Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #42

"Bukan Buat Kita," kata Pak Yono dan Bu Wening

Beberapa hari sesudah keluarga itu pergi, Bagja balik ke toko buat pamit sekaligus terima kasih ke Pak Anto dan tim gudang, karena dia dapat kerjaan baru di tempat lain, lebih deket ke rumah sementara yang sekarang mereka tinggalin.

Pak Yono ada di situ, bantuin angkat kardus terakhir Bagja ke motor.

"Makasih ya, Pak, waktu itu," kata Bagja, agak canggung, sambil beresin tali di jok belakang. "Kalau malam itu Bapak nggak lewat situ, saya nggak tau harus gimana."

"Ah, udahlah, Pak. Nggak usah dibahas lagi." Pak Yono nyengir, nepuk pundak Bagja sekali. "Untung saya lewat sana malam itu. Kebetulan aja."

Bagja natap tangan Pak Yono yang lagi ngiket tali di jok belakang motor. Ada bekas luka kecil di situ, garis tipis yang udah mengering jadi kulit lebih gelap, di pangkal ibu jari.

"Pak, tangan Bapak kenapa?" tanya Bagja, nunjuk bekas luka itu.

Pak Yono ngelirik sekilas. "Oh, ini? Jatoh dari motor. Beberapa bulan lalu, kalo enggak salah. Di gang deket sini juga." Dia ketawa terkekeh-kekeh, enggak inget detailnya. "Lupa juga kenapa jatoh. Untung enggak parah."

Bagja diem sebentar, natap bekas luka itu kelamaan. Dia enggak bisa jelasin kenapa dadanya kerasa berat ngeliat luka sekecil itu.

"Untunglah," ulang Bagja, pelan.

Bagja enggak akan pernah tau, dan aku enggak akan pernah bisa kasih tau dia, bahwa luka kecil di tangan Pak Yono itu ada karena aku. Bahwa "untung" yang mereka ucapin dua kali berturut-turut memang keberuntungan. Ada tumpukan pasir di tempat yang tepat, di malam paling berbahaya.

Aku enggak bisa nebus itu. Aku enggak bisa bikin Bagja tau harus berterima kasih ke Pak Yono lebih dari yang dia kira. Yang bisa aku lakuin cuma nyaksiin: dua orang yang enggak pernah tau separah apa taruhannya malam itu, berdiri di depan gudang, ketawa bareng.

Pak Yono juga enggak butuh tau. Dia cuma butuh tetap hidup, tetap bisa nepuk pundak temannya, tetap bisa pulang ke rumah petak kecilnya.

"Bukan kebetulan doang Bapak lewat," kata Bagja sambil senyum-senyum, enggak yakin bisa muji orang dengan benar. "Bapak orang baik."

Pak Yono ketawa, agak salah tingkah. "Ya, gitulah." Dia berhenti sebentar, tangannya masuk ke saku belakang, nyari sesuatu yang biasanya ada di situ. Kosong. Buku saku yang dulu selalu dia bawa ke mana-mana udah nggak ada di kantong bajunya lagi.

Dia diem sesaat, kayak lagi nyoba inget kenapa tangannya tiba-tiba nyari benda itu. Sesuatu yang samar muncul. Tapi detailnya udah kabur, kayak halaman yang kebasahan terus keringnya enggak rata.

"Pak Yono?" Bagja natap dia, nunggu.

"Eh—" Pak Yono geleng kepala, senyum lagi, kali ini lebih sadar. "Saya inget saya dulu penasaran banget sama Bapak. Nyatet macem-macem, tapi..." Dia diem sebentar, natap Bagja yang berdiri di depannya, sehat, capek tapi hidup, anak-anaknya baik-baik aja. "...kayaknya yang penting Bapak sehat.”

Pak Yono nyengir. Dia nepuk pundak Bagja satu kali. "Lagian, kalau saya teliti terus, nanti malah saya yang enggak bisa temenan sama Bapak dengan tenang. Mendingan saya inget Bapak sebagai temen kerja yang baik, bukan sebagai…”

“Sebagai?”

Pak Yono nyengir lagi. “Sebagai apa pun itu… yang saya coba selidikin."

Bagja natap Pak Yono, dalam-dalam. Ada rasa hangat yang enggak bisa dia jelasin, tau temannya ini sengaja milih berhenti, bukan sekadar lupa.

"Makasih, Pak," kata Bagja, pelan.

"Buat apa?"

"Buat selalu perhatian."

Pak Yono ketawa, agak enggak enak dipuji. "Ah, udahlah. Zaman sekarang, nggak usah mikir aneh-aneh. Nanti stres. Bapak juga jangan stres. Semoga di kerjaan baru lebih enak. Saya balik kerja dulu."

Bagja jalan pelan ninggalin gudang itu. Motornya belok di ujung jalan. Pak Yono berdiri sebentar natap punggungnya sampai ilang dari pandangan, sebelum balik masuk ngelanjutin kerjaan sore itu.

Lihat selengkapnya