Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #35

Kamar Ini yang Dia Butuhin Sekarang

Bagja berdiri lagi di depan cermin. Kali ini, bukan cuma ujung jarinya yang buram. Selama beberapa detik, seluruh pantulannya kabur, kayak sinyal TV yang ilang sinyal sepenuhnya, bukan cuma berkedip. Dia sendiri enggak sadar. Tapi aku sadar.

Aku ngitung. Aku udah nawarin, dan dia nolak. Enggak ada tawaran lain yang bisa aku pikirin sebelum dia beneran ilang.

Rindu udah ngambil separuh jatah usianya, karena dia keseringan minta tenggat waktu buat ngelakuin banyak hal. Dia pulang dengan tertatih-tatih, persendian kakinya kaku. Dan hari ini, sisa satu hari, sebelum Damba bener-bener lupa sama kakaknya. Rindu noleh ke jam di tangannya. Angkanya berkedip-kedip. Dia menunggu dua detik, lalu tiga, seperti menghitung sesuatu yang cuma dia sendiri yang tahu. Setelah itu, ibu jarinya menyentuh tombol kecil di samping jam.

Sekali.

Berhenti.

Dia menatap jarum yang mulai melambat.

"Nanti," gumamnya. "Nanti juga balik."

Dia memutar kenopnya lagi sampai jarum benar-benar diam. Waktu membeku. Rindu enggak bisa lakuin apa-apa selain nangis selama waktu berhenti.

Damba masih bisa aku jangkau, tapi hari ini dia takut buat keluar kamar. Dia ngunci diri di dalam sana dengan barang-barang yang terpental. Kamarnya kayak kapal pecah sekarang.

Makin lama, aku jadi makin takut mereka kayak penghuni-penghuni lain yang udah-udah, beneran nguap. Entah jadi abu, entah menyatu dengan material rumah ini.

Malam itu, aku berhenti nyari alasan kecil buat bergerak. Aku langsung ke yang besar.

*

Aku geser kamar Rindu.

Bukan badannya. Kamarnya sendiri, yang selama ini aku anggap tetap, aku ubah pelan-pelan sepanjang malam, sambil dia nangis. Wajahnya tenggelam di bantal.

Dinding es yang biasa dia tempelin tangannya sebelum tidur, aku ganti teksturnya, sedikit demi sedikit, jadi permukaan yang lebih lembut, lebih hangat, lebih mirip kamar boneka yang dulu aku tawarin dan dia tolak.

Aku enggak pindahin dia ke kamar lain. Aku pindahin kamar itu ke dia.

Aku tau ini beda dari geser cermin sesenti atau sepuluh senti. Aku tau ini beda dari ayunan yang goyang dikit. Ini bukan lagi hal kecil yang bisa aku bela ke diriku sendiri dengan alasan "cuma buat nenangin."

Ini nuker kekuatan. Kekuatan yang dia butuhin saat ini.

*

Di saat yang sama, di ujung lorong yang lain, aku juga udah gerak ke arah Damba, lebih jauh dari sekadar goyangin ayunan buat nenangin mimpi buruk.

Aku bikin kamar ayunannya bergoyang lagi. Setiap goyangan, aku ambil sedikit dari kesadarannya. Dia harus tahu siapa yang dia takutin waktu dia marah.

Aku enggak nunggu dia minta. Aku enggak nunggu dia nyerahin apa pun.

Aku cuma ambil.

*

Rindu bangun jam tiga pagi, karena ada sesuatu yang salah dengan cara dia napas.

Bukan cuma napasnya. Dadanya kerasa aneh, kayak ada sesuatu ditarik keluar paksa dari dalem, cepet, enggak sempet dia tahan. Sensasinya mirip sama rasa waktu dia dulu coba bekukan waktu dan gagal separuh jalan—tapi ini kebalikannya. Ini tarikan yang datang dari luar, bukan dari dalam dirinya sendiri.

Dia nyari detik-detik di sekitarnya, kebiasaan lama, mastiin kekuatan itu masih ada, siap dipanggil kalau perlu.

Kosong. Tangannya langsung mencari jam di samping bantal.

Dia ngeraba permukaannya sebentar, mastiin benda itu masih ada, lalu ngelihat angkanya. Tiga lewat tujuh belas.

Dia natap sekali lagi.

Tiga lewat tujuh belas.

Dia narik napas.

"Masih ada waktu," bisiknya.

Dia muterin tombol kecilnya sedikit, kayak kebiasaan yang sekarang bahkan dia lakukan sebelum benar-benar sadar. Angkanya berubah, mundur satu menit.

Tiga lewat enam belas.

Rindu natap lama. "Nanti juga balik."

Dia sendiri enggak tahu lagi bicara soal apa.

Dia natap langit-langit, dan langit-langit itu enggak lagi keliatan kayak es. Lebih lembut, lebih pucat, warnanya kayak kulit boneka porselen yang lama disimpan di lemari.

"Ini..." Dia duduk, jantungnya deg-degan. "Ini kamar siapa?"

Dia turun dari kasur, jalan ke jendela dan natap pantulan wajahnya sendiri. Enggak ada yang berubah di wajah itu. Tapi begitu dia buka mulut, coba bilang "aku baik-baik aja," suaranya keluar dengan getar yang enggak pernah ada sebelumnya.

Lihat selengkapnya