Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #43

Ibu Kita Namanya Kenanga

Aku ngeliatin mereka bertiga, kabut spiral yang jadi wujudku diam nggak bergerak di antara rak-rak.

Tiga permintaan yang tadinya berdiri di ruangan ini, saling bertabrakan, malam ini nggak ada satu pun yang aku kabulin. Bukan karena aku nolak. Tapi karena dalam hitungan menit, mereka berhenti percaya sama alasan mereka sendiri, digantiin sama satu kebenaran yang lebih sederhana:

Mereka nggak mau saling lupa. Mereka cuma mau berhenti sakit sendirian.

Dan itu, ternyata, dari awal, nggak pernah butuh aku.

*

"Ibu kita namanya Kenanga,” sebut Rindu, berharap kata-kata itu bisa ngembaliin bersih ingatan Damba.

Damba tadi terlalu besar ngerahin tenaga buat kekuatannya. Jadi, beberapa potongan ingatan di kepalanya terangkat. Dia terkulai di pangkuan Rindu.

Damba nggak jawab. Tapi matanya kebuka. Sedikit.

"Ibu kita suka masak sup kacang merah. Rasanya nggak pernah pas, asin sebelah, manis sebelah, dan itu bukan karena dia nggak bisa masak. Itu caranya. Biar Ayah selalu nyari-nyari kekurangannya."

Damba natap kakaknya. Bukan natap kosong kayak biasanya kalau ditanya soal Ibu. Ini natap orang yang lagi coba nyocokin sesuatu, kayak liat foto yang samar-samar mirip seseorang yang pernah dia kenal, tapi belum yakin.

"Ibu nyanyi kalau lagi nyuci piring. Sumbang. Ayah bilang itu suara paling merdu yang pernah dia denger. Ayah bohong soal itu. Tapi bohongnya jujur."

Aku diam. Aku nggak lagi coba masukin apa-apa ke kepala Damba. Aku cuma berdiri di sana, di dalam dindingku sendiri, nunggu, karena aku nggak tahu lagi harus ngapain.

"Ibu meninggal empat tahun lalu," Rindu lanjut, dan kali ini suaranya pecah, tapi dia nggak berhenti. "Dan itu sakit banget, Damba. Sakit banget, sampai kita semua lari ke sini biar nggak usah ngerasainnya lagi."

Bagja berlutut dengerin anaknya ngomong gitu. Rambutnya berantakan. Kaosnya kedodoran di tubuhnya yang sekarang udah tipis. Satu tangannya nyentuh toples-toples yang langsung berjatuhan. Sewaktu dia mau naruh toples lagi, toples itu kerasa berat banget di tangannya.

Dan tepat di detik itu, sesuatu lewat. Bukan dariku. Aku bisa ngerasain itu dengan jelas, karena aku nggak lagi ngirim apa-apa ke ruangan itu, seluruh perhatianku ada di Damba.

Bau sabun cuci piring. Samar, cuma sepersekian detik, campur minyak kayu putih.

Bagja berhenti di tengah langkahnya. Satu tangannya naik, nyentuh daun telinganya sendiri, kayak orang yang lagi nyoba nangkep suara yang keburu lewat sebelum sempat dia dengar penuh.

Lihat selengkapnya