Ada satu benda di sini yang jarang aku ceritakan. Cermin di kamar mandi Bagja.
Dia bukan cermin biasa yang aku ciptakan dari udara kosong kayak barang-barang lain di rumahku. Cermin itu dibawa masuk dari luar, nyempil di antara tiga kardus dan satu koper malam pertama mereka datang, saking kecilnya sampai aku hampir nggak sadar kehadirannya.
Belakangan aku tahu, cermin itu punya Kenanga. Satu-satunya barang dari rumah lama yang nggak sengaja terselamatkan, terselip di dasar koper karena Rindu buru-buru masukin apa aja malam penyitaan itu.
Karena benda itu nggak pernah jadi bagian dari diriku, dia nggak tunduk sama hukumku. Semua yang aku bikin, dinding, kamar, udara yang aku alirkan, lahir dari aku, jadi bisa aku atur sesuka hati. Cermin itu punya sejarahnya sendiri, jauh dari jangkauanku, dari tangan yang udah nggak ada lagi.
Mungkin itu sebabnya dia cuma memantulkan apa yang benar-benar ada. Dia nggak minjem apa pun dariku, jadi nggak berutang apa pun buat nurut sama aturanku.
Ironis, ya. Satu-satunya benda di rumahku yang menolak berbohong justru satu-satunya yang bukan milikku.
*
Aku baru ngerti kenapa, belakangan, lewat cerita-cerita kecil yang bocor dari kepala Bagja tiap kali dia berdiri di depannya. Cermin itu bukan cuma pernah dipegang Kenanga. Dia lebih tua dari itu, dulunya punya ibu Kenanga, perempuan yang kehilangan suaminya waktu Kenanga masih kecil dan nggak pernah nyari cara buat "berhenti sakit."
Dia simpan cermin itu sepanjang hidupnya. Dandan di depannya tiap pagi, kadang ngomong sendiri ke pantulannya, kayak cermin itu satu-satunya saksi yang boleh liat dia nangis tanpa harus dia jelasin ke siapa-siapa. Nggak pernah dia nukerin kesedihan itu sama apa pun. Diwariskan ke Kenanga, dan Kenanga sendiri selalu nyimpennya di meja rias, bukan di lemari, kayak dia juga butuh sesuatu yang jujur ngeliatin dia balik.
Itulah bedanya. Semua yang lain di rumahku lahir dari orang yang nyerahin lukanya demi berhenti ngerasa. Cermin itu lahir dari kebalikannya: dua generasi perempuan yang milih mendekap sakitnya sendiri, tanpa sekali pun nawar-nawar buat ngurangin bebannya.
Aku nggak bisa ngambil luka dari sana. Cermin itu nggak pernah sekali pun diserahkan.
*
Sebelum mandi, Bagja ngebuka laci buat nyari pisau cukur. Janggutnya udah kepanjangan. Tapi, dia malah nemuin gunting tua. Refleks dia bilang, "Sayang... guntingnya ketemu." Lalu dia berhenti.
Sepi.
Bagja nggak tahu kenapa dia ngucapin kalimat itu. Dia bahkan lupa siapa yang sering kehilangan gunting.