Beberapa malam kemudian, aku berdiri lebih terstruktur. Satu-satunya cahaya di ujung gang yang mati ini, menunggu. Karena menunggu adalah satu-satunya hal yang benar-benar aku tahu caranya.
Jauh di ujung gang lain, gang yang bukan gangku, yang nggak bisa aku jangkau, aku melihat sesuatu berkelip sebentar. Cahaya kecil, hangat, muncul di antara bangunan-bangunan yang sebelumnya gelap.
Dulu, kalau aku mau, aku bisa coba nyampe ke sana. Ngirim udara, numpang lewat celah angin, ikut nyampur ke percakapan orang-orang yang lewat di dekatnya, kayak yang aku lakuin ke Toni, ke Bu Wening, ke Pak Yono.
Sekarang aku cuma bisa berdiri di sini, natap dari jauh, kayak orang tua yang matanya udah nggak sanggup baca plang jalan dari seberang. Bagian dari diriku yang dulu ikut "hadir" di tempat-tempat jauh itu, ikut lepas malam itu, bareng toples-toples yang aku buka satu-satu. Aku nggak tau apa itu bakal tumbuh lagi. Ratusan tahun aku hidup, dan aku belum pernah punya alasan buat percaya sesuatu yang udah ilang dari diriku bisa tumbuh balik.
Dan di depan cahaya itu, samar, ada bayangan orang-orang. Sebuah keluarga, kelihatannya, berdiri ragu di depan sebuah pagar yang, dari jauh, entah kenapa, bentuknya terasa familiar. Mereka berhenti sebentar. Salah satu dari mereka, yang paling kecil, menggenggam erat tangan yang lebih besar di sampingnya.
Mereka kelihatan capek. Capek yang bukan capek biasa.