Malam itu, sehabis Pak Yono pulang duluan dari gudang, Bagja masih di sana, beres-beres sendiri sebelum tutup toko. Ruangan sepi, cuma suara kipas angin tua yang muter nggak stabil.
Aku nggak sengaja ikut "hadir" di situ, numpang lewat udara yang keluar dari ventilasi gudang, kayak waktu aku dengerin dia dan Pak Yono ngobrol soal jin.
Bagja berdiri di antara tumpukan semen, dan entah kenapa, dia berhenti kerja. Berdiri diam. Terus, pelan-pelan, dia coba sesuatu yang aku sendiri nggak duga: dia coba inget, sengaja, dengan seluruh tenaga yang dia punya, wajah istrinya.
Bukan lewat cermin. Cermin itu di rumah, jauh dari sini. Ini cuma dia, sendirian, mata kepejam, di gudang yang bau semen.
Dia dapet sesuatu. Sekilas. Bentuk rambut. Cara berdiri. Tapi begitu dia coba ngedeketin detail itu lebih jauh, kayak orang niupin abu biar nyala jadi api, bentuknya malah kabur, mundur, ilang ke tempat yang nggak bisa dia jangkau lagi.
Dia coba lagi. Sama. Kabur lagi.