Bagja berdiri lagi di depan cermin. Kali ini, bukan cuma ujung jarinya yang buram. Selama beberapa detik, seluruh pantulannya kabur, kayak sinyal TV yang ilang sinyal sepenuhnya, bukan cuma berkedip. Dia sendiri nggak sadar. Tapi aku sadar.
Aku ngitung. Kalau dia terus kehilangan bagian dari dirinya dengan kecepatan segini, aku nggak akan sempet nawarin apa pun lagi sebelum dia beneran ilang.
Rindu udah ngambil separuh jatah usianya, karena dia keseringan minta tenggat waktu buat ngelakuin banyak hal. Dia pulang dengan tertatih-tatih, persendian kakinya kaku. Dan hari ini, sisa satu hari, sebelum Damba bener-bener lupa sama kakaknya. Rindu noleh jam, kepaksa lagi buat bikin jarumnya membeku. Dia nggak bisa lakuin apa-apa selain nangis selama waktu berhenti.
Damba masih bisa aku jangkau, tapi hari ini dia takut buat keluar kamar. Dia ngunci diri di dalam sana dengan barang-barang yang terpental. Kamarnya kayak kapal pecah sekarang.
Makin lama, aku jadi makin takut mereka kayak penghuni-penghuni lain yang udah-udah, beneran nguap. Entah jadi abu, entah menyatu dengan material rumah ini.
Malam itu, aku berhenti nyari alasan kecil buat bergerak. Aku langsung ke yang besar.
*
Aku geser kamar Rindu.
Bukan badannya. Kamarnya sendiri, yang selama ini aku anggap tetap, aku ubah pelan-pelan sepanjang malam, sambil dia nangis. Wajahnya tenggelam di bantal.
Dinding es yang biasa dia tempelin tangannya sebelum tidur, aku ganti teksturnya, sedikit demi sedikit, jadi permukaan yang lebih lembut, lebih hangat, lebih mirip kamar boneka yang dulu aku tawarin dan dia tolak.
Aku nggak pindahin dia ke kamar lain. Aku pindahin kamar itu ke dia.
Aku tau ini beda dari geser cermin sesenti atau sepuluh senti. Aku tau ini beda dari ayunan yang goyang dikit. Ini bukan lagi hal kecil yang bisa aku bela ke diriku sendiri dengan alasan "cuma buat nenangin."
Ini nuker kekuatan. Kekuatan yang dia butuhin saat ini.
*
Di saat yang sama, di ujung lorong yang lain, aku juga udah gerak ke arah Damba, lebih jauh dari sekadar goyangin ayunan buat nenangin mimpi buruk.
Aku bikin kamar ayunannya bergoyang lagi. Setiap goyangan, aku ambil sedikit dari kesadarannya. Dia harus tahu siapa yang dia takutin waktu dia marah.
Aku nggak nunggu dia minta. Aku nggak nunggu dia nyerahin apa pun.
Aku cuma ambil.
*
Rindu bangun jam tiga pagi, karena ada sesuatu yang salah dengan cara dia napas.
Dia natap langit-langit, dan langit-langit itu nggak lagi keliatan kayak es. Lebih lembut, lebih pucat, warnanya kayak kulit boneka porselen yang lama disimpan di lemari.