"Ma, ada sesuatu yang Mama mau omongin sama aku?" Origa ngomong hati-hati, kayak nginjek lantai yang rapuh.
“Soal apa?”
“Soal kenapa Mama nangis akhir-akhir ini?” tanya Origa, langsung nodong. Padahal, Bu Sukama udah sebisa mungkin bikin wajahnya kering, tanpa air mata. Kayaknya suara tangis dia enggak bisa ditutupin. “Aku enggak tau apa yang bikin Mama sedih. Kalau lagi ngerasain sedih, cerita sama aku. Kalau lagi ngerasain sakit, juga cerita sama aku. Biar aku tau. Itu cara terbaik buat—”
“Buat apa?” Bu Sukama ketawa. Ketawa yang nadanya enggak pernah berubah, terlalu rata buat kedengeran kayak ketawa beneran. Dia nuangin teh ke gelas-gelas mungil buat tikus-tikus yang sering dia ajak ngobrol. "Sakit apa?"
Origa enggak jawab. Kalau dia mulai jelasin, dia enggak akan bisa berhenti, dan penjelasan enggak akan nyampe ke mana pun.
Dia milih buat nanya sama aku.
*
"Rumemo, kamu masih mau jadi temen aku, kan?” Origa manggil aku setelah sekian lama. Dia berdiri di ambang tangga ruang bawah tanah, enggak turun sepenuhnya. "Aku bisa jadi apa pun. Kamu tau itu. Aku pengen bahagiain Mama. Tapi aku enggak tau caranya. Aku harus jadi apa sekarang?”
Debu-debu menari di sekelilingku saat aku denger pertanyaan Origa.
"Temen?" Aku ulang kata itu, entah kenapa kedengeran kayak bunyi kembang api di telingaku sendiri. "Iya. Iya, tentu aja, aku—maksudku, kamu enggak perlu nanya itu, aku enggak akan ke mana-mana, aku rumah, aku enggak bisa ke mana-mana juga sebenernya, tapi bukan itu poinnya, poinnya aku enggak akan berhenti jadi—oke, aku ngelantur. Kamu bilang apa tadi? Kamu harus jadi apa?"
"Mama selalu nyebut nama Papa. Papa yang dulu. Tapi, aku enggak tau kayak gimana dia sebenernya, gimana caranya dia jalan. Apa yang dia bilang tiap pagi, tiap Mama ngomel, tiap—" Dia berhenti sendiri. "Aku cuma inget dia dari cara Mama cerita, dan Mama udah lama berhenti cerita."
"Kamu mau toples Mama kamu," kataku, "yang ada wajah Papa—eh, tunggu, bukan yang itu, itu udah aku kasih dulu ke Mama kamu sendiri, aku pikir kamu tau soal itu, atau enggak tau ya, ada terlalu banyak rahasia buat diinget urutannya—maksudku, kamu enggak minta toples itu, kamu minta yang lain, kan? Yang isinya bukan wajahnya doang. Yang isinya cara dia jalan, cara dia ngomong pagi-pagi, hal-hal kecil kayak gitu." Aku berhenti sendiri, sadar aku dari tadi belom nanya yang bener. "Itu, kan, maksud kamu?"
Origa ngangguk.
Aku bisa nolak. Aku juga bisa pura-pura enggak ngerti kenapa itu ide buruk. Tapi aku udah liat Origa nyoba jujur tiga kali, dan tiga kali itu enggak nyampe ke mana pun. Kalau aku kasih ini, aku ngasih dia amunisi buat dia jadi orang lain di depan ibunya sendiri, dan aku enggak sepenuhnya yakin itu bakal nyembuhin.
*
Dia belajar dari situ. Cara berdiri yang agak membungkuk di bahu kiri. Cara narik napas sebelum ngomong, kayak orang yang mikirin kalimatnya dua kali sebelum keluar. Kalimat-kalimat kecil yang dulu sering diulang: "jangan buru-buru, nanti juga sampai," "kamu itu mirip Mama kalau lagi ngambek." Origa enggak pernah setekun ini belajar apa pun, bahkan pas ngelipat kertas jadi burung yang sayapnya selalu dia benerin berkali-kali sampai simetris.
Kekuatannya sendiri, yang biasanya keluar spontan tiap dia gugup atau kepepet, malam itu dia pake sengaja, pelan-pelan, kayak orang lagi pasang kostum yang harus pas di tiap jahitan. Bentuk badan diubah dikit. Suara diturunin.
Malam yang dia pilih, dia dateng ke teras, jadi orang yang bahkan aku sendiri enggak pernah liat wujud aslinya—cuma dari fragmen yang aku kasih, dan dari cerita-cerita yang Origa kumpulin sendiri selama bertahun-tahun jadi anak yang paling sering nanya "Papa dulu kayak apa."
Bu Sukama lagi duduk sendirian, ngecat kuku, waktu Origa berdiri di ambang pintu.
Dia ngangkat wajah.
"Nang," panggilnya.
"...Iya, Sayang."
Aku nunggu dia bilang berhenti. Dia enggak bilang apa-apa dulu, lama, terus:
"Duduk."
Origa duduk.
"Jangan di situ."
Dia pindah.