung lagi, kali ini lebih lama, sampai delapan kali dering, sebelum akhirnya ada suara di ujung sana, terputus-putus, kayak radio yang setengah jalan keluar dari jangkauan siaran.
"Ha... —selamat... —dinas so—"
"Halo? Halo, Bu, saya bisa dengar, tapi putus-putus—halo?"
Lalu diam. Bukan nada sibuk. Cuma diam, kosong, seperti telepon itu masih tersambung ke suatu tempat, tapi tempat itu nggak lagi punya suara buat dikirim balik.
Aku yang melakukan itu. Aku nggak bisa mendengar isi kepala orang di luar pagarku, tapi aku bisa mendengar apa yang lewat lewat udara di dalam batasku, dan sinyal itu, selama masih lewat ruang yang aku kuasai, adalah sesuatu yang bisa aku ganggu.
Rindu coba lagi. Kali ini dia jalan ke halaman depan, berharap sinyal lebih baik di luar rumah.
Tujuh kali dalam setengah jam. Panggilan kedelapan, akhirnya tersambung penuh. Suara di seberang jelas, seorang perempuan, ramah, menyebutkan nama instansinya lengkap.
Aku matikan televisi di ruang tengah, seketika, tanpa alasan. Rindu menoleh sebentar, kaget, dan itu cukup. Aku memutus sambungannya di titik yang paling menyakitkan: pas suara di seberang baru saja bilang, "Baik, bisa saya bantu apa—"
Tut. Tut. Tut.