Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #20

Satu-Satunya Benda di Rumah Ini yang Menolak Berbohong

Malam-malam sesudahnya, aku merhatiin sesuatu yang beda dari Bagja. Dia jadi sering berdiri lama di kamar mandi, di depan cermin yang bukan buatanku.

Cermin itu jarang aku ceritakan. Dia bukan cermin biasa yang aku ciptakan dari udara kosong kayak barang-barang lain di rumahku. Cermin itu dibawa masuk dari luar, nyempil di antara tiga kardus dan satu koper malam pertama mereka datang, saking kecilnya sampai aku hampir enggak sadar kehadirannya.

Belakangan aku tahu, cermin itu punya Kenanga. Satu-satunya barang dari rumah lama yang enggak sengaja terselamatkan, terselip di dasar koper karena Rindu buru-buru masukin apa aja malam penyitaan itu.

Karena benda itu enggak pernah jadi bagian dari diriku, dia enggak tunduk sama hukumku. Semua yang aku bikin, dinding, kamar, udara yang aku alirkan, lahir dari aku, jadi bisa aku atur sesuka hati. Cermin itu punya sejarahnya sendiri, jauh dari jangkauanku, dari tangan yang udah enggak ada lagi.

Mungkin itu sebabnya dia cuma memantulkan apa yang benar-benar ada. Dia enggak minjem apa pun dariku, jadi enggak berutang apa pun buat nurut sama aturanku.

Ironis, ya. Satu-satunya benda di rumahku yang menolak berbohong justru satu-satunya yang bukan milikku.

Aku baru ngerti kenapa, belakangan, lewat cerita-cerita kecil yang bocor dari kepala Bagja tiap kali dia berdiri di depannya. Cermin itu bukan cuma pernah dipegang Kenanga. Dia lebih tua dari itu, dulunya punya ibu Kenanga, perempuan yang kehilangan suaminya waktu Kenanga masih kecil dan enggak pernah nyari cara buat "berhenti sakit."

Dia simpan cermin itu sepanjang hidupnya. Dandan di depannya tiap pagi, kadang ngomong sendiri ke pantulannya, kayak cermin itu satu-satunya saksi yang boleh liat dia nangis tanpa harus dia jelasin ke siapa-siapa. Enggak pernah dia nukerin kesedihan itu sama apa pun. Diwariskan ke Kenanga, dan Kenanga sendiri selalu nyimpennya di meja rias, bukan di lemari, kayak dia juga butuh sesuatu yang jujur ngeliatin dia balik.

Itulah bedanya. Semua yang lain di rumahku lahir dari orang yang nyerahin lukanya demi berhenti ngerasa. Cermin itu lahir dari kebalikannya: dua generasi perempuan yang milih mendekap sakitnya sendiri, tanpa sekali pun nawar-nawar buat ngurangin bebannya.

Aku enggak bisa ngambil luka dari sana. Cermin itu enggak pernah sekali pun diserahkan.

*

Sebelum mandi, Bagja ngebuka laci buat nyari pisau cukur. Janggutnya udah kepanjangan. Tapi, dia malah nemuin gunting tua. Refleks dia bilang, "Sayang... guntingnya ketemu."

Lalu dia berhenti.

Sepi.

Bagja enggak tahu kenapa dia ngucapin kalimat itu. Dia bahkan lupa siapa yang sering kehilangan gunting.

Dia segera ke kamar mandi. Kamar mandi dengan sekat-sekat transparan yang perekatnya sedikit dia perbaiki.

Aku biasanya ngehindarin kamar mandi itu waktu Bagja pakai. Tapi malam itu aku kebetulan lagi di sana, dalam perjalanan matiin lampu-lampu seperti biasa, waktu aku lihat dia berdiri diam di depan cermin, cukup lama buat aku ikut memperhatikan.

Wajahnya masih basah bekas cuci muka. Janggutnya dia biarin tebal karena belum nemu pisau cukur. Dia natap pantulannya kayak orang yang mencoba mengenali seseorang yang wajahnya familiar tapi namanya lupa.

"Ayah! Udah makan malam belum?" Rindu manggil dari tangga mezzanine. "Jangan kelamaan, ya, mandinya."

"Nanti nyusul," seru Bagja, senyum kecil ke pantulan.

Rindu berlalu. Bagja enggak pergi. Dia natap cerminnya lagi.

Aku ikut natap, dengerin detak jantungnya. Dan aku sadar sesuatu: aku enggak bisa baca pikirannya secepat biasanya. Cermin itu bikin sesuatu di dalam dirinya jadi lebih jujur, dengan cara yang bahkan aku enggak bisa ikut campur.

Lihat selengkapnya