Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #40

Satu Rumah Petak Kecil "Tanpa Harga" Itu Nolong Mereka

Malam itu, di kamarnya yang dipenuhi bola, Gugu mimpi. Di mimpi, ada anak laki-laki yang nggak punya wajah, terbang di atas rumah kertas. Anak itu nggak ngomong. Tapi dia tunjuk ke bawah. Ke rumah keluarga Sertamulia yang sudah hancur dan kosong. Ke jendela yang pernah menyala. Waktu itu, Gugu bangun. Punggungnya keringatan. Dia buka jendela. Nggak ada apa-apa. Cuma angin. Dia ngelap ilernya sendiri di pipi.

Tapi di tangannya, tanpa dia sadar: kertas rumah yang sudah dilipat ulang. Sayapnya simetris. Lebih baik dari yang di saku.

Dia nggak inget kenapa. Tapi dia simpen. Di laci. Di bawah baju. Tempat yang aman.

"Ikaga nggak diajak makan, Ma?" tanya Origa.

"Dia udah makan sendiri dari tadi," jawab Bu Sukama. "Tuh, di pojok. Kebiasaan."

Ikaga ngemut jari-jarinya yang udah beku kayak ngemut es krim. Bibirnya biru. Wajahnya pucat dan basah, mirip gelas berembun. Rambutnya udah kayak stalaktit di kutub utara. Tubuhnya menciut, ketekuk. Posisi orang jompo yang lupa caranya berdiri.

Nggak ada yang heran sama kebiasaan Ikaga.

*

Di trotoar yang sama persis waktu pertama kali kebingungan, keluarga itu duduk lagi. Kali ini di atas terpal. Mereka makan cuanki bareng Pak Yono, melipir bentar. Mobil pickup mereka bannya kempes. Satu koper dan dua kardus bersandar di belakang mobil yang tanpa atap itu.

Pak Yono jongkok di dekat ban, meriksa pentilnya dua kali. Lalu tiga kali. "Saya catat dulu," gumamnya sambil buka buku saku. "Ban kempes. Koper satu. Kardus dua. Anak dua. Orang dewasa..." Dia berhenti, ngelirik Bagja yang terlalu kurus. "...satu."

"Pak, saya bukan barang," kata Bagja sambil mendelik.

Pak Yono natap catatannya. "Biar nggak ada yang kelupaan aja."

Damba nunjuk ban. Rindu, yang duduk di sebelahnya, otomatis ngedeketin wajah biar Damba bisa liat dia ngomong.

"Namanyaa… namanya APAA?" tanya Damba, natap mulut Rindu yang ngulang pertanyaan itu sebelum jawab.

"BAN." Rindu gerakin tangan ngebentuk lingkaran.

Pak Yono bingung. "Ban, ya, ban."

Damba menggeleng. "BUKKAAN…" Dia mandang ban itu serius. "Namanyaa… PINCANGG."

Damba mulai inget, sedikit-sedikit, lewat cerita-cerita Rindu yang diulang malam itu dan malam-malam berikutnya, selalu deket-deket, selalu ngomong pelan biar Damba bisa baca bibirnya, kadang dibantu tangan Damba yang ditempelin ke leher Rindu buat ngerasain getarannya, kadang dibantu bahasa isyarat.

Lihat selengkapnya