Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #30

Denah yang Nggak Bisa Ada Nama Anehnya

Bagja bangun lebih pagi. Enggak ada yang tau.

Dia duduk di meja dapur, sebelum siapa pun bangun, dengan kertas nota belanjaan yang dia pakai buat gambar-gambar isengnya. Tapi pagi ini, dia enggak langsung gambar kotak-kotak kamar dengan nama-nama aneh. Dia natap kertas itu lama, terus mulai ngukur, beneran ngukur, pake langkah kakinya sendiri buat estimasi panjang lorong rumah sementara mereka.

Delapan langkah panjang lorong. Tiga langkah lebar kamar mandi. Dia tulis angka-angka itu di pinggir kertas, bukan nama ruangan yang aneh-aneh.

Rak sepatu di teras udah miring dari dulu, kayunya lapuk sebelah. Dia gambar rak baru, lebih pendek, biar enggak makan tempat di lorong sempit. Engsel pintu kamar Damba yang suka macet, dia gambar posisi baru buat pasang engsel tambahan. Talang air yang bocor di atap dapur, dia gambar jalur pembuangan yang lebih pendek, lebih murah bahannya, cukup pake paralon bekas yang masih ada di gudang belakang.

Enggak ada satu pun ruangan yang dia kasih nama aneh. Enggak ada "kamar buat marah sebentar terus lupa". Cuma "rak sepatu", "engsel pintu D", "talang dapur", ditulis kecil, jelas, kayak orang yang beneran mau ngerjain, bukan orang yang lagi mimpi.

Dia natap gambar itu lama sesudah selesai. Bukan gambar besar. Bukan rumah impian yang punya halaman luas dan pohon mangga. Cuma tiga perbaikan kecil buat rumah yang bahkan bukan rumah mereka sendiri.

“Ini bisa segera dibangun,” katanya lirih. Besok. Kalau dia mau. Bahkan hari ini juga bisa. Bisa dia mulai sebelum berangkat kerja.

Dia belum tunjukin gambar itu ke siapa-siapa. Tadinya, dia pengen ngerjain, baru bilang. Biar enggak ada yang perlu percaya sama janji sebelum liat hasilnya.

Lihat selengkapnya