Mobil pickup Pak Anto belok tajam ke arah IGD. Remnya berdecit waktu berhenti di depan pintu kaca yang otomatis kebuka. Bagja gendong Damba turun duluan. Langkahnya oleng tapi enggak berhenti, teriak minta tolong sebelum kakinya bener-bener nyampe di depan meja perawat.
Aku enggak bisa ngikutin sejauh itu. Jangkauanku berhenti jauh sebelum rumah sakit.
Rindu yang cerita ke aku belakangan, sepotong-sepotong, waktu dia sempet balik sebentar buat ambil beberapa barang.
Dokter jaga malam itu meriksa telinga Damba cepat, pake alat kecil yang nyala di ujungnya, terus mukanya berubah serius. Ada robekan yang berbeda di kedua gendang telinganya, katanya. Bukan luka baru. Luka lama yang keburu-buru diperiksa, dan malam ini akhirnya pecah beneran, mungkin gara-gara tekanan yang kelewat besar, entah dari mana asalnya.
"Ini bukan kejadian sekali, Pak," kata dokter itu, natap Bagja. "Ini kayak ada trauma akustik yang udah lama, terus enggak pernah diperiksa. Anak Bapak pernah kena suara yang kenceng banget, dari deket? Ledakan, kembang api, apa gitu?"
Bagja enggak tau harus jawab apa. Dia baru sekarang denger, dari mulut orang lain, bahwa anaknya udah lama nyimpen rasa sakit.
Rindu, yang berdiri di sampingnya, ngerasa dadanya remuk lebih parah daripada waktu dia sendiri kepental nabrak dinding. Dia inget insiden ayunan. Dia inget dia teriak dua kali, dan Damba enggak pernah nengok.