Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #44

Rumah Tanpa Harga Itu Nolong Mereka

Rindu diam bentar di depan cermin, ngelihatin garis-garis yang dulu dia hafal urutannya.

"Nggak nambah," gumam Damba, lebih ke dirinya sendiri.

"Lipatan ini…" Bagja nyentuh pelan sudut mata Rindu. "Sejak..." Dia nggak ngelanjutin, tapi Rindu tahu maksudnya.

Tangannya sendiri naik, nyentuh tempat yang sama. Uban di pelipisnya masih ada, nggak akan hilang. Tapi nggak ada helai baru yang tumbuh menggantikan yang lama.

Dia nggak sembuh. Dia cuma berhenti tua lebih cepat.

*

Aku nggak bisa nahan mereka kayak dulu. Rumah kayak aku cuma hidup dari penghuni yang bersedia dititipkan lelahnya. Begitu satu keluarga milih bawa balik semua yang tadinya mereka titipkan, aku nggak punya hak nahan.

Bagja meluk Rindu dan Damba erat-erat.

"Maafin Ayah," katanya dengan suara pecah. Dia benar-benar berduka, bukan sedih di permukaan yang selama ini aku poles jadi ketenangan palsu.

"Kita pulang aja, Yah. Ke manapun. Asal bertiga."

Mereka lanjut packing dibantu Pak Yono.

Rindu yang beresin kamar Damba. Di laci meja belajar, di bawah tumpukan buku PR, dia nemuin kertas terlipat kecil, kusut di pinggir, kayak sering dibuka-tutup diam-diam.

Gambar rumah kotak, atap segitiga. Dua sosok gandengan tangan, gigi kotak-kotak. Damba dan dirinya sendiri. Satu sosok lagi di sebelah kiri, rambut panjang terurai, gaun sederhana, berdiri agak terpisah. Wajahnya cuma oval polos. Nggak ada mata, nggak ada mulut.

Rindu nggak perlu nanya siapa itu.

Dia lipat lagi kertas itu, pelan-pelan, dan masukin ke saku bajunya sendiri, bukan balik ke laci.

Aku ngeliatin dari dinding kamar, agak syok. Gambar itu udah ada berhari-hari, dan aku baru sadar keberadaannya malam yang sama keluarga ini mutusin pergi.

Aku buka pintu sendiri. Kali ini bukan buat mengundang. Buat melepas.

*

Mereka berdiri di depan pagar, natap balik ke arahku. Aku pengen bilang sesuatu, minta maaf mungkin. Tapi penjelasan apa pun nggak akan ngembaliin apa yang udah aku ambil.

Aku pernah bilang, ngembaliin satu ingatan bisa bikin aku sekarat. Aku nggak bohong. Cuma nggak bilang seberapa.

Aroma sayur lodeh keluar gampang, kayak napas yang akhirnya dilepas. Retakan tipis muncul di langit-langit, di atas rak nomor 108.

Lihat selengkapnya