Origa nyoba tiga kali sebelum akhirnya berhasil.
Percobaan pertama, dia ngajak ibunya duduk di teras, malam-malam, waktu Gugu dan Ikaga udah tidur. Dia bilang, hati-hati, kayak nginjek lantai yang dia tau rapuh, "Ma, coba ucapin sesuatu buat aku."
"Ucapin apa?"
"Hm, tapi janji, ucapin bareng?”
“Iya, ucapin apa?”
“Aku siap nikmatin rasa sakitnya. Gitu."
Bu Sukama ketawa kecil, ketawa yang dari dulu nggak pernah berubah nadanya, terlalu rata buat kedengeran kayak ketawa beneran. "Kalimat aneh. Sakit apa?"
"Nggak apa-apa, Ma, nggak apa-apa," kata Origa, dan dia berhenti di situ, karena dia sendiri ngerasa kalimat itu terlalu berat buat dijelasin ke orang yang bahkan udah lupa dia lagi kehilangan apa. “Ucapin dulu aja, pelan-pelan, sambil inget-inget… kira-kira apa aja yang udah Mama lupa...”
Aku dengerin ini dari balik pembatas yang dulu aku rapetin sendiri, biar Rindu sama Origa nggak gampang ketemu. Pembatas itu masih ada, meski udah nggak aku jagain serapi dulu. Aku nggak tau kenapa aku masih ngebiarin diriku dengerin ini. Mungkin karena aku penasaran, sama kayak Origa, apa ada cara lain buat sesuatu ini berakhir selain kayak yang udah-udah.
Percobaan kedua, seminggu kemudian, Origa ganti taktik. Dia nggak minta ibunya ngomong. Dia yang ngomong duluan.
"Ma, aku inget. Aku inget… nama Bapak."
Itu bohong. Origa sendiri udah lama lupa nama itu, sama kayak Gugu lupa, sama kayak Bu Sukama sendiri. Tapi dia ngucapin itu, keras, deket kuping ibunya, berharap ada sesuatu yang kesenggol.
Bu Sukama diem. Matanya, sekilas, nggak fokus, kayak orang yang lagi coba baca tulisan kecil dari jarak yang terlalu jauh.
"Nama... siapa?" tanyanya, akhirnya, dan suaranya nggak sepenuhnya rata lagi. Ada retakan tipis di situ, sepersekian detik, sebelum getar khasnya balik nutupin.
"Nggak apa-apa, Ma," kata Origa, cepat, karena dia takut, kalau dipaksa lebih jauh, ibunya bakal make getar itu ke dirinya sendiri lagi, nyuruh dirinya sendiri buat tenang, kayak kebiasaan yang udah nggak lagi dia sadarin.
Ada retakan kecil-kecil di dindingku, nggak terlalu keliatan. Rak Bu Sukama, di ruang bawah tanah, satu toples paling depan, yang cahayanya udah lama redup dan nggak pernah berubah, malam itu berkedip. Cuma sekali.
Percobaan ketiga, Origa nggak ngomong apa-apa dulu. Dia cuma duduk di samping ibunya, lama, sambil ngelipat kertas, kayak biasa. Dia sengaja bikin lipatan yang gagal terus-terusan, sayapnya nggak simetris, terlalu kaku di ujung, sampai akhirnya dia lempar kertas itu, kesel, ke lantai.
"Kenapa?" tanya Bu Sukama, nengok.
"Nggak bisa bikin yang bener," kata Origa, dan kali ini dia nggak nutupin nada kesalnya. "Aku capek, Ma. Capek nggak bisa jadi bener… Mama nggak capek kayak gini?”
Bu Sukama diem lama. Dia diem sebelum ngomong sesuatu yang nenangin.
"Mama juga," katanya pelan, dan suaranya keluar tanpa getar sama sekali. Datar, tapi nggak dibuat-buat. "Mama juga pengen bener, Origa."
Origa nggak jawab. Dia takut kalau dia jawab, momen itu bakal ilang secepat munculnya.
“Tapi kalau mau bener, kita harus ngaku kalau kita nggak bener.”
“Nggak bener…” ulang Bu Sukama dengan tatapan kosong.
"Ucapin kalimat itu lagi," bisik Origa, akhirnya, hati-hati. "Yang waktu itu aku minta."
Bu Sukama natap anaknya lama. Lalu, pelan, bareng-bareng, kayak orang yang belajar bahasa yang udah lama dia lupa cara ngomongnya:
"Aku... siap nikmatin rasa sakitnya."